Selembar Surat Kontrak

Selembar Surat Kontrak
Episode 52


__ADS_3

"Tunggu, aku masih belum selesai bicara."Ucap Haikal memegang pergelangan tangan Yuri.


"Apa lagi?"Tanya Yuri dengan wajah malas seolah tidak ada semangat untuk mendengarkan apapun.


"Ini."Ucap Haikal memberikan selembar kertas.


"Kertas apa ini?"Tanya Yuri.


"Buka dan baca saja."Jawab Haikal dengan senyum tipis dan manis.


Seketika mata Yuri membelalak, dan menutup mulut nya.


"Lomba bakat mendesain dres model terbaru? Tingkat tinggi?"Ucap Yuri kaget setelah membaca isi kertas tersebut.


"Iya, aku sudah mendaftar kan mu untuk ikut, kau bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik."Ucap Haikal memegang kedua pundak Yuri dan menatap nya dalam-dalam.


"Apakah ini benar-benar nyata? Kau yang mendaftar kan aku untuk ini? Apa ini bukan mimpi?"Tanya Yuri dengan mata yang berkaca-kaca.


Cetak ... Haikal menjentikkan jari nya ke jidat Yuri dengan sedikit pelan.


"Awwww! Ini sakit!"Umpat Yuri memelototi Haikal.


"Itu artinya kau tidak bermimpi, jangan buang kesempatan emas ini, aku sudah membantu mu."Jelas Haikal mengacak-acak rambut Yuri.


"Kyaaa! Terima kasih banyak! Aku sangat senang!"Ucap Yuri menghambur ke pelukan Haikal.


"Aku juga sangat senang untuk mu."Ucap Haikal membalas pelukan Yuri tampa ragu.


Beberapa menit kemudian mereka pun melepaskan pelukan itu dan saling gugup satu sama lain.

__ADS_1


"Ah, aku, aku minta maaf, itu hanya reflek, aku sangat senang."Ucap Yuri dengan wajah polos nya.


"Terserah kau saja, sengaja juga boleh."Bisik Haikal dengan jahil nya.


"huh, sekarang apa yang harus aku lakukan?"Tanya Yuri yang tidak mengerti dengan lomba ini.


"Lukis lah design dress terbagus yang bisa kau lukis dan yang bisa kau pikir kan dalam otak mu, dua hari lagi ikut aku pergi ke tempat perlombaan itu."Jelas Haikal secara detail.


"Baik lah, aku akan melakukan yang terbaik, tapi apa aku boleh meminta satu permintaan kepada mu?"Tanya Yuri lagi.


"Silahkan, apa yang ingin kau beli atau kau butuh kan?"Tanya Haikal.


"Boleh kah sekali saja aku menjenguk ibu di rumah sakit?"Tanya Yuri mendongak menatap Haikal dengan penuh harapan.


Wajah cantik dan anggun itu tak mampu membuat Haikal mengatakan tidak, lagipula apa salah nya dia pergi ke sana untuk melihat atau meminta doa dari ibu nya, pikir Haikal.


"Astaga keberuntungan apa ini? Terima kasih banyak!"Ucap Yuri yang saat itu kesenangan nya benar-benar lengkap.


"Baik, Kalau begitu ayo ganti baju mu."Ucap Haikal yang entah mengapa ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh Yuri.


"oke!"Ucap Yuri dengan girang nya, berlari menaiki tangga menuju kamar nya.


"Dia benar-benar bahagia?"Ucap Haikal menatap Yuri yang semakin menjauh.


"Tuan muda, ada apa dengan nyonya? Mengapa dia terlihat sangat bahagia?"Tanya Abel yang sedari tadi mengamati mereka.


"Ah, tidak ada, kau akan tau sendiri nanti."Ucap Haikal singkat.


"Menurut ku nyonya dan tuan muda sangat lah serasi, semoga cepat di berikan momongan!"Ucap Abel yang kemudian berlari dari hadapan Haikal.

__ADS_1


Abel sengaja mengatakan itu agar Haikal semakin dekat dengan Yuri, karena dia tau betul sorot mata Haikal yang terlihat ada cinta saat menatap Yuri, begitu juga sebaliknya dengan Yuri.


"Astaga,anak itu!"Ucap Haikal melihat tingkah Abel dan mengeleg kepala.


"Tapi, memiliki anak dari nya, em, astaga, apa yang aku pikirkan? Tidak aku tidak boleh seperti itu."Ucap Haikal yang terpengaruh akan ucapan Abel barusan.


Seperti nya tidak ada hal yang tidak mungkin membuat Haikal dan Yuri saling suka satu sama lain, apalagi kedua nya memiliki sifat dan hobi yang sama.


Satu jam pun berlalu.


Kini Haikal dan Yuri sudah tiba di rumah sakit tempat ibu nya Yuri di rawat.


Saat itu rasanya Yuri sudah benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan ibu nya.


Sudah hampir dua bulan dia tidak melihat wajah sang ibu meskipun dia tau bagaimana perkembangan kesehatan ibu nya melalui Haikal.


"Ayo, masuk."Ucap Haikal kepada Yuri.


Ruang rawat yang luas dan cukup besar, serta fasilitas lengkap dan juga sangat nyaman, di dalam ruang rawat itu juga ada dua orang suster yang senantiasa menjaga dan merawat ibu nya Yuri.


Yuri tidak menyangka Haikal akan sebertangung jawab nya terhadap sang ibu yang sedang sakit.


"Apa pasien sudah makan?"Tanya Haikal kepada salah satu dari suster tersebut.


"Sudah tuan."Jawab suster itu dengan sopan.


Sementara itu Yuri dengan kaki yang sedikit gemetar menghampiri sang ibu yang sedang beristirahat itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2