
Nisa membawa Yuri sedikit menjauh dari taman tersebut sambil melihat sekeliling.
"Lepas kan aku!"Ucap Yuri menepis tangan Nisa.
"Oh, jadi kau sudah berani melawan ku?"Ucap Nisa menatap tajam Yuri.
"Aku tidak melakukan apapun, apalagi melawan mu, kau lah yang terus menerus mencari masalah dengan ku!"Ucap Yuri marah.
"Aku? Itu kau! Kau yang selalu ikut campur urusan ku,apa kau sudah lupa dengan posisi mu itu?"Ucap Nisa dengan tatapan tajam.
"Urusan apa? Ku tidak merasa ikut campur dalam urusan mu?"Bingung Yuri.
"Oh ya? Bukan kah tadi malam kau berhasil membuat Haikal percaya akan ucapan mu?"Nisa menyilang kedua tangan nya di bawah dada dengan tatapan sini ke arah Yuri
"Maksud mu? Oh, apa benar kau yang melakukan itu dan hampir membuat seseorang kehilangan pekerjaan?"Tanya Yuri menaikkan satu alisnya.
Nisa terkejut akan ucapan Yuri barusan, dia tidak mengira jika Yuri akan sangat cepat mengambil kesimpulan itu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"Tanya Haikal kepada Yuri dan Nisa yang sedang saling menatap tajam.
__ADS_1
"Hiksss, Yuri, sudah berapa kali aku mengatakan, jika aku tidak melakukan hal yang kau tuduh kan itu, bagaimana mungkin aku ingin mencelakai Oma?"Ucap Nisa tiba-tiba saja menangis sedih di hadapan Yuri setelah menyadari Haikal menghampiri mereka.
"Yuri, apa yang kau lakukan?"Ucap Haikal menarik Nisa ke sisi nya.
"Sayang, jangan salah kan Yuri, dia mungkin menyayangi Oma, tapi aku juga sama, aku juga menyayangi Oma."Ucap Nisa dengan air mata palsu nya.
"Aku sama sekali tidak menuduh nya seperti itu, atau mungkin saja kau memang benar melakukan nya, sehingga kau harus bersandiwara seperti ini."Ucap Yuri dengan berani nya.
"Yuri cukup!"Bentak Haikal.
Yuri pun bungkam dengan bentakan keras tersebut.
"Mengapa kau harus ikut campur dalam hal ini? Kau bahkan menuduh orang yang tidak bersalah,aku harap kau merenunginya dan segera meminta maaf kepada Nisa."Ucap Haikal yang kemudian menarik Nisa pelan meningal kan Yuri yang masih berdiri tegak di sana.
Sementara itu di sisi lain kota, tepat nya di kota tetangga, kota (L), ya, kota (L) Masih ada yang ingat bukan tentang kota (L) Author pernah membahas nya di episode 03.
"Aku tidak mau tau mas, pokoknya aku mau Gavin juga mendapat kan sebagai saham dari perusahaan yang di kelola anak mu itu!"Ucap seorang wanita paruh baya dengan wajah marah nya.
"Rania! Apa-apa kamu ini? Aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu, perusahaan dan saham besar itu di kelola oleh Haikal sendiri, aku tidak punya hak untuk membangi nya."Ucap papa Hendra sambil berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Mengapa mas? Masa Gavin hanya mengelola perusahaan cabang mu di sini? Aku tidak setuju, Gavin kan juga anak kandung mu!"Marah mama Rania.
Ya, Rania adalah istri baru nya papa Hendra, dan Gavin, dia adalah adik tiri Haikal, anak dari istri baru papa Hendra yang usianya sama dengan Yuri.
"Apapun yang kau katakan, aku tetap tidak bisa mengiyakan ucapan mu, kau tau sendiri bukan? Bagaimana Gavin sangat teledor dalam mengurus perusahaan ku sehingga begitu banyak masalah yang timbul dalam satu bulan, ini baru perusahaan cabang apalagi jika pusat perusahaan aku bisa bangkrut seketika."Ucap papa Hendra menentang permintaan istri nya itu.
"Apa maksud mu berkata seperti itu? Wajar saja jika sekarang Gavin masih teledor dalam mengurusi bisnis, dia masih sangat muda."Jelas mama Rania bersikeras.
"Muda kata mu? Dia lebih banyak menghabiskan masa muda nya di sebuah clab di banding kan dengan belajar mengurus bisnis dengan baik, sudah lah, jangan membahas masalah yang tidak penting lagi, aku akan keluar sebentar."Ucap papa Hendra mengambil kunci mobil nya dan bergegas keluar dari rumah.
"Mas! Mas dengar kan aku dulu! Dia bisa berubah!"Ucap mama Rania menjerit keras.
Namun itu semua tidak ada gunanya, papa Hendra sudah masuk ke dalam mobil nya dan meningal kan rumah itu.
"Arghhh! Dasar tua bangka bodoh, mengapa susah sekali untuk membuat dia percaya dengan apa yang aku katakan!?"Marah mama Rania.
"Ma, mengapa marah-marah?"Tanya Gavin yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan sebuah gunting di tangan nya.
"Dari mana kau?"Tanya mama Rania sambil memperhatikan gerak-gerik Gavin.
__ADS_1
Sementara itu Gavin hanya tersenyum manis dengan memainkan gunting yang ada di tangan nya.
Bersambung ....