Selembar Surat Kontrak

Selembar Surat Kontrak
Episode 50


__ADS_3

"Sial, bermain-main Haikal bersikap dingin kepada ku!"Umpat Nisa kesal.


Nisa yang kesal pun beranjak pergi dari situ, dia masuk ke dalam lift dan menuju lantai dua mansion.


"Yuri, kau benar-benar keterlaluan, lihat saja nanti,aku akan memberi mu pelajaran karena sudah berani mendekati Haikal.


Tidak butuh waktu lama Nisa pun tiba di lantai dua mansion, dia berjalan cepat menuju kamar Yuri.


Brak ... suara pintu kamar yang di buka oleh Nisa.


Yuri kaget karena saat itu dia baru saja selesai mandi.


"Nisa, tutup kembali pintu nya,aku baru saja selesai mandi."Ucap Yuri.


"Jangan banyak bicara! Katakan padaku apa yang kau lakukan bersama Haikal di kebun buah-buahan?"Ucap Nisa marah.


"Apa maksud mu? Mengapa kau tidak menanyakan nya langsung kepada Haikal?"Tanya Yuri balik.


"Hah, sekarang kau sudah berani ya, ingat ibu mu masih di rumah sakit, kau mau aku menyuruh Haikal untuk mencabut semua fasilitas pengobatan nya?"Ucap Nisa mengancam.


Sementara itu Tampa sepengetahuan mereka, Haikal sedang menguping di pintu masuk kamar Nisa.


Haikal ingin menemui Yuri karena ada hal yang ingin dia bicara kan, namun siapa sangka dia akan mendengar Nisa mengomeli Yuri.


"Nisa, aku mohon jangan lakukan itu,ibu ku akan mati jika kau mencabut semua fasilitas pengobatan nya."Ucap Yuri melemah.

__ADS_1


"Jika kau sayang kepada ibu mu, kau seharusnya mematuhi aku untuk tidak dekat-dekat dengan Haikal, apalagi sampai membuat nya suka pada mu! Dia baru saja bersikap dingin dengan ku! Hal ini tidak pernah terjadi!"Marah Nisa mencengkram lengan Yuri.


"Nisa, lepas kan aku, ini sakit, aku akan melakukan apa yang kau ucap kan, tolong jangan seperti ini."Ucap Yuri meringis kesakitan karena cengkraman Nisa.


"Nisa apa yang kau lakukan!"Ucap Haikal masuk ke dalam kamar tersebut.


Sontak hal ini membuat Yuri dan Nisa kaget karena tiba-tiba Haikal muncul di kamar itu.


"Ha, Haikal."Ucap Nisa kaget kemudian melepaskan tangan nya dari lengan Yuri.


"Nisa, aku baru kali ini melihat kau begitu kasar, bukan kah dia sahabat mu? Mengapa kau seperti ini? Kau bisa memperingati dengan cara baik-baik kan?"Ucap Haikal yang baru pertama kali melihat sikap asli Nisa yang begitu jahat.


"Aku, hmm, maaf kan aku, aku hanya di selimuti rasa cemburu, kalian pergi berduaan,aku hanya mencoba mengingat kan Yuri untuk tidak jatuh cinta pada mu, karena kau itu miliku, aku mencintaimu begitu dalam,aku takut kau meningal kan aku."Ucap Nisa kembali memulai sandiwara nya sebagai wanita lemah.


"Aku tau, dan aku benar-benar minta maaf."Ucap Yuri dengan wajah dingin.


"Maaf kan aku."Ucap nya sambil membenamkan wajah ke dada bidang Haikal.


"Sudah lah, aku mengerti perasaan mu, aku juga minta maaf, lain kali kontrol emosi mu, jangan sampai kau seperti tadi."Ucap Haikal membalas pelukan Nisa.


"Bisa kah kalian keluar? Aku ingin menggunakan pakaian ku."Ucap Yuri yang tidak tahan dengan keromantisan yang membuat hati nya panas.


"Ayo!"Ajak Nisa menarik tangan Haikal keluar dari kamar Yuri.


"Yuri, apa dia tidak merasakan apapun saat aku memeluk Nisa? Wajah nya terlihat biasa-biasa saja, tapi ekspresi apa yabg aku harapkan?"Batin Haikal berjalan keluar dari kamar Yuri.

__ADS_1


Sementara itu Yuri terduduk lemah di ranjang nya.


"Perasaan bodoh macam apa ini? Hikss, tidak aku tidak boleh cemburu, cemburu itu tandanya cinta."Ucap Yuri memegang dada nya.


Sementara itu di sisi lain.


"Huh, melelahkan sekali mengurus pemakaman orang tua itu!"Ucap Gavin menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah.


"Mama juga sangat lelah, seperti nya rumah ini damai tidak ada si tua bangka Hendra."Ucap mama Rania sambil duduk berhadapan dengan Gavin.


"Setelah ini apa yang akan kita lakukan ma?"Tanya Gavin.


"Hmm, kemari lah, mama akan membisikkan sesuatu kepada mu."Ucap mama Rania.


Gavin yang penasaran pun mendekati mama nya.


Mama Rania pun mulai membisikan sesuatu ke telinga anak nya.


"Apa itu akan berhasil ma? Bukan kah orang tua itu baru meningal?"Ucap Gavin dengan wajah bingung nya.


"Justru karena dia baru meningal, kita harus cepat merebut apa yang harus menjadi milik kita."Ucap mama Rania terlihat sangat serius.


"Baik lah, tapi aku tidak yakin rencana itu akan berhasil."Gerutu Gavin tidak percaya akan ucapan mama nya tadi.


"Biar mama yang mengurus semuanya,kau tinggal membantu hal-hal selebihnya saja."Jawab sang mama dengan wajah penuh b keserakahan.

__ADS_1


Apa rencana mereka selanjutnya? Dan apa yang akan mereka lakukan kepada keluarga papa Hendra? Ayo ikuti terus kisah Selembar Surat Kontrak.


Bersambung ....


__ADS_2