Selembar Surat Kontrak

Selembar Surat Kontrak
Episode 41


__ADS_3

Deg ... jantung mama Rania seakan ingin berhenti berdetak, dan seluruh tubuh nya menjadi lemah mendengar kabar tersebut.


Tampa basa-basi mama Rania pun meletakkan telpon tersebut dan bergegas menuju kamar Gavin.


"Gavin! Gavin buka pintu nya!"Teriak mama Rania dengan mengedor-gedor kamar Gavin.


Gavin yang saat itu sedang asik menatap layar laptop nya pun berdiri dan membuka pintu kamar nya.


"Ada apa lagi ma?"Tanya nya dengan wajah malas.


"Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Sekarang apa yang harus kita lakukan Gavin?"Ucap mama Rania menguncang tubuh Gavin.


"Ma! Apa-apaan ini? Mengapa mama jadi panik seperti ini?"Ucap Gavin yang masih belum mengerti akan apa yang terjadi kepada mama nya.


"Papa mu kecelakaan Gavin, dan ini semua terjadi karena kau! Sekarang apa yang harus mama lakukan? Bagaimana kalau dia mati? Dan polisi itu akan menyelidiki apa penyebab kecelakaan itu!"Bentak mama Rania dengan air mata khawatir yang mulai membasahi pipinya.


"Cepat sekali sudah kecelakaan saja orang tua itu?"Jawab Gavin dengan santai seolah tidak memiliki rasa simpati dan khawatir kepada tuan Hendra.


"Bagaimana kau bisa setenang ini? Kau akan masuk penjara karena ulah mu!"Ucap sang mama memarahi putra nya.


"Ma, tenang lah, mengapa mama harus sepanik ini? Bukan kah lebih bagus kalau tua bangka itu mati? Dengan begitu, tidak ada yang akan menghalangi aku untuk mendapatkan kan semua harta warisan nya."Ucap Gavin sambil tersenyum miring.


Sejenak mam Rania terdiam mendengar tutur kata putra nya barusan, sebelum nya dia tidak pernah berfikir seperti itu untuk mempermudah mereka mendapatkan kan apa yang mereka inginkan selama ini, di tambah lagi sejak pernikahan itu, mama Rania tidak pernah mencintai papa Hendra sedikit pun.


"Ucapan ku benar kan ma?"Tanya Gavin sekali lagi.

__ADS_1


Perlahan mama Rania mulai mengganguk kan kepala nya, dia tidak menyangka jika ide licik putra nya akan membuahkan hasil dan keuntungan bagi mereka.


"Mengapa mama baru terpikir sekarang?"Ucap mama Rania kepada Gavin.


"Ya, karena mama tidak pernah mengandalkan aku, sampai hari ini aku mengandalkan diriku sendiri."Jelas Gavin.


"Tapi tunggu, bagaimana dengan polisi? Apa tidak akan tau kau yang menyebabkan kecelakaan papa mu?"Tanya Rania lagi.


"Tenang saja, selama mama tutup mulut, tidak ada yang akan tau soal itu."Jawab Gavin dengan santai.


"Yasudah, sekarang, sebelum semuanya curiga,ayo kita ke rumah sakit."Ajak mama Rania kepada Gavin.


"Iya tentu saja ayo!"Ucap Gavin.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka pun akhirnya tiba di rumah sakit tersebut.


"Pak bagaimana keadaan suami saya?"Tanya mama Rania kepada seorang polisi yang berjaga di depan ruang rawat papa Hendra.


"Iya pak, bagaimana keadaan papa saya?"Tanya Gavin penuh sandiwara.


"Dokter mengatakan jika suami ibu sekarang sedang dalam masa kritis."Jawab sang polisi.


"Tapi, pak polisi, apa bapak sudah menyelidiki penyebab kecelakaan suami saya?"Tanya mama Rania lagi.


"Ya, saya sudah menyelidiki kecelakaan tunggal ini, dan ternyata tidak ada yang salah dengan mobil pak Hendra, beliau di nyatakan kena serangan jantung mendadak saat mengemudi, untuk kelanjutan nya, kami akan terus memberikan informasi."Ucap sang polisi dengan wajah serius nya.

__ADS_1


"Huhh, syukur lah."Ucap mama Rania reflek bersyukur karena tidak ada yang tau jika rem mobil itu di potong oleh Gavin.


"Syukur?"Ucap polisi itu kebingungan.


"Ah, maksud saya, syukur lah, suami saya masih ada kesempatan hidup."Jawab mam Rania kembali memasang wajah sedih.


"Baik lah Buk, kalau begitu saya permisi dulu."Ucap sang polisi yang kemudian meningal kan Gavin dan mama Rania.


"Ma, seharusnya mama jangan membuat polisi curiga dengan reaksi mama."Ucap Gavin menyolek lengan mama nya.


"Maaf, mama reflek."Jawab sang mama dengan raut wajah bingung.


Namun di saat yang bersamaan dokter pun keluar dari ruang rawat papa Hendra.


"Dok, bagaimana? Bagaimana dengan suami saya?"Tanya mama Rania.


"Beliau masih belum sadar, mungkin membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyetabilkan kondisi nya."Jelas sang dokter.


Mendengar itu mama Rania dan Gavin saling tatap dan terlihat sangat lega, mereka bahkan tidak terlihat seperti orang sedih atau takut kehilangan papa Hendra.


"Kalau begitu saya permisi."Ucap sang dokter menatap kedua orang itu secara bergantian dan kemudian berjalan pergi.


Sementara itu di ujung lorong rumah sakit, polisi dan dokter terlihat berbincang bersama, entah apa yang mereka bicarakan yang jelas itu cukup membuat penasaran para reader ku.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2