Selembar Surat Kontrak

Selembar Surat Kontrak
Episode 28


__ADS_3

Nisa pun tersenyum lega dan mulai menjalankan rencana jahatnya.


"Kalau begitu, kau bisa menyajikan makan sekarang,sup itu biar aku yang menjaga nya sampai matang."Ucap Nisa kepada sang maid.


"Baik lah nona, terima kasih,kalau begitu saya ke ruang makan dulu."Ucap sang maid dengan polos nya mulai menyajikan makan malam dan membiarkan Nisa berada di dapur.


Setelah maid itu mulai sibuk Nisa pun menuju sup yang sedang di masak.


"Wangi sekali, ini pasti sangat lezat, tapi


akan lebih lezat jika aku menambahkan sedikit bumbu,Oma pasti akan lebih menyukai nya."Batin Nisa sambil tersenyum licik mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi sesuatu.


Setelah melihat situasi dan memastikan tidak ada yang melihat aksinya Nisa pun memasukkan benda itu ke dalam sup Oma dan buru-buru mengaduk nya.


"Sempurna."Ucap nya sambil tersenyum.


"Nona, bagaimana? Apa sup nya sudah matang?"Tanya maid itu menghampiri Nisa.


"Oh iya, seperti nya sudah."Ucap Nisa.


"Biar aku coba dulu."Ucap sang maid hendak mengambil sendok untuk mencicipi sup tersebut.


"Tidak perlu,aku sudah mencicipi nya, dan rasanya lumayan enak dan sudah pas menurut ku."Ucap Nisa mencegah maid tersebut untuk mencicipi sup nya.


"Baik lah nona, kalau begitu bisa kah kau bantu aku untuk membawa nya ke meja makan? Karena aku akan membawa yang lain."Ucap maid kepada Nisa.


"Tentu saja."jawab Nisa dengan senang hati.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya menghidangkan seluruh makanan yang telah di masak ke meja makan.


"Oma, ini sup nya."Ucap Nisa menaruh mangkok sup tersebut di hadapan Oma.


"Terima kasih."Jawab Oma singkat Tampa curiga sedikitpun.


Makan makan pun berlalu, Oma menghabiskan sup nya dan kembali ke kamar di antar kan oleh Abel seperti biasa.


Namun di saat ingin merebahkan tubuhnya,Oma merasa sedikit sesak, perut nya juga terasa sangat sakit secara tiba-tiba.


"Oma, ada apa? Mengapa Oma berkeringat dingin seperti itu?"Tanya Abel kaget dengan keadaan Oma yang tiba-tiba aneh.


"Abel, perut ku, perut ku sangat sakit, dada ku sesak, rasanya aku sangat sulit bernafas."Ucap Oma dengan menahan rasa sakit di perut nya.


"Astaga Oma, apakah Oma salah makan sesuatu?"Tanya Abel yang kebetulan tidak ada di ruang makan saat Oma dan Nisa makan.


"Astaga, Oma, wajah Oma terlihat pucat."Ucap Abel khawatir.


Namun belum sempat Abel berbuat apa-apa,Oma tiba-tiba jatuh pingsan dengan posisi yang bersandar di ranjang nya.


"Oma! Oma bangun Oma!"Pekik Abel sambil memegang tangan dan pipi Oma.


Menyadari Oma yang sudah pingsan Abel pun berlari keluar dan berteriak meminta pertolongan kepada orang di mansion tersebut.


"Tolong! Siapapun Tolong cepat ke sini! Oma pingsan!"Jerit Abel dengan air mata yang sudah mengalir karena rasa khawatir.


Para main termasuk ayah dari Abel pun berlari menuju ke kamar Oma dan bergegas membopong Oma untuk masuk ke dalam mobil agar bisa segera di bawa kerumah sakit.

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain.


Terlihat Yuri yang sedang menyisir rambut nya sambil duduk di atas ranjang.


Kring...kring...kring. (Suara dering ponsel Haikal yang ada di atas sofa di tempat Haikal duduk sebelum dia ke kamar mandi.


Yuri pun tidak mempedulikan nya karena takut jika Haikal akan marah jika Yuri menyentuh ponsel milik nya.


Namun telpon itu terus saja berdering beberapa kali membuat Yuri sangat gelisah, sementara itu Haikal masih belum selesai mandi.


Yuri yang penasaran pun akhirnya mendekati ponsel Haikal dan melihat siapa orang yang menelpon nya malam-malam seperti itu.


Benar saja, tertara nama Nisa di layar ponsel tersebut.


"Nisa, dia menelpon Haikal? Ada apa ya?"Ucap Yuri hendak meraih ponsel tersebut.


Namun Yuri mengehentikan dirinya agar tidak ikut campur, dia tau jika dia mengangkat telpon tersebut Nisa akan sangat marah dengan nya.


Namun seperti nya Nisa tidak putus asa, dia terus menghubungi Haikal Tampa henti.


Karena kebingungan Yuri pun akhirnya memberanikan diri untuk mengambil ponsel tersebut dan hendak menjawab panggilan itu.


"Apa yang kau lakukan?"Ucap Haikal yang tiba-tiba muncul di belakang Yuri dengan handuk sepinggang nya.


"Maaf, maaf kan aku,au tidak bermaksud, ponsel mu berdering beberapa kali, aku hanya ingin melihat nya."Ucap Yuri menyerahkan ponsel tersebut kepada Haikal.


Dengan cepat Haikal mengambil ponsel nya dari tangan Yuri dengan tatapan tidak suka, seperti nya benar dugaan Yuri tadi jika dia memegang ponsel tersebut Haikal akan marah kepada nya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2