
"Baik lah, aku percaya jika mama akan membuat kita mendapatkan semua harta warisan milik orang tua itu."Jawab Gavin.
Mama Rania pun mengangguk kan kepala nya mengiyakan ucapan sang anak.
Seminggu kemudian.
Di sisi lain.
"Yuri, apa Oma boleh menanyakan sesuatu kepada mu?" Tanya Oma kepada Yuri.
"Iya Oma, apa?"Tanya Yuri yang saat itu sedang duduk di kursi samping ranjang Oma dengan semangkok bubur di tangan nya.
Sejak seminggu lepas, keadaan Oma agak memperihatinkan beliau begitu terpuruk atas meningal nya papa Hendra, anak nya satu-satunya.
Namun Yuri selalu menjaga dan merawat Oma dengan baik.
"Apa kau bercita-cita menjadi seorang designer?"Tanya Oma.
"Emm, itu, Oma tau dari mana?"Jawab Yuri kebingungan.
"Maaf, tapi saat kau tertidur di perpustakaan,Oma melihat hasil lukisan desain mu yang cukup bagus Sayang."Ucap Oma.
Yuri terdiam mendengar ucapan Oma barusan, dia tidak menyangka jika Oma akan tau tentang ini.
"Katakan saja, jangan takut."Ucap Oma.
__ADS_1
"Iya, Oma, sebenarnya aku memang memiliki cita-cita sebagai seorang designer dan memiliki butik sendiri, meskipun itu kecil hehe."Ucap Yuri dengan tawa lucu nya.
"Mengapa kau tidak pernah mengatakan hal ini? Kau bisa meminta Haikal membantu mu, dia bahkan bisa menyediakan apapun kebutuhan mu, kau tidak perlu belajar lagi karena kau memiliki bakat yang luar biasa, jika kau tidak mau bicara dengan nya, biar kan Oma saja yang bicara."Ucap Oma dengan wajah yang terlihat sangat mensuport cita-cita Yuri.
"Sejak saat ayah meningal, aku tidak mendengar kan orang seantusias Oma yang mendukung cita-cita ku seperti itu."Batin Yuri.
"Oma, aku ingin semuanya berjalan dengan kemampuan ku sendiri,bukan dengan bantuan siapapun,itu baru yang di namakan cita-cita,bukan kah sebuah cita-cita harus di perjuangkan sendiri?"Tanya Yuri lagi agar Oma tidak berfikir ke arah lain tentang kedekatan nya dan Haikal yang penuh dengan kepalsuan.
"Yuri, kau memang benar, tapi setidaknya, buat lah Oma atau Haikal berguna dalam hidup mu sayang, kami ini keluarga mu sekarang."Jelas Oma dengan raut wajah sedih nya.
"Oma, jangan seperti itu, aku paham apa yang oma maksud, tapi aku hanya merasa belum saatnya meminta bantuan kepada mas Haikal."Jawab Yuri khawatir Oma akan tersinggung.
"Hmm, baik lah Yuri, katakan sesuatu jika kau sudah berfikir dengan baik."Jawab Oma seolah putus asa.
"Oma, jangan banyak pikiran, sekarang Oma habiskan bubur ini dan istirahat yang cukup agar cepat pulih."Ucap Yuri.
Setelah menyuapi Oma makan, Yuri pun memastikan Oma istirahat dengan cukup, setelah itu baru lah dia keluar dari kamar Oma.
"Apa Oma sudah istirahat?"Tanya Haikal yang ternyata sudah berdiri di depan kamar Oma entah sejak kapan mengamati Yuri yang sedang merawat Oma dengan baik.
"Astaga, mengangetkan saja."Ucap Yuri memegang dada nya.
"Kau terlihat sangat cantik, walaupun sedang kaget."Ucap Haikal sambil tersenyum manis.
"Apa-apaan?"Ucap Yuri masih dalam keadaan kesal.
__ADS_1
"Yasudah, jangan marah lagi, ayo ikut aku sebentar,ada yang ingin aku bicarakan kepada mu."Ucap Haikal memegang tangan Yuri.
Yuri pun mengikuti nya dengan jantung yang selalu berdebar kencang.
"Maaf, aku sebenarnya sudah ingin mengatakan ini kepada mu seminggu yang lalu, tapi tidak jadi karena ada sedikit masalah."Ucap Haikal.
Saat ini mereka sedang berada di ruangan tengah mansion.
"Katakan saja, apa yang ingin kau katakan, setelah itu aku akan langsung pergi."Ucap Yuri sambil melihat sekeliling.
"Mengapa kau akhir-akhir ini menjauhi aku?"Tanya Haikal tidak peka.
"Bukan kah kau tau kekasih mu itu benci pada ku? Dia juga melarang ku dekat dengan mu, padahal kau suamiku."Ucap Yuri sambil tersenyum hambar.
"Apa ini? Dia memanggil ku suaminya? Mengapa rasanya senang sekali?"Batin Haikal.
"Mengapa diam? Ayo lah cepat katakan,aku takut Nisa akan melihat kita."Ucap Yuri lagi.
"Dia sedang tidak di sini, mama dan papa nya meminta dia untuk pulang hari ini, dan aku tidak tau kapan dia akan ke sini lagi,jika oma bertanya kemana dia, bilang saja sedang bekerja."Ucap Haikal begitu simpel mencari alasan.
"Terserah saja."Jawab Yuri singkat.
"Apa kau, apa kau cemburu?"Tanya Haikal lagi.
"Apa? Cemburu? Mana mungkin, sudah lah, jika hanya ingin membicarakan soal itu aku akan kembali ke kamar."Ucap Yuri hendak melangkah pergi.
__ADS_1
Haikal yang kesal karena di cuekin Yuri pun menahan tangan Yuri yang hendak menghindari nya.
Bersambung ....