
"Yuri!" Ucap MC itu dengan suara lantang di susuli tepuk tangan para peserta lain.
"Aku? Itu benar-benar aku?"Ucap Yuri berdiri dari duduknya sangking tidak percaya dia sambil mencubit tangan nya beberapa kali untuk menyakinkan bahwa ini bukan lah mimpi.
"Tunggu apa lagi, ayo cepat naik."Ucap Haikal yang saat itu terlihat begitu senang menatap wajah Yuri yang merah karena begitu senang sudah masuk dari lima orang pemenang lomba desain terbagus.
Yuri pun dengan kaki yang sedikit gemetar berjalan menaiki tangga untuk bergabung dengan keempat peserta lain nya.
Hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidup Yuri, setidaknya dia ada harapan untuk masuk ke babak berikutnya meskipun nantinya dia akan kalah atau tidak itu tidak terlalu buruk dan memalukan.
"Terima kasih banyak, untuk para pemenang lomba yang akan masuk ke babak selanjutnya, dan para juri kami benar-benar tertarik akan desain kalian yang begitu memukau, kalian sudah tau bukan apa yang akan kalian lakukan selanjutnya? Persiapan kan diri kalian untuk maju ke lomba berikut nya, yang akan di adakan dalam tiga Minggu lagi, kami rasa itu cukup untuk kalian menyiapkan desain masing-masing untuk di bawa ke lomba berikutnya, untuk model kalian sendiri lah yang menentukan nya."Jelas MC tersebut.
Setelah basa basi yang cukup lama dan dan MC menjelaskan apa yang harus di persiapkan oleh kelima pemenang untuk tiga Minggu kedepan acara itu pun selesai dan di buabar kan.
Begitu juga dengan Yuri dan Haikal, mereka keluar dari gedung itu dengan hati yang bahagia.
"Ayo tuan putri, silahkan masuk."Ucap Haikal kepada Yuri sambil membuka pintu mobil nya.
Namun,bukan nya masuk ke mobil, Yuri malah menghambur ke dalam pelukan Haikal dengan air mata yang mulai membasahi pipi nya.
"Terima kasih, aku tidak pernah membayangkan hal seberuntung ini akan datang ke kehidupan ku."Ucap Yuri kepada Haikal.
"Kau sudah menderita begitu lama, kali ini Tuhan memberikan kebahagiaan untuk mu yang datang secara perlahan."Ucap Haikal membalas pelukan Yuri.
Beberapa menit kemudian Yuri melepaskan pelukan nya dengan mata yang sedikit semabab.
__ADS_1
"Sudah lah, jangan menagis, nanti mata mu akan jadi seperti mata bunglon."Goda Haikal sambil menyeka air mata Yuri.
"Mana ada bunglon secantik ini."Marah Yuri yang kemudian langsung masuk ke dalam mobil.
"Haha kau bunglon tercantik."Jawab Haikal dan kemudian ikut masuk ke dalam mobil nya.
"Menyebalkan sekali."Jawab Yuri.
Sementara itu Haikal hanya tersenyum gemas melihat perilaku istri nya itu.
Ia pun menyalakan mesin mobil nya dan meluncur kembali ke mansion untuk segera memberi tahu Oma kabar baik ini.
Melihat kebahagiaan Yuri, Haikal setidaknya bisa melupakan sebentar masalah nya yang sedang terjadi.
Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama, Haikal dan Yuri pun tiba di mansion.
"Astaga, tidak sabaran sekali."Ucap Haikal melihat Yuri yang berlari masuk ke dalam mansion dengan menenteng kertas di tangan nya.
"Oma!!!" Teriak Yuri menaiki tangga menuju kamar Oma.
"Abel,itu bukan nya suara Yuri?"Tanya Oma kepada Abel.
"Iya Oma, nyonya sudah pulang!"Ucap Abel ikut kaget dengan teriakan Yuri.
Sementara itu Yuri masuk ke dalam kamar Oma dengan wajah bahagia nya.
__ADS_1
"Oma, aku menang! Aku berhasil masuk ke kanidat ke lima!"Ucap Yuri dengan bahagia nya sambil menghabur ke dalam pelukan Oma.
"Astaga sayang, benar kah? Oma sudah menduga kau akan menang,Oma ikut bahagia."Ucap Oma membalas pelukan Yuri.
"Iya Oma semua ini berkat dukungan dan suport dari Oma dan semua yang ada di mansion."Ucap Yuri dengan senyum mengembang.
"Wah, selamat ya nyonya!"Ucap Abel ikut senang.
"Terima kasih Abel."Ucap Yuri memegang tangan Abel.
Hari itu Yuri dan seluruh isi mansion di liputi rasa bahagia yang luar biasa.
Namun di sela kebahagiaan itu, Yuri masih memikirkan Haikal yang akhir-akhir ini terlihat aneh.
Dua hari pun berlalu.
Namun Haikal masih tetap tidak mengatakan apapun kepada Yuri tentang apa permasalahan yang sedang di hadapi nya, dia bahkan sering menghabiskan waktu nya di kantor atau depan laptop.
"Hmm, akhir-akhir ini ada kerjaan yang membuat mu harus menatap laptop terus-menerus?"Tanya Yuri sambil meletakkan segelas teh hangat di meja kerja Haikal di dalam kamar mereka.
"Haha, tidak, hanya ada proyek yang harus aku selesaikan."Jawab Haikal berbohong.
"Benar kah? Tapi mengapa wajah mu terlihat cemas?"Tanya Yuri lagi.
Haikal terdiam, segitu peka nya Yuri terhadap dirinya, sehingga dia tau jika Haikal sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Bersambung ....