
Dan cuph!
Sebuah kecupan hangat nan manis tak bisa di tahan oleh Haikal, dia benar-benar merasa ada yang mendorong nya untuk kembali merasakan bibir mungil dan merah cery milik Yuri.
Sontak pemilik bibir tak bisa berkutik dan membulat kan mata nya dengan sempurna.
Aroma parfum Haikal yang begitu memikat, tak mampu membuat hati Yuri mendorongnya menjauh dari hadapan nya sekarang.
Beberapa menit berlalu, bukan nya melepaskan tautan itu, Haikal malah memperdalam ciuman nya yang hangat.
Namun tiba-tiba, Yuri memberikan kode dengan memukul lengan Haikal pelan karena dirinya tak mampu mengatur nafas lagi.
Haikal yang mengerti pun akhirnya melepaskan ciuman itu dengan terpaksa.
Sementara Yuri menutupi wajah nya dengan kedua tangan, sungguh dia tak lagi mampu menatap wajah Haikal yang tampan itu.
"Yuri, buka wajah mu."Ucap Haikal memegang tangan Yuri.
Yuri pun melepaskan kedua tangan itu dari wajah nya dan mendudukkan kepalanya.
"Maaf,maaf kan aku, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku."Ucap Haikal memegang pipi Yuri.
Mata Yuri menatap Haikal dengan air mata yang berlinangan.
__ADS_1
"Hey, mengapa kau menagis?"Tanya Haikal menyeka air mata Yuri yang hendak menetes.
"Hikss, mengapa? Mengapa aku harus menyukai mu? Aku tidak bisa lagi memendam perasaan ini, aku tau ini salah tapi aku tidak bisa memilih hati lain untuk berlabuh di saat setiap hari aku harus bersama dengan mu."Ucap Yuri mulai mencurahkan seluruh rasa sedih dan gelisah yang di rasakan nya.
Deg ... tak di sangka oleh Haikal ungkapan itu akan keluar dari bibir Yuri terlebih dahulu, karena jujur saja, bukan hanya Yuri yang merasa kan nya, dia pun juga ikut merasakan kenyamanan dan cinta yang sesungguhnya itu.
"Tidak, kau sama sekali tidak bersalah, Yuri, jujur saja, aku sudah menaruh perasaan kepada mu saat kita pergi ke pantai, aku melihat tingkah lucu mu, dan kau tidak seperti Nisa yang mau nya bersih saja, kau bahkan bisa berguling di atas pasir pantai yang membuat aku merasa kau benar-benar berbeda dengan nya, kau bahkan bisa makan anggur yang tidak di cuci dengan santai."Ucap Haikal panjang lebar menceritakan bagaimana dia juga merasakan perasaan yang sama.
Kedua nya kini sama-sama mengakui perasaannya mereka masing-masing, di antara mereka mungkin sudah tidak kuat lagi menahan rasa yang begitu besar.
"Kau juga merawat Oma dengan baik, aku, aku benar-benar mengangumi ketulusan mu."Tutur Haikal lagi.
Sementara itu Yuri hanya bisa menatap Haikal dengan tatapan kaget, karena dia berfikir jika perasaan nya itu hanya bertepuk sebelah tangan saja, tapi ternyata diri nya salah besar, Haikal pun juga memiliki perasaan yang sama kepada nya.
"Jujur semakin lama, perasaan ku kepada nya semakin tipis, dia hanya bahagia ketika aku memberikan dia uang dan tas atau sepatu yang bermerek, tapi kau begitu berbeda Yuri, kau bahkan tidak pernah sedikitpun mencoba memanfaatkan aku."Ucap Haikal menatap Yuri penuh kagum.
"Sudah lah, lupakan saja, biar bagaimanapun aku harus sadar posisi ku seperti apa, biar lah cinta ini kita kubur sedalam mungkin, aku tidak ingin merebut kebahagiaan orang lain."Ucap Yuri sambil menyeka air matanya.
Mendengar ucapan Yuri, Haikal merasa sedikit kecewa, karena Yuri tidak berniat untuk merebut diri nya dari Nisa.
Haikal pun tidak menjawab ucapan Yuri, dia menyalakan mesin mobil nya dan melaju meningal kan rumah sakit itu.
Di perjalanan pulang, hanya ada keheningan, baik Nisa maupun Haikal tidak ada yang ingin angkat bicara sedikit pun.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain.
"Ma ini beneran?"Ucap Gavin menatap sebuah map biru dengan beberapa lembar kertas putih bertuliskan sesuatu di dalam nya.
"Iya, bagaimana? Mama pintar kan?"Tanya sang mama dengan angkuh nya.
"Wahh, benar-benar Daebak! Aku tidak menyangka mama akan memalsukan surat wasiat si tua bangka itu."Ucap Gavin kepada mama nya.
Flashback on
Dua hari yang lalu.
"Selamat siang nyonya Rania, maaf saya sudah merepotkan anda untuk datang ke kantor saya."Ucap seorang laki-laki kepada mama Rania.
"Tidak apa pak, aku juga akan menemui mu, bahkan sebelum kau menelpon dan meminta aku untuk datang ke sini."Ucap mama Rania.
"Ayo silahkan duduk nyonya."Perintah laki-laki itu.
"Terima kasih."Jawab mama Rania duduk berhadapan dengan laki-laki tersebut.
"Nyonya Rania, ini adalah surat wasiat dari tuan Hendra, biar saya bacakan terlebih dahulu."Ucap sang pengacara.
Ya laki-laki itu adalah pengacara nya papa Hendra yang bertugas untuk menyerahkan seluruh harta warisan papa Hendra kepada anak nya.
__ADS_1
Bersambung ....