
"Aku merasa semakin lama dia semakin membosankan, tidak seperti mu yang selalu memuaskan dan memanjakan aku."Jawab Nisa.
"Lalu mengapa kau masih berpacaran dengan nya? Kau bahkan menyuruh nya menikah dengan perempuan lain untuk hidup serumah dengan nya."Ucap Jordan terlihat cemburu.
"Dulu aku melakukan itu karena takut kehilangan nya, karena dia begitu banyak harta,aku ingin memanfaatkan nya untuk membelikan apa yang aku inginkan, sekarang aku memiliki dirimu, namun aku masih belum memiliki alasan untuk meningal kan nya, dan aku juga belum mendapatkan harta nya yang berlimpah itu, apalagi papa nya sudah mati, semua kekayaan pasti jatuh ke tangan nya."Ucap Nisa penuh keserakahan.
"Itu artinya kau tidak akan meningal kan dia dan menjadikan aku terus-menerus orang kedua? Aku juga memiliki apa yang dia miliki, hanya saja aku tidak terlalu kaya seperti dia."Ucap Jordan cemburu.
"Astaga,aku sangat mencintaimu, jangan berfikir begitu,aku hanya belum puas memeoroti nya, suatu saat aku akan meningal kan nya setelah aku mendapatkan separuh dari kekayaan nya."Ucap Nisa dengan smirk jahat.
"Lalu, apa rencana mu?"Tanya Jordan bingung.
"Nanti kau juga tau."Jawab Nisa yang kemudian kembali membenamkan wajahnya ke dada Jordan.
Namun Nisa tidak tau jika Haikal dan Yuri sudah memiliki perasaan cinta di masing-masing hati mereka, kemungkinan besar sebentar lagi Haikal akan memutuskan hubungan antara Haikal dan Nisa.
Satu jam pun berlalu.
Kini Nisa sudah keluar dari apertemen Jordan, dia pun berniat untuk pergi ke kantor Haikal untuk menemui Haikal sebagai tanda jika dia masih dalam sandiwara cinta palsu nya.
"Aduh, tas ini sangat membuat aku tergila-gila memimpikan nya,aku harus meminta Haikal membeli kan nya untuk ku, karena itu aku akan membawa makan siang untuk nya ke kantor."Ucap Nisa sambil mengemudi mobil dengan membayangkan tas mahal yang akan dia beli.
Sementara itu di kantor Haikal.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok.
Suara ketukan di luar pintu ruang kerja Haikal.
"Masuk!"Jawab Haikal dari dalam ruangan tersebut.
"Tuan muda, maaf, ada yang ingin bertemu dengan anda."Ucap sekertaris Haikal.
"Siapa?"Tanya Haikal kepada sekertaris nya.
"Saya tidak tau tuan muda, mereka ada tiga orang, bagaimana? Apa tuan muda bersedia menemui mereka? Jika tidak saya akan menyuruh mereka keluar dari perusahaan."Ucap sekertaris Haikal dengan tegas nya.
"Suruh saja mereka masuk."Jawab Haikal penasaran dengan siapa tamu yang tiba-tiba datang menemui nya itu.
"Baik lah tuan muda."Ucap sekertaris Haikal yang kemudian keluar dari ruangan itu.
"Silahkan masuk nyonya."Ucap sekertaris Haikal mempersilahkan orang-orang itu untuk masuk ke dalam ruangan Haikal.
Mereka pun melangkah masuk tanpa ada ucapan terima kasih.
"Benar-benar aneh, dan sombong."Batin sekertaris Haikal yang kemudian berlalu pergi untuk melanjutkan pekerjaan nya.
Brak ... seseorang melempar kan sebuah map biru ke atas meja kerja Haikal yabg saat itu sedang fokus mengerjakan pekerjaan nya.
__ADS_1
"Mengapa kalian sangat tidak sopan?"Ucap Haikal yang kemudian mengdongak dan melihat ketiga orang yang saat ini berdiri di hadapan nya dengan penuh keangkuhan.
"Apa kau sudah melupakan aku anak baik?"Tanya seorang wanita di antara dua orang laki-laki itu.
"Kau!"Ucap Haikal kaget dan berdiri dari duduknya.
"Ya, aku ibu mu, selamat bertemu kembali nak, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat semakin tampan ya sekarang."Ucap mama Rania dengan senyum penuh arti.
Ya, itu adalah mama Rania, Gavin dan juga Herman.
Mereka sudah tiba di kota xx sejak pukul 07:00 semalam, dan hari ini mereka memutuskan untuk menghampiri Haikal di kantor.
"Tudepoin saja Rania, apa yang ingin kan dan mengapa kau datang ke kota ini secara tiba-tiba?"Ucap Haikal dengan tatapan tajam.
"Bisa kah kau sopan bicara dengan ibu ku?"Ucap Gavin hampir emosi namun mama Rania menahan tangan nya.
"Hah, kau anak nya? Apa kalian datang satu keluarga? Dan dia suami baru mu? Perasaan papa ku baru meningal seminggu lalu,kau sudah menikah saja ya?" Ucap Haikal kepada mama Rania dan Gavin.
"Haikal! Jaga bicaramu! Dia adalah pengacara mendiang papa mu!"Ucap mama Rania dengan raut wajah kesal.
"Pengacara mendiang papa?"Tanya Haikal kaget.
"Ya, dan kami datang ke sini untuk menyerahkan surat wasiat itu, itu di tulis sendiri oleh papa mu dan aku harap kau membaca nya sekarang juga."Ucap mama Rania sambil tersenyum.
__ADS_1
Haikal pun mengambil map yang tadi di lemparkan mama Rania ke meja kerja nya dan membaca isi dari map tersebut.
Bersambung ....