
Haikal kaget dengan isi dari surat wasiat tersebut sampai ia membelalakkan mata nya.
"Tidak, ini tidak mungkin, apa yang kalian lakukan? Mana mungkin papa menyerahkan seluruh aset kepada anak kedua dan aku tidak mendapatkan apapun!?"Ucap Haikal dengan tatapan marah dan penuh tanda tanya.
"Maaf tuan muda, sebenarnya tuan muda bukan lah anak kandung dari tuan Hendra, anak kandung tuan Hendra hanya lah anak dari istri kedua nya ya itu tuan muda Gavin, ini Surat yang di tulis oleh tuan Hendra sendiri sebelum kepergiannya."Ucap Herman menyerah kan secarik kertas.
Deg ... jantung Haikal seakan ingin berhenti berdetak, tidak di sangka dia mendapat kabar seperti ini padahal papa nya tidak pernah mengatakan apa-apa soal dirinya, atau anak angkat apapun lah itu semacam nya.
Haikal menatap nanar sepucuk surat yang di berikan oleh Herman kepada nya.
"Tidak, aku tidak percaya jika ini adalah tulisan papa."Ucap Haikal membantah pernyataan mereka.
"Ya, kau bisa membantah semua itu dengan leluasa, tapi kau tidak bisa membantah isi surat wasiat ini, kak!"Ucap Gavin memegang pundak Haikal dan menatap nya dengan tatapan tajam.
"Haikal, sebagai ibu yang baik, aku beri kau waktu satu Minggu untuk membereskan barang-barang mu dan mengatakan kepada seluruh karyawan di kantor ini jika kau akan segera memindahkan kekuasaan di kantor ini kepada Gavin,dan juga angkat kaki dari mansion itu. Setelah satu Minggu aku akan datang ke mansion dengan pengacara Herman, dan mansion harus sudah kosong, kau mengerti?"Ucap mama Rania menepuk pundak Haikal.
"Ayo ma!"Ucap Gavin kepada sang mama.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu Gavin, Herman dan mama Rania pun keluar dari ruangan Haikal.
Sementara itu, Haikal mengepal kan kedua tangan nya berusaha menahan emosi.
"Arghhhh!"Marah Haikal membabi-buta dan melemparkan apapun yang ada di sekitar nya.
"Papa! Ini tidak benar! Katakan padaku jika ini tidak benar!"Teriak Haikal sambil mengacak rambut furstasi.
Haikal yang kebingungan menghadapi situasi ini tidak tau harus berbuat apa, dia tidak menyangka semua bukti datang kepada nya setelah sang papa meningal dunia, kenyataan yang tidak masuk akal bahwa dirinya bukan anak kandung papa Herman pun tiba-tiba terkuak begitu saja, serta surat wasiat yang mengatakan dirinya harus menyerahkan perusahaan itu kepada Gavin adik tirinya.
"Tidak, aku tidak akan diam saja, Rania dan anak nya itu, orang yang sangat licik, pengacara itu juga terlihat aneh."Batin Haikal yang tidak lah bodoh seperti yang di pikir kan mama Rania beserta Gavin.
"Apa? Ini tidak mungkin, jadi Haikal bukan anak kandung Hendra? Dan tiga orang tadi itu? Mereka adalah pewaris sah perusahaan ini? Itu artinya Haikal akan jatuh miskin?"Ucap Nisa yang ternyata sudah menguping pembicaraan Haikal dan mama Rania serta dua orang laki-laki yang satu nya anak kandung papa Hendra yang satu nya pengacara.
Nisa pun langsung masuk ke dalam ruangan Haikal dan menatap Haikal dengan tatapan bingung.
"Ni,Nisa, sejak kapan kau datang?"Tanya Haikal dengan ruangan yang sudah berantakan.
__ADS_1
"Aku sudah mendengar semuanya, apa itu benar?"Tanya Nisa memasang wajah sedih.
"Aku tidak tau, tapi aku akan menyelidiki nya, aku yakin semua ini adalah ulah busuk Rania yang hendak menyingkirkan aku, karena dari awak aku sudah tidak menyetujui pernikahan dia dengan papa ku, Nisa aku mohon percaya lah pada ku."Ucap Haikal memegang tangan Nisa.
"Iya, iya aku percaya itu, aku ke sini membawakan mu makan siang, sekarang makan lah terlebih dahulu, tenang kan pikiran mu ya."Ucap Nisa dengan mulut manis nya.
"Terima kasih banyak."Ucap Haikal yang kemudian memeluk Nisa dengan erat nya.
"Astaga, mengapa aku buang-buang waktu seperti ini? Ternyata dia benar-benar bukan pewaris tunggal perusahaan besar ini, ini merugikan sekali, arghh, bagaimana caranya aku bisa melepaskan diri dari laki-laki yang sudah tidak berguna ini?"Batin Nisa bergejolak.
Bagi nya tidak mungkin meningal kan Haikal sekarang, karena itu akan membuat dirinya malu jika Haikal tau ia hanya mengejar harta warisan.
"Baik lah, kau mungkin butuh waktu sendiri dulu, aku juga masih ada kerjaan yang belum aku selesai kan, kalau begitu aku pergi dulu."Ucap Nisa melepaskan pelukan nya dan berjalan keluar dari ruang kerja Haikal.
"Terima ... "Ucap Haikal terhenti karena merasa sedikit aneh dengan aroma badan Nisa yang tercium aroma parfum laki-laki.
Haikal pun mengerutkan keningnya sambil mengendus-endus aroma parfum yang tertinggal.
__ADS_1
Bersambung ....