
Mama Rania dan Gavin pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruang rawat papa Hendra.
Terlihat papa Hendra yang terbaring lemah dengan banyak bantuan alat medis di badan nya.
"Ma, jika kita bicara,apa dia akan mendengar kan kita?"Tanya Gavin kepada mama nya.
"Tentu saja tidak, dia sekarang sedang sekarat."Jelas sang mama tersenyum licik.
"Ma, aku berharap dia mati, dan kita bisa mengambil semua aset yang dia miliki."Ucap Gavin dengan wajah datar nya menatap papa Hendra yang saat ini sedang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
"Mama juga berharap seperti itu."Ucap mama Rania yang sama jahat nya dengan sang anak.
Begitu lah mereka berdua yang sangat licik mengharapkan kematian papa Hendra untuk merebut semua harta yang sebenarnya bukan lah hak mereka.
Dua hari pun berlalu.
Sejak satu hari ini, papa Hendra hanya di rawat oleh suster di rumah sakit, beliau pun masih dalam keadaan belum sadar kan diri, sementara mama Rania dan juga Gavin samasekali tidak terlihat batang hidungnya setelah hari pertama papa Hendra di rawat.
"Huh, damai sekali tidak ada orang yang memarahi ku di rumah ini."Batin Gavin sambil bersantai.
Sementara itu mama Rania baru saja kembali dari mall dengan menenteng banyak barang belanjaan di tangan nya.
"Huh, lelah sekali."Ucap mama Rania dengan wajah bahagia nya.
Namun saat itu juga telpon rumah kembali berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Gavin angkat telpon nya, mama mau istirahat."Ucap mama Rania berjalan ke kamar nya.
__ADS_1
"Menyebalkan sekali."Gerutu Gavin.
Mau tidak mau Gavin pun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Telpon rumah tersebut dan mengangkat nya.
Call on
"Hallo?"Ucap Gavin dengan nada malas sambil menempelkan telpon tersebut ke telinga nya.
"Maaf tuan,ini saya, dokter yang menangani pak Hendra."Ucap dokter tersebut di sebrang telpon.
"Iya dokter, ada apa? Apa ada perkembangan dengan papa saya?"Tanya Gavin penasaran.
"Maaf tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dan seperti nya pak Hendra tidak bisa melewati masa keritis nya."Ucap dokter tersebut dengan suara yang sedikit berat.
"Apa maksud anda? Apa papa saya meningal?"Tanya Gavin lagi.
Call off.
"Benar kah? Mengapa mudah sekali? Sudah mati saja? Cepat sekali rencana ku berhasil."Ucap Gavin yang wajah nya terlihat sangat senang.
"Ada apa Gavin?"Tanya mama Rania yang penasaran dan menghampiri Gavin.
"Ma, seperti nya tuhan sedang memihak kita, tua bangka itu sudah tidak ada, dia sudah mati ma!"Ucap Gavin menguncang bahu mama nya.
"Apa? Gavin jangan bercanda, ini sama sekali tidak lucu."Ucap sang mama masih tidak percaya.
"Aku tidak bercanda ma, dokter yang menelpon barusan dan meminta kita ke sana untuk mengurus semuanya."Ucap Gavin.
__ADS_1
"Astaga ayo cepat sekarang juga kita pasti kan apa kah itu benar atau tidak."Ucap mama Rania terlihat bersemangat.
Mereka pun akhirnya keluar dari rumah itu dan pergi menuju rumah sakit.
Sementara itu di sisi lain.
"Mengapa perasaan ku jadi tidak enak ya? Tiba-tiba saja aku memikirkan Hendra."Ucap Oma yang saat itu sedang berada di taman depan mansion untuk menghirup udara pagi yang segar.
"Ada apa Oma?"Tanya Haikal yang sedari tadi menemani Oma.
"Haikal,apa kau tidak menghubungi papa mu? Tiba-tiba saja Oma merasa khawatir dengan nya."Jelas Oma mengutarakan perasaannya tidak enak nya tentang papa Hendra.
"Tidak perlu ma, papa sudah bahagia di sana, dia tidak membutuhkan kita apalagi peduli kepada kita, mengapa aku harus menghubungi nya, aku bahkan sudah menuruti apa yang dia inginkan."Ucap Haikal cuek.
"Tapi perasaan Oma kali ini berbeda Haikal, Oma merasa sesuatu terjadi kepada papa mu."Jelas Oma khawatir.
"Sudah lah, Oma hanya merindukan papa, tidak ada apa-apa,itu hanya rasa rindu biasa saja."Haikal tidak mempercayai firasat yang di rasakan oleh Oma.
"Yaudah, sekarang bawa Oma ke dalam, Oma ingin menemui Yuri."Ucap Oma merasa Haikal bukan lah tempat curhat yang baik, bukan nya membuat Oma tenang dia malah mengacuhkan perasaan Oma.
"Baik lah ayo."Haikal pun mendorong kursi roda Oma nya masuk ke dalam Mansion.
"Abel, di mana Yuri?"Tanya Haikal saat melihat Abel yang sedang membersihkan perabotan mansion.
"Nyonya, dia di mana ya? Saya tidak melihat nya sejak pagi."Ucap Abel kebingungan.
Haikal dan Oma pun saling pandang, mereka bingung dengan jawaban Abel karena biasanya Yuri sudah sibuk ke sana ke sini jika pagi hari.
__ADS_1
Bersambung ....