Selembar Surat Kontrak

Selembar Surat Kontrak
Episode 72


__ADS_3

"Haha, apa cucu mu itu tidak memberi tahu kepada mu jika aku datang membawa surat wasiat dari mas Hendra?"Tanya Rania dengan senyum licik nya.


"Surat wasiat apa? Surat wasiat untuk memasukkan kalian kedalam penjara?"Jawab Haikal sambil melirik jam tangannya beberapa kali.


"Haikal, ternyata kau memang keras kepala, jika seperti ini, aku terpaksa harus membawa hal ini ke jalur hukum."Ancam Herman di sertai anggukan mama Rania dan Gavin.


"Membawa ke jalur hukum? Ya, aku rasa itu memang harus."Ucap Yuri yang kini menuruni tangga dengan senyum tipis nya.


Haikal pun menoleh ke arah sang istri dan tersenyum manis.


Sementara itu, Gavin kaget dengan apa yang di lihat nya, dia tidak menyangka wanita yang membuat nya tergila-gila dalam beberapa hari ini ada di dalam mansion itu.


"Kau?"Ucap Gavin menujuk ke arah Yuri.


"Hmm?"Ucap Yuri melirik Gavin dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Jujur Yuri tidak menyangka jika adik tiri nya Haikal adalah Gavin si ceroboh yang hampir menabrak seorang nenek.


Melihat tatapan Gavin yang berbeda ke arah istri nya, dengan cepat Haikal merangkul bahu istri nya itu.


"Apa yang kau lihat Gavin?"Tanya Haikal dengan tatapan tajam.


"Haha, tentu saja wanita cantik yang ada di sebelah mu itu."Ucap Gavin mendekati Haikal.


"Gavin, apa yang kau lakukan!"Ucap mama Rania kepada Gavin.


"Jaga mata mu, atau aku akan membuat kau buta selamanya!"Marah Haikal karena Gavin sudah keterlaluan.

__ADS_1


"Haikal, siapa dia? Apa dia budak mu? Mengapa kau tidak berfikir menukar kan harta ini dengan wanita cantik yang berada di sebelah mu itu?"Tanya Gavin dengan bodoh nya.


"Apa? Hey Gavin jangan bodoh!"Ucap Herman kesal.


"Gavin, apa-apaan kau?"Ucap mama Rania kaget dengan kebodohan Gavin.


"Ck, jangan bodoh Gavin, aku bahkan lebih rela kehilangan harta dari pada istri ku! Cam kan itu, dia istri ku!"Ucap Haikal sambil mencengkram kerah kemeja yang di gunakan oleh Gavin.


Deg ... Gavin sontak kaget mendengar ucapan Haikal barusan, hal ini tentu membuat dia semakin emosi.


"Lepas kan! Aku tidak percaya itu!"Marah Gavin menepis tangan Haikal.


Permasalahannya kini malah menjadi Gavin dan Haikal memperebutkan Yuri, bukan harta nya.


"Astaga dasar mata keranjang! Gavin! Hentikan! Kau ini apa-apaan? Masih banyak wanita lain di luar sana, jangan bertingkah konyol seperti itu, ini bukan saat nya!"Marah sang mama yang kemudian menarik Gavin ke samping nya.


"Yang harus di penjara itu adalah kalian, bukan putra ku, mengapa putra ku harus masuk penjara?"Ucap seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu dengan gagah nya.


Sontak semua mata mengarah ke arah orang itu.


"Hendra!"


"Papa!"


"Mas Hendra!"


Semua orang yang ada di ruang tengah mansion kaget melihat kedatangan seseorang yang ternyata adalah papa Hendra.

__ADS_1


tidak hanya papa Hendra di sana juga ada pengacara Ferguson dan juga tiga orang polisi.


"Raina, mengapa kalian harus kaget melihat ku? Bagaimana? Ekting ku bagus kan? Kebusukan kalian dengan cepat terungkap."Ucap papa Hendra sambil tersenyum miring.


"Mas, jadi, jadi kau pura-pura mati? Kau? Sial! Kau menjebak kami?"Ucap mama Rania yang kini sudah mulai panik.


"Ya, aku menjebak kalian, hari itu aku sudah tau anak nakal itu merusak rem ku, dan aku mengemudi mobil dengan kecepatan pelan, kecelakaan itu pun tidak parah hanya aku sengajai, dan orang yang kalian makan itu adalah orang lain, aku jga bekerja sama dengan Ferguson dan juga dokter di rumah sakit."Jelas papa Hendra panjang lebar.


"Keterlaluan!"Marah Gavin menatap papa Hendra dengan tatapan tajam.


"Pak, tangkap mereka! Mereka telah begitu banyak melakukan perbuatan jahat dan mencoba membunuh tuan Hendra!"Perintah pengacara Ferguson kepada tiga polisi yang mereka bawa.


"Tidak, Hendra, tolong jangan penjarakan Gavin, yang salah adalah aku dan Rania, tolong biar kan dia bebas!"Ucap Herman kepada papa Hendra.


"Ya, sebagai seorang ayah, aku tau,kau pasti akan melindungi anak mu, Herman, tapi kau tidak seharusnya melakukan hal bodoh ini."Jelas papa Hendra.


"Anak? Apa maksud papa?"Tanya Gavin kepada papa Hendra.


"Gavin, dia adalah papa kandung mu."Ucap papa Hendra.


"Apa? Om Herman? Dia adalah papa kandung ku?"Tanya Gavin dengan wajah kaget nya.


"Gavin, maaf kan aku."Ucap Herman kepada Gavin.


Suasana semakin memanggang kan, ketiga polisi sudah bersiap-siap untuk menangkap Rania, Herman dan Gavin.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2