
"Ya, kau benar, aku seharusnya tidak melakukan hal bodoh dengan membenci papa, sehingga papa meningal kan aku, setelah aku dewasa aku baru mengerti apa yang di lakukan papa ku juga demi dirinya agar ada yang memperhatikan dan merawat apalagi dia memiliki penyakit jantung."Ucapan Haikal dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Apa sekarang kau menyesali semua yabg terjadi?"Tanya Yuri.
"Seperti yang kau lihat, tetapi tidak bada gunanya, papa sudah tidak ada dan aku akan selama nya menyesali kebodohan ku."
"Tapi mengapa saat papa mu ada di sini kau tidak memedulikan nya?"Yuri kebingungan dengan sikap Haikal.
"Karena aku tidak tau harus bagaimana meminta maaf dan mengatakan aku sangat bodoh dan menyesal."Ucap Haikal.
"Hmmm, tidak boleh seperti itu, aku yakin papa pasti akan sangat senang jika kau megiklas kan kepergian nya, dan soal masal lalu, papa mu juga pasti sangat menyesal meningal kan mu, meskipun sekarang papa tidak ada, dengan penyesalan mu ini, papa pasti tau kau begitu menyayangi nya, nanti kau bisa mengajak Oma ke makam papa kan?"Ucap Yuri lagi berusaha menghibur Haikal agar tidak terlalu merasa bersalah.
Haikal menatap Yuri yang saat itu duduk di samping nya, angin berhembus pelan sehingga membuat rambut lurus dan lembut milik Yuri berterbangan.
"Entah kenapa setiap perkataan nya, membuat hati ku menjadi tenang, dan menatap wajah nya aku merasa nyaman,dan jantung ku selalu lebih kencang berdegup saat dekat dengan nya,rasa ini beda dengan saat aku bersama Nisa atau mencium nya itu terasa biasa saja, tapi dengan Yuri semua nya terasa berbeda."Batin Haikal hampir tak berkedip menatap Yuri.
"Hey, mengapa menatap ku seperti itu?"Tanya Yuri sambil melambai kan tangan ke depan Haikal.
"Eh, em, tidak ada."Jawab Haikal tersadar dari lamunannya.
"Aku pikir orang kaya cukup beruntung lahir dalam hidup yang di penuhi segala sesuatu yang cukup, aku bahkan sempat berfikir tidak akan ada kesulitan bagi mereka,tapi setelah melihat mu aku menjadi ingin hidup miskin saja."Ucap Yuri dengan wajah serius.
__ADS_1
"Apa? Apa maksud mu kehidupan ku ini tidak enak?"Ucap Haikal kesal.
"Hahah, bukan, bukan seperti itu,tapi itu benar."Ucap Yuri tertawa renyah.
"Diam perempuan bodoh, atau aku akan melempar mu ke atas pohon sehingga kau tidak akan bisa turun!"Ucap Haikal marah.
"Lihat lah, wajah marah yang menyebalkan! Haha!"Yuri sama sekali tidak takut, malah ia semakin keras tertawa.
"Ulat,ad ulat di anggur mu!"Ucap Haikal memasang wajah panik nya.
"kyaaaaa!" Jerit Yuri memeluk Haikal setelah melempar kan anggur yang dia pegang sehingga berserakan di bawah pohon.
Sedikit yang Haikal ketahui Yuri sangat fobia ulat, bahkan sekecil apapun.
"Aku benar-benar geli, tolong singkirkan ulat nya."Ucap Yuri dengan keadaan yang masih panik dan memeluk Haikal.
"Astaga,apa kau masih belum paham? Aku berbohong!"Ucap Haikal dengan suara tawa yang masih tersisa.
Mendengar itu, Yuri pun mengdongak kan kepala nya menatap Haikal dengan tatapan marah.
"Kau membohongi aku?"Ucap Yuri yang kemudian melepaskan pelukan nya dan menatap buah anggur yang sudah berserakan.
__ADS_1
"Kau duluan yang membuat aku kesal."Umpat Haikal balik.
"Tapi setidaknya aku membuat mu tertawa kan, setelah kau menjahili aku."Jawab Yuri lagi.
Haikal terdiam mendengar ucapan Yuri barusan,hati nya yang awalnya sedih sekarang lebih sedikit merasa terhibur dengan tingkah laku Yuri.
"Maaf, aku membuat makanan mu berserakan."Ucap Haikal sedikit merasa bersalah dengan kejahilan nya.
"Hmm, maaf-maaf, tapi sudah lah,kau tertawa aku senang."Ucap Yuri.
"Mengapa? Aku yang tertawa jadi kau yang bahagia."Ucap Haikal.
"Lupakan."jawab Yuri singkat.
"Yuri, jika di pikir-pikir, yang kau katakan itu benar, kehidupan ku tidak seenak yang kau bayangkan, aku punya semua harta tapi tidak dengan orang tua dan seperti nya kehidupan mu sebelum nya sebagai orang biasa itu nyaman kan?"Haikal kembali terlihat serius berbicara.
"Salah, itu salah besar, jika aku hidup enak menjadi orang biasa, aku tidak mungkin menerima penawaran Nisa untuk menjadi seperti sekarang ini."Ucap Yuri kepada Haikal dengan tatapan sedih.
"Apa kau menyesal telah menerima permintaan Nisa untuk menikah dengan ku?"Gumam Haikal merasa sedikit bersalah.
"Jika di bilang menyesal, itu tidak sepenuhnya, karena aku bisa membiayai ibu yang ada di rumah sakit, hanya saja aku merasa sedih karena seperti nya tidak ada impian yang akan tercapai setelah ini."Ucap Yuri sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Kali ini Yuri tidak berani menatap Haikal, seperti nya hari ini mereka benar-benar akan bicara panjang lebar dan menghabiskan waktu seharian bersama.
bersambung ....