
Perlahan Yuri duduk di kursi di samping ranjang ibu nya.
"Ibu, apa kabar?Ini aku Yuri? Aku datang menjenguk ibu."Ucap Yuri sambil memegang tangan ibu nya dengan air mata yang menetes.
Merasa ada yang memegang tangan nya, sang ibu pun membuka mata dan menoleh pelan ke arah orang tersebut.
"Yu, Yuri?"Tanya ibu nya.
Ya ibu Yuri sejak sakit tidak bisa mengenali orang dengan baik, karena ingatan nya sedikit terganggu serta pengelihatan yang tak terlalu jelas.
"Iya ibu, ini aku, anak mu."Ucap Yuri dengan pelan.
"Aku punya anak? Siapa?"Tanya ibu nya Yuri kembali melupakan Yuri.
Ya begitulah, dia bisa ingat dalam sekejap dan begitu juga melupakan.
"Ibu, tidak apa-apa, jangan mencoba mengingat jika ibu tidak bisa, melihat ibu sadar dan bisa bicara saja aku sudah sangat bahagia."Ucap Yuri sambil menyeka air matanya.
Haikal yang melihat itu pun menghampiri Yuri dan memegang pundak nya.
"Apa kau sekarang merasa lebih senang?"Tanya Haikal.
"Iya, tadi ibu mengenali aku, dan tiba-tiba lupa lagi."Ucap Yuri tersenyum namun air matanya menetes.
"Kalian berdua? Sangat cocok, kau gadis cantik dan dia sangat laki-laki tampan yang selalu masuk ke dalam ruangan ku, tapi aku melupakan nya."Ucap ibu Yuri dengan wajah pucat nya namun bibir nya masih bisa menampilkan senyum tipis yang indah.
Begitu lah kondisi sang ibu sekarang, walaupun operasi sudah di langsung kan dan penyakit nya berangsur membaik namun soal kesehatan mental dan juga pikiran nya agak sedikit seperti orang linglung.
__ADS_1
Meskipun begitu, Yuri tidak pernah mempermasalahkan ingat ibu nya, di pikiran nya sang ibu sehat dan bisa bicara itu sudah sangat membuat nya bahagia.
Tiga puluh menit pun berlalu.
"Ibu, sebaiknya sekarang ibu istirahat, kondisi ibu seperti ini tidak baik turus mengobrol."Ucap Haikal memegang tangan ibu nya Yuri.
"Hmm, baik lah, kalau begitu aku akan istirahat dan kalian pergi saja, iya kalian boleh pergi."Ucap sang ibu meracau.
"Yuri, sekarang kita pergi dulu, biar kan ibu mu banyak istirahat, dan di sini juga ada suster yang menjaga nya, pikiran nya tidak boleh kacau sedikit pun."Ucap Haikal membujuk Yuri.
"Hmm, baik lah, rasa rindu ku sudah sedikit terobati, aku sekarang lebih lega untuk melakukan pekerjaan apapun setelah bertemu ibu."Jelas Yuri.
Haikal mengangguk kan kepala nya dan mengengam erat tangan Yuri.
Setelah berpamitan, mereka pun akhirnya keluar dari rumah sakit itu.
Setelah keluar dari rumah sakit itu, Yuri merasakan perasaan yang begitu lega karena sudah melihat bagaimana perkembangan dan kesehatan sang ibu di sana.
Kini Yuri dan Haikal telah masuk ke dalam mobil, mereka akan kembali ke mansion karena jika terlalu lama di luar Oma akan khawatir dan mencari Yuri.
"Mengapa sulit sekali!"Ucap Yuri hampir emosi saat hendak memasang sabuk pengaman nya.
"Ada masalah?"Ucap Haikal melihat ke arah Yuri yang sedang kesulitan.
"Aku,aku tidak mau pakai sabuk pengaman."Ucap Yuri melepaskan sabuk pengaman yang sulit untuk di pasang.
"Biar aku bantu."Ucap Haikal mengambil alih untuk memasang sabuk pengaman Yuri.
__ADS_1
Saat ini lah degup jantung Yuri tak bisa di kontrol, dia sendiri tidak tau apa yang terjadi yang jelas jantung nya seperti ingin meledak saat Haikal benar-benar dekat dengan nya.
Aroma parfum yang wangi itu mengingat saat malam pertama mereka yang di lakukan tampa sengaja di hotel xx di Paris.
"Mengapa susah sekali ya?"Ucap Haikal juga kesulitan untuk memasang sabuk pengaman tersebut.
"Tunggu ada sesuatu di rambut mu."Ucap Yuri meraih sebuah daun bunga kecil yang entah sejak kapan ada di atas kepala Haikal.
Mungkin mereka melewati pohon yang berbunga di lorong rumah sakit tadi.
Sejenak Haikal pun terdiam dan membiarkan Yuri memegang helaian rambut nya.
Wajah cantik itu benar-benar tidak bisa membuat seorang diam saja.
"Mengapa kau begitu cantik?"Batin Haikal menatap wajah Yuri.
"Sudah."Ucap Yuri menunjukkan apa yang dia ambil dari rambut Haikal.
Namun bukan nya melihat itu, Haikal malah melihat wajah Yuri tampa berkedip.
Yuri yang menyadari itu, bukan nya menegur atau menyadari Haikal dari lamunan nya ia malah ikut terhipnotis akan wajah tampan suaminya itu karena jarang mereka tidak sampai sejengkal hanya beberapa inci saja.
"Kau cantik."Ucap Haikal tampa berkedip.
"Hmm?"Ucap Yuri tak mampu angkat bicara.
Haikal yang kehilangan kendali, sontak menarik tengkuk Yuri lebih mendekat ke wajah mereka.
__ADS_1
Bersambung ....
Maaf ya kalau pencitraan nya kurang hehe,aku sedang kebingungan memikirkan alur.