Selembar Surat Kontrak

Selembar Surat Kontrak
Episode 43


__ADS_3

Haikal pun mengingat kejadian dua hari lalu,di mana dia memarahi Yuri habis-habisan karena telah menuduh Nisa meracuni sup Oma, dan sejak hari itu Yuri selalu menjauh dari nya.


"Permisi Oma, tuan muda, apa kalian sedang mencari nyonya muda?"Tanya salah satu maid yang kebetulan lewat di ruang tengah mansion.


"Iya."Jawab Haikal dan Oma secara bersamaan.


"Saya melihat nyonya di perpustakaan mansion, mungkin sedang membaca buku."Ucap maid itu.


"Oh benar kah? Kalau begitu ayo Haikal antar kan aku ke perpustakaan mansion."Ucap Oma lagi.


"Em ,Oma sama saya saja."Ucap Abel menawarkan diri.


"Tidak perlu, biar aku saja."Ucapan Haikal hendak mendorong kembali kursi roda Oma.


Namun tiba-tiba ponsel nya pun berdering, menandakan ada sebuah panggilan masuk.


"Yasudah, Abel bawa Oma bertemu Yuri, aku angkat telpon dulu."Ucap Haikal berjalan menjauh dari ruang tengah mansion.


"Baik tuan muda."Jawab Abel mengambil alih mendorong kursi roda Oma menuju perpustakaan mansion.


Tidak butuh waktu lama, Abel dan Oma pun tiba di perpustakaan mansion, mereka masuk ke dalam perpustakaan besar tersebut, dan benar saja, ada Yuri di sana, namun dia terlihat sedang tidur nyenyak dengan bulpen yang masih dia genggam dengan erat.


"Oma, seperti nya nyonya muda sedang tertidur?"Ucap Abel mengecilkan volume suara nya.


"Iya, mengapa dia membaca sampai ketiduran seperti ini, kasian sekali."Ucap Oma mengamati Yuri.

__ADS_1


"Seperti nya nyonya sedang tidak membaca Oma, itu ada bulpen di tangan kanannya."Tujuk Abel.


"Coba kau ambil kertas yang itu, aku penasaran dia menulis apa?"Perintah Oma kepada Abel.


Abel pun mengangguk dan dengan pelan mengambil kertas tersebut dan memberikan nya kepada Oma.


"Oma, seperti nya ini bukan tulisan, tapi sebuah gambar desain baju, ini sangat cantik."Ucap Abel terpana akan apa yang dia lihat di kertas itu.


"Apa ini Yuri yang membuat nya? Abel apa kau tau Yuri memiliki bakat dalam mendesain pakaian seperti ini?"Ucap Oma tak kalah kagum nya.


"Tidak tau Oma, tapi sepertinya nya ini lah bakat nyonya yang sengaja di sembunyikan oleh nya."Ucap Abel.


Namun tepat saat itu Yuri mengerakkan tubuh nya, membuat Oma dan Abel kaget,dan memutuskan untuk menaruh kembali kertas tersebut ke tempat sebelum nya.


"Jangan ganggu dia, dan ingat, apa yang kita lihat tadi sebaiknya jangan di bicarakan dulu, aku akan menanyakan langsung nanti setelah waktu nya tiba."Ucap Oma kepada Abel.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk tidak menggangu Yuri, dan memilih untuk keluar dari perpustakaan tersebut.


"Seperti nya Yuri memiliki cita-cita yang besar."Batin Oma sambil tersenyum kecil.


Entah apa rencana yang akan Li lakukan Oma selanjutnya untuk cucu menantu nya itu yang jelas Oma selalu merasa bangga kepada Yuri.


Sementara itu di sisi lain.


"Tidak, itu tidak mungkin, jangan coba-coba berbohong kepada ku!"Ucap Haikal dengan ponsel yang di lakukan di kuping nya.

__ADS_1


"Apanya yang tidak mungkin Haikal? Papa mu sudah tidak ada, sekarang kami sedang mengurus pemakaman nya."Ucap seseorang di sebrang telpon.


Haikal melemparkan ponsel nya hingga jatuh berserakan di lantai keramik mansion.


"Ada apa sayang?"Tanya Nisa yang buru-buru menghampiri Haikal.


"Aku tidak percaya, dia mengatakan hal bohong, papa tidak mungkin meningal, tidak mungkin!"Jerit Haikal melepaskan semua emosi nya.


"Apa?!"Ucap Oma yang ternyata mendengar kan semua ucapan Haikal barusan.


"O,Oma!"Ucap Haikal berbalik dan melihat Oma yang sudah gemetar.


"Tidak, tidak mungkin, Haikal? Kau hanya asal bicara kan?"Tanya Oma dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Haikal pun menghampiri Oma dengan kaki gemetar dan bersimpuh di hadapan Oma.


"Oma, wanita itu menelpon ku, dia mengatakan jika papa sudah tidak ada dan sekarang mereka sedang mengurus pemakaman, mereka mengatakan jika penyakit jantung papa kumat dan tidak bisa di selamat kan."Ucap Haikal menangis sambil membenamkan wajah di kedua lutut Oma.


Air mata Oma tak bisa di bendung lagi, dengan gemetar tangan nya mengusap lembut kepala Haikal.


"Firasat Oma sekarang benar-benar terbukti Haikal, dan sekarang itu semua terjadi, papa mu meningal kan kita, dan di saat terakhir nya kita tidak berada di sisi nya, kita sudah kehilangan papa mu!"Ucap Oma dengan air mata yang sudah membasahi wajah nya.


"Pemandangan membosankan."Batin Nisa yang sama sekali tidak mempedulikan hal ini, malah dia senang karena akhirnya penghalang nya sudah berkurang satu, pikir nya dalam hati.


"Oma, papa, papa sudah tidak ada, aku tidak percaya ini."Ucap Haikal melemah.

__ADS_1


Namun Tampa sepengetahuan Haikal,Oma pun sudah jatuh pingsan di atas kursi roda nya.


bersambung ....


__ADS_2