
...Aku pernah mencintaimu dengan berlebihan. Sampai aku mengemis kepadamu untuk tidak meninggalkan aku. Sampai aku merendahkan harga diriku sendiri dihadapanmu. Tapi tetap saja aku tidak ada artinya dimatamu. Ternyata sesakit ini perjuangan untuk mencintaimu. Maaf, aku akan pergi....
Sehari setelah mengetahui kalau Weny sedang hamil, Vira bisa merasakan perubahan sikap Yudha kepadanya. Pria itu seperti sudah tidak memperdulikan Vira lagi dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama dengan Weny.
Seperti halnya malam ini, Vira tengah melihat Yudha duduk santai di balkon rumah sambil sibuk dengan ponselnya. Karena merasa sudah lama tidak bercengkrama dengan suaminya, Vira memutuskan untuk mendatangi Yudha dengan alasan membawakannya kopi.
"Ini, Mas, kopinya," ucap Vira sambil menaruh satu cangkir kopi di atas meja kecil di depan sana.
Yudha hanya melirik Vira sesaat kemudian kembali fokus dengan layar ponselnya. Vira pun akhirnya duduk di kursi samping suaminya, rasanya sudah sangat lama dia tidak duduk dibalkon bersama dengan suaminya. Dulu mereka sering melakukan hal itu saat pulang kerja, Vira sangat senang jika menghabiskan waktu di balkon dengan Yudha, pasalnya selalu ada saja hal yang mereka bicarakan sampai lupa waktu.
"Tumben banget kamu di sini, Mas? Sudah lama banget ya kita nggak di sini." Kenang Vira sambil mendongak ke atas menatap bintang-bintang yang malam ini terpancar dengan terang.
Yudha diam saja, pria itu sepertinya sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Vira karena terlalu sibuk dengan ponselnya. Menyadari hal itu membuat Vira menoleb, dia menatap Yudha dalam, Vira masih tidak percaya kalau sikap suaminya bisa berubah. Padahal dulu Yudha selalu sangat perhatian kepadanya dalam hal sekecil apa pun, apalagi saat Vira berbicara Yudha sengaja tidak memainkan ponsel agar dia bisa mendengarkan dengan baik cerita istrinya. Tapi sekarang semuanya sudah berubah.
"Mas," panggil Vira sekali lagi.
__ADS_1
Saat itu Yudha langsung menoleh. "Iya? Kamu mengatakan sesuatu?"
Rasanya sakit mendengar hal itu, tapi Vira tidak ingin berdebat. "Tidak. Aku hanya mengatakan cepat minum kopinya selagi masih hangat," jawab Vira pada akhirnya.
"Ah, iya. Aku lupa." Yudha langsung meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu dia mulai mengangkat cangkir kopinya.
Vira langsung bisa melihat kalau ternyata Yudha sedang melihat-lihat perlengkapan bayi di toko online, dia mengira kalau sejak tadi Yudha sibuk dengan ponselnya itu karena masalah pekerjaan. Tapi ternyata itu alasan sebenarnya, melihatnya membuat Vira sedikit sakit hati.
Padahal tadi dia berusaha untuk mengingatkan Yudha tentang masa lalu mereka berdua agar pria itu tidak melupakannya, tapi sepertinya saat ini Yudha benar-benar sudah fokus dengan kehamilan Weny. Dia kelewat bahagia karena akan segera menjadi seorang ayah.
"Apa-apaan ini, rasanya aneh." Yudha tiba-tiba saja menyemburkan kopi yang baru saja dia minum. Hal itu membuat Vira sangat terkejut.
"Kamu tau 'kan kalau aku tidak menyukai kopi manis. Kamu kasih gula berapa sendok ini?" bentak Yudha dengan nada bicara yang sangat tinggi. Vira belum pernah dibentak sampai seperti ini oleh suaminya sendiri.
"Tiga sendok teh seperti biasa, Mas. Masa kemanisan, sih?"
__ADS_1
"Kamu rasain aja sendiri. Aku udah nggak selera minum kopi lagi," jawab Yudha dengan kasar. Detik itu juga dia langsung mengambil ponselnya di atas meja, lalu pergi begitu saja.
"Mas, tunggu. Biar aku buatkan lagi." Vira berusaha untuk mencegah.
"Tidak usah. Kamu memang sudah melupakan semuanya, lebih baik aku tidur sekarang." Yudha pun kembali melangkah meninggalkan Vira yang masih mematung di sana.
Wanita itu hanya bisa pasrah sambil menatap punggung suaminya yang semakin menjauh dari pengelihatannya. Padahal Vira masih ingat betul kalau gula yang harus ditambahkan ke dalam kopi Yudha itu tiga sendok teh, tapi kenapa pria itu sangat marah. Bisa saja Vira membalik keadaan tadi, dia bisa saja menanyakan seauatu yang berhubungan dengan kebiasaannya, pasti Yudha juga sudah sedikit melupakannya. Tapi dengan entengnya Yudha mengatakan kalau Vira sudah melupakan semuanya.
"Kamu kenapa sudah sangat berubah, Mas. Aku merindukan kamu yang dulu, Yudha yang selalu perhatian kepadaku, yang selalu ada untukku. Apa kamu melupakanmu karena terlalu bahagia akan mendapatkan keturunan? Apa kebahagiaanmu tergantung pada keturunan?" gumam Vira.
Vira lalu menghubungi pengacara yang diminta untuk mengurus perceraiannya. Vira mengatakan ingin bertemu besok malam.
Surat perceraiannya telah Vira daftarkan tanpa meminta persetujuan dari Yudha. Vira sudah bertekad kuat mengakhiri segalanya. Namun, dia ingin semua berakhir baik-baik saja. Vira ingin mengenang saat terakhir bersama suaminya, tapi Yudha malah bersikap makin acuh.
Dikamarnya Weny sedang berusaha menghubungi seorang pria. Dia tampak kesal karena tidak jua diangkat teleponnya.
__ADS_1
"Kau kemana? Aku nggak akan bisa terus membohongi Yudha. Sebentar lagi perutku pasti sudah akan membesar," gumam Weny pada dirinya sendiri.
...****************...