
Setelah acara selesai diadakan, Yudha minta izin untuk langsung kembali ke rumah. Hatinya masih sakit dan belum bisa menerima Vira dekat dengan pria manapun termasuk atasannya itu.
Lagi pula Yudha melihat perut mantan istrinya itu juga tampak mulai membuncit, walau tidak sebesar kehamilan istrinya Weny. Perut Weny sudah makin membesar.
Sambil mengendarai mobil, pikiran pria itu masih saja tertuju pada Vira. Sesekali tampak dia memukul setir untuk melampiaskan semua kekesalannya.
"Aku masih tidak percaya jika Vira bisa secepat itu melupakanku. Dia juga tampaknya tidak berbohong jika sedang hamil. Anak siapa itu? Apa benar dia anakku atau anak pria itu, karena Vira tampak sangat akrab dengan Raka itu," gumam Yudha dengan diri sendiri.
Setengah jam perjalanan, sampailah pria itu di rumah yang baru dia beli dari uang pinjaman dari perusahaan. Saat baru keluar dari mobil terdengar suara panggilan seseorang.
"Yudha ...," teriak seorang wanita dari dalam taksi. Yudha menoleh, melihat kakaknya Yuni melambai dari dalam taksi. Yudha menghampiri dengan tersenyum.
"Bayarin uang taksi, Kakak," ucap Yuni. Pria itu langsung membayar dan membantu Yuni mengangkat barangnya.
Mereka berdua berjalan memasuki rumah bersamaan. Tampak Yuni mengamati rumah baru adiknya.
"Ini rumah yang kamu katakan itu?" tanya Yuni.
"Iya, Kak. Masuklah, ibu ada di dalam."
Sampai di dalam rumah, kakak kandung Yudha itu masih terus mengamati rumah. Pandangannya mengedar keseluruhan ruangan.
"Mana ibu dan istrimu?" tanya Kak Yuni melihat ruang keluarga yang sunyi.
"Ibu ...," teriak Yuni.
__ADS_1
Ibu yang sedang membersihkan dapur langsung menuju ke ruang keluarga begitu mendengar suara Yuni putrinya. Melihat ibu, Yuni berlari dan memeluknya.
"Ibu, dari mana?" tanya Yuni.
"Tadi ibu di dapur, sedang memasak," jawab Ibu.
"Kenapa ibu yang memasak. Mana istri Yudha?"
Ibu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan putrinya. Yuni yang belum puas tetap bertanya. Melihat Yudha yang menghampirinya, wanita itu kembali bertanya keberadaan Weny.
"Istrimu mana? Kenapa hanya ibu yang memasak di dapur?" tanya Yuni.
Yudha memandangi ibunya. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Yuni karena tahu bagaimana sifat kakaknya itu. Dia bicara selalu apa adanya. Tidak peduli lawan bicaranya sakit hati.
"Ada. Mungkin di kamar," ujar Yudha pelan.
Tampak Weny sedang tersenyum melihat ke arah ponselnya. Dia belum menyadari kedatangan kakak iparnya itu. Selama menikah dengan Yudha, baru sekali dia bertemu Yuni, saat ijab kabul.
Yuni bertepuk tangan, membuat perhatian Weny yang awalnya ke ponsel jadi berpindah. Dahinya berkedut melihat ke arah Yuni. Mencoba mengingatnya. Akhirnya Weny tersenyum setelah menyadari siapa wanita yang menghampirinya. Dia berdiri menghampiri Yuni.
"Selamat siang, Kak," ucap Weny.
"Enak banget kamu tidur, ya?" tanya Weny.
"Weny lagi hamil, Kak," jawab Yudha. Dia tidak ingin Yuni memarahi Weny.
__ADS_1
"Apa karena hamil tidak bisa melakukan apa-apa? Aku saja hingga kehamilan sembilan bulan masih bekerja."
Weny langsung cemberut mendengar ucapan Yuni. Baru saja datang sudah memarahi dirinya.
"Aku tidak suka kamu membiarkan ibu memasak. Saat dengan Vira, tidak pernah sekali pun aku lihat ibu di dapur. Baru aja tinggal denganmu, ibu yang mengerjakan semua. Apa kamu pikir ibuku pembantu?" tanya Yuni dengan suara tinggi.
"Aku tidak pernah meminta ibu mengerjakan semua. Itu kemauan Ibu saja. Kenapa jadi aku yang disalahkan?"
"Apa kamu pikir aku bodoh? Aku tahu siapa ibuku. Dia sudah tua, tidak mungkin mau mengerjakan semua itu," bentak Yuni.
Ibu yang mendengar suara keras dari kamar Weny menghampiri mereka. Melihat putrinya yang sedang berkacak pinggang. Weny yang melihat kedatangan ibu mertuanya, mendekati wanita itu berharap dapat pembelaan.
"Kak Yuni tanya aja dengan ibu, apakah aku ada meminta ibu mengerjakan semua itu? Itu semua karena kemauan Ibu sendiri," ucap Weny.
"Aku dari awal sudah yakin jika kamu ini licik. Semenjak ibu tinggal dengan Vira, wanita itu selalu memberikan kepercayaan uang belanja untuk ibu yang pegang. Sedangkan kamu! Baru dua bulan menikah semua kamu yang atur. Keuangan semuanya kamu pegang. Aku biasanya selalu di bantu sama Yudha, tapi sekarang sepeserpun tidak ada."
Weny tampak tersenyum mendengar ucapan Yuni. Dia memandangi wanita itu dengan intens tanpa rasa takut.
"Kamu itu bukan tanggung jawab Yudha. Jadi kenapa aku harus mengirim kamu uang? Anakmu itu tanggung jawab bapaknya. Minta saja dengannya, kenapa harus Yudha? Aku ini istrinya. Aku yang berhak mengatur semuanya! Jika kamu ingin uang, bekerjalah! Jangan mengemis saja bisanya!" ucap Weny dengan emosi.
Yuni yang telah bercerai dengan suaminya, memang keuangannya selalu di bantu Vira. Tapi semenjak uang gaji Yudha dipegang istrinya Weny, wanita itu tidak pernah ingat mengirimi Yuni. Sehingga hari ini dia sengaja datang ingin tahu alasannya.
"Dasar pecundang. Kamu bisa membodohi adikku Yudha, tapi tidak denganku. Aku curiga, apakah anak yang kamu kandung itu anaknya Yudha atau orang lain? Dilihat dari besarnya perutmu, kehamilan kamu saat ini pasti telah menginjak 5 bulan. Sedangkan kau dan Yudha baru menikah 3 bulan," ucap Yuni.
Yudha, Ibu Desy dan tentunya Weny tampak kaget dengan ucapan wanita itu.
__ADS_1
...****************...