
...Terkadang takdir menghapus senyuman dan menjatuhkan air mata serta di dukung oleh kekecewaan. Tapi skenario Tuhan jangan kita ragukan. Kita memang mampu melihat yang terjadi detik ini. Namun, Tuhan mempertimbangkan hingga ujung waktu yang tidak kita ketahui....
...Hidup akan indah bila kita mengikhlaskan apa yang selayaknya terjadi karena kita hanya bisa berencana, tapi ketetapan-Nya lah yang akan terjadi. Karena Dia yang paling tau apa yang terbaik untuk kita....
Vira berjalan dengan perlahan saat memasuki rumahnya. Siapa tahu mereka masih berada di sini. Sampai ke ruang tamu, tidak ada siapapun. Pintu kamar tamu yang biasa ditempati Weny terbuka lebar.
Vira berjalan mendekati kamar itu. Dari ambang pintu mengamati isi kamar. Wanita itu memegang dadanya yang terasa nyeri karena membayangkan di sana, di atas tempat tidur itu, suaminya Yudha dan madunya berbagi peluh selama hampir satu bulan ini.
Air mata jatuh membasahi pipinya. Vira memegang perutnya yang masih rata.
"Seandainya kamu bersabar sedikit saja, pasti saat ini kita sedang berbahagia karena akan menyambut kehadiran bayi kita. Saat ini aku tidak tahu, harus bahagia atau sedih. Bukannya aku tidak mensyukuri kehadiran bayi dalam kandunganku ini, tapi aku hanya kasihan karena kehadirannya tidak disambut ayahnya. Apakah aku harus mengatakan atau menyembunyikan saja semua ini?" Vira bicara dengan dirinya sendiri.
Vira menutup pintu kamar itu, berharap kenangan buruk itu juga ikut tertutup. Berjalan menuju kamar dengan langkah pelan. Dia mengambil album pernikahannya dari laci.
"Mas, apa kamu akan senang jika tahu saat ini aku sedang hamil seperti saat kamu mengetahui kehamilan Weny?"
__ADS_1
Cukup lama Vira melihat foto-foto pernikahan mereka. Kepalanya kembali terasa pusing membuat Vira memilih untuk membaringkan tubuhnya.
***
Di sebuah rumah kontrakan, tampak Weny yang sedang berkacak pinggang melihat mertuanya masak. Tampak wajahnya cemberut.
"Apa masih lama lagi makanannya, Bu? Aku lapar banget. Ini pasti anak dalam kandunganku juga sudah sangat lapar. Apa ibu nggak takut terjadi sesuatu dengan calon cucumu ini," ucap Weny dengan mengusap perutnya.
Ibu Desy menatap ke arah Weny. Sesungguhnya dia sangat lelah dan capek. Badannya terasa remuk. Namun, dia ingat saat ini Weny sedang hamil, dipaksakan untuk memasak juga.
"Aku minta Yudha kirimkan makanan saja. Menunggu masakan ibu, bisa-bisa anak dalam kandunganku ini mati," ucap Weny.
Dia berjalan meninggalkan Ibu Desy. Wanita paruh baya itu menarik napas berat.
"Saat aku tinggal dengan Vira, aku tidak pernah diperbolehkan masak. Sebelum pergi kerja, dia masak buat sarapan dan makan siang. Aku hanya tinggal memakannya saja."
__ADS_1
Ibu Desy duduk untuk menghilangkan capeknya sejenak. Tampak termenung menatap dapur. Masih sangat berantakan. Dia masih harus membersihkan semua itu setelah masak nanti.
Weny menghubungi Yudha dan memintanya mengirimkan makanan yang dia minta. Setengah jam kemudian makanan pesanannya datang. Wanita itu membawanya ke meja makan.
Tanpa pedulikan ibu mertuanya yang sedang masak, Weny menyantap makanan itu seorang diri. Ibu Desy hanya menatap dengan ngiler saat Weny menyuap makanan ke mulutnya.
Setelah makan, Weny langsung meninggalkan meja makan. Tidak peduli dengan piring kotor bekas dia makan. Ibu Desy-lah yang membereskan semua itu.
Kembali Ibu Desy hanya bisa mengurut dadanya melihat tingkah menantunya. Sambil masak, wanita paruh baya itu membersihkan meja makan.
...****************...
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.
__ADS_1