SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 42. Positif Hamil


__ADS_3

...Ya Allah, aku melepasnya. Aku melepaskan dia meski dengan terpaksa. Aku janji akan mengikhlaskannya seluas aku mencintainya. Aku kembalikan lagi seluruh cintaku pada-Mu karena memang Engkau-lah maha pemilik cinta ini. Sungguh aku percaya semua telah kau atur sebaik-baiknya. Jika dia memang takdirku biarlah semesta yang akan kembalikan dia padaku....


Vira memasuki ruangannya dengan langkah pelan. Mulai hari ini hidupnya akan berubah. Tidak ada lagi pendamping hidup. Dia akan hidup seorang diri tanpa ada teman.


Wanita itu tetap akan menjual rumah yang pernah dia tempati. Terlalu banyak kenangan di rumah itu. Kenangan manis dan pahit yang dirasakan. Vira tidak ingin mengingatnya lagi.


Vira menghidupkan laptopnya. Melihat layarnya kepala wanita itu terasa pusing. Dari kemarin dia merasakan pusing dan mual.


Vira menghubungi Dewi dan meminta tolong wanita itu membuatkan segelas teh hangat. Dia lalu memejamkan matanya sambil bersandar di kursi berharap rasa pusing segera hilang.


Raka yang baru masuk melihat wanita itu sedang memejamkan mata sambil memijat dahinya. Pria itu menatap tanpa kedip. Entah apa yang ada dipikirannya.


Raka berjalan perlahan, agar tidak mengganggu Vira. Duduk di kursi dengan mata tetap memandangi Vira.


Ketukan di pintu membuat Vira tersadar dari lamunannya. Dia mempersilakan Dewi masuk. Vira kaget saat menyadari Raka yang telah duduk di kursi kebanggaannya.


"Maaf, Pak. Kapan Bapak masuk, kenapa saya tidak mendengar?" tanya Vira.


"Baru saja," jawab Raka pendek, karena Dewi yang masuk dengan membawa segelas teh hangat.


"Ini Bu, minumnya," ucap Dewi meletakkan tepat dihadapkan Vira.


"Terima kasih, Wi. Tolong buatkan kopi seperti biasanya buat Pak Raka," ujar Vira.


"Baik, Bu. Saya pamit dulu," ucap Dewi. Dia menundukan kepalanya saat bertatapan dengan Raka.

__ADS_1


Setelah Dewi menghilang dari pandangannya, Raka kembali angkat bicara. Dia bertanya dengan Vira lagi.


"Sepertinya kamu kurang sehat?" tanya Raka. Dia melihat wajah Vira yang sedikit pucat dan matanya yang sembab. Mungkin habis menangis pikir pria itu. Dia tahu semua yang terjadi di keluarga Vira, dari orang suruhannya.


"Hanya sedikit pusing saja, Pak. Mungkin kurang tidur saja."


"Maaf, bukannya saya ingin ikut campur. Aku harap apapun masalah kamu, jangan terlalu keras memikirkan semua hingga mengabaikan kesehatan. Jika kamu sakit itu akan menambah satu masalah lagi, bukannya menyelesaikan."


Vira tersenyum menanggapi ucapan atasannya itu. Raka selalu saja perhatian padanya. Vira kembali teringat tentang kejadian kemarin di pantai. Dia tersenyum malu mengingat itu semua. Kenapa dia bisa menangis di dada pria itu.


Raka yang melihat senyuman Vira menjadi ikut tersenyum. "Manis banget," ucap Raka tanpa sadar.


Dewi kebetulan baru saja mengantarkan kopi buatnya. Sehingga Vira pikir Raka mengatakan jika kopi itu yang manis.


"Apa, Pak? Manis banget? Aku sudah katakan takaran kopi buat Bapak dengan Dewi. Apa dia lupa ya? Biasnya pas aja'kan Pak takarannya?" tanya Vira.


"Syukurlah. Atau Bapak ingin diganti kopinya?" tanya Vira.


"Nggak perlu. Sebentar lagi kita rapat mengenai proyek yang kemarin. Kita kembali memenangkan tender besar itu," ucap Raka.


Setiap persentase yang dilakukan Vira pasti disukai rekan kerjanya. Perusahaan Raka pasti akan selalu memenangkannya.


Setengah jam berlalu Vira dan Raka telah berada di ruang rapat. Vira merasakan pusing yang teramat sangat. Perutnya juga terasa sedikit keram, dan dia merasakan mual.


Tiba saatnya Vira akan memberikan presentasi di depan karyawan. Dia juga ingin mengatakan apa yang harus dan akan mereka lakukan.

__ADS_1


Lima menit berlalu dengan lancar, karena Vira berusaha menahan mualnya. Namun, pusing yang dia rasakan begitu dahsyatnya. Pandangan wanita itu seketika kabur dan dia akhirnya pingsan. Beruntung Raka bertindak cepat, atasannya itu menangkap tubuh Vira sehingga tidak sampai terjatuh.


Raka minta rapat di tunda. Dia yang menggendong Vira langsung menuju mobilnya. Pria itu melarikan ke klinik terdekat.


Saat ini Vira sedang ditangani dokter. Raka duduk menunggu dengan cemas. Vira tampak mulai membuka matanya. Melihat sekeliling ruangan yang berwarna putih. Raka langsung menghampirinya.


"Syukurlah kamu telah sadar," ucap Raka.


"Saya kenapa, Pak?"


"Kamu pingsan. Saya langsung membawa kamu ke rumah sakit," ucap Raka


Dokter masuk ke ruang itu. Dia memberikan senyuman manisnya.


"Ibu telah sadar. Syukurlah," ucap Dokter itu.


"Saya sakit apa, Dok?" tanya Vira kuatir.


"Bukan sakit, Bu. Cuma ...."


"Cuma apa, Dok?" tanya Raka memotong ucapan Dokter karena merasa cemas.


"Bapak dan Ibu jangan kuatir, ini bukan penyakit. Ini biasa dialami ibu hamil saat trimester pertama," ucap Dokter.


"Hamil ...?" tanya Vira dengan wajah yang sangat kaget.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2