SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 71. Pernyataan Cinta


__ADS_3

Tak terasa saat ini kandungan Vira telah memasuki bulan ke delapan. Perutnya sudah sangat besar. Hubungan Vira dan Raka juga semakin dekat. Di kantor bahkan karyawan lain mengira dirinya dan Raka sepasang kekasih bukan hanya sekadar atasan dan bawahan.


Seperti hari ini, Vira yang ingin periksa kandungannya ditemani Raka. Pria itu selalu saja bersedia direpotkan.


"Kamu mau kalau aku menemanimu pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu? Kamu harus rutin menjumpai dokter, terlebih lagi menjelang masa persalinan seperti saat ini," ucap Raka.


Vira tersenyum ketika Raka yang tidak lain adalah bosnya ini begitu menaruh perhatian dan sikap lembut terhadap dirinya. Vira sangat tidak tahu apakah ini termasuk perlakuan biasa dari Raka pada karyawannya atau justru ada sesuatu yang istimewa di balik semua itu.


Vira masih tidak mau berharap banyak. Sadar siapa dirinya walau orang tua Raka begitu baik dengan dirinya. Pasti untuk mendapatkan pendamping hidup bukanlah hal yang sulit untuk pria seperti Raka.


"Terima kasih, Mas. Saya juga berusaha agar tidak melupakan hal tersebut. Saya hanya sedikit lelah apabila harus bolak-balik ke rumah sakit akhir-akhir ini," ujar Vira.


Raka memang meminta Vira memanggilnya Mas, jika hanya ada mereka berdua. Awalnya Vira merasa janggal tapi karena pria itu memaksa, dia akhirnya mengikuti juga.


Vira mengusap perutnya yang buncit. Semakin dekat pada persalinannya, dia memang merasa mudah sekali lelah. Terkadang juga dia merasa selalu ingin berbaring seharian. Beruntung sekali, bosnya ini bahkan tidak ragu sama sekali untuk memberinya cuti menjelang persalinannya.


"Bagaimana kalau aku saja yang mengantarmu? Atau bagaimana menurutmu apabila kita meminta dokternya yang pergi langsung ke rumahmu?"


Merasa sedikit ragu dengan ide kedua dari Raka yang ingin meminta dokternya agar pergi langsung ke rumah Vira untuk memeriksakan kondisi kandungan Vira. Mungkin itu sudah menjadi tugas dari dokter tersebut, namun Vira terlalu terbiasa agar tidak merepotkan siapa pun di sini.


"Aku rasa mungkin aku yang harus banyak bergerak di sini. Aku hanya tidak mau merepotkan dokternya," ujar Vira.

__ADS_1


Raka hanya bisa tersenyum melihat tingkah Vira. Ini salah satu hal yang membuat Raka kagum pada Vira. Vira tipikal orang yang tidak enakan terhadap orang lain, meski mungkin itu malah merepotkan dirinya sendiri.


"Sudah menjadi tugas dari dokter itu sendiri. Mungkin lebih baik kau juga harus memiliki dokter pribadi di sini. Dokter pribadi tidak akan pernah merasa direpotkan sekalipun harus bolak-balik pergi ke rumahmu. Biarkan aku yang membantumu untuk mengurus semuanya."


Vira berpikir sejenak. Dia merasa bahwa barangkali ini adalah kesempatan emas bagi dirinya dan juga rezeki untuk anaknya, mungkin lebih baik dia tidak menyia-nyiakan hal itu karena belum tentu akan dia dapatkan dari orang lain. Dia memiliki nasib mujur karena sangat dipedulikan oleh bosnya sendiri.


Pada saat itu Vira akhirnya mengangguk. Namun, dia tidak pernah berpikir sama sekali kalau hal tersebut bukanlah satu-satunya atau level tertinggi dari kepedulian Raka terhadap dirinya. Masih ada banyak kejutan yang sama sekali tidak dia sangka-sangka.


Pada hari libur, Vira tidak menyangka sama sekali kalau Raka akan bertamu ke kediamannya. Dia bahkan sedikit merasa gugup karena tidak melakukan atau mempersiapkan apa pun untuk menyambut tamunya itu. Meski terbiasa bertemu dan tinggal berdekatan, dia merasa selalu wajib untuk memperlakukan siapa saja yang datang ke rumahnya dengan baik.


"Kau tidak perlu repot-repot membuatkan teh atau kue apa pun. Aku juga tidak mau kalau itu malah membuatmu merasa lelah. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu. Jadi yang aku butuhkan sekarang adalah kau yang mendengarkanku," ucap Raka yang entah kenapa malah membuat Vira merasa sedikit gelisah.


Ah, menjelang persalinan ini, mood atau suasana hatinya memang gampang berubah. Dia seringkali curiga, bahkan pada orang yang sudah sering berbuat baik padanya.


Raka hanya tersenyum ketika menangkap kekhawatiran di wajah perempuan itu. Dia memang lebih baik jangan membuang waktu di sini, akan jauh lebih baik apabila dia langsung mengatakan maksud kedatangannya pada Vira, meski itu akan membuat Vira sangat terkejut.


"Hanya ingin berterus terang kepadamu bahwa selama ini aku mencintaimu. Sesuatu yang selama ini aku tutupi, mungkin karena aku sendiri juga tidak menyadarinya. Aku memikirkan ini siang dan malam hanya untuk memastikan bahwa apa yang kurasakan memang nyata adanya."


Vira langsung terdiam karena tidak terpikir sama sekali akan hal itu. Dia tidak pernah menduga bahwa kedatangan Raka kembali adalah untuk menyatakan cinta padanya. Dia bukan lagi gadis perawan yang belum menikah atau baru memasuki masa puber yang mudah sekali dibuat luluh oleh gombalan seorang lelaki.


Dia tetaplah wanita dewasa yang sudah pernah menikah dan sudah melalui banyak hal dalam hidupnya. Dia bisa membedakan mana lelaki yang benar-benar ingin hidup bersamanya sebagai partner dan tim kerjasama yang baik dengan lelaki yang hanya menganggapnya sebagai ikan yang perlu diberi banyak umpan agar luluh setelah itu lepas tangan begitu saja.

__ADS_1


Dia selama ini melihat Raka adalah pria yang bertanggung jawab, bukan lelaki yang hanya menganggap perempuan sebagai barang mainan atau sebagai tropi yang harus diperebutkan. Selama ini dia melihat Raka sebagai lelaki yang sangat baik. Raka adalah lelaki dewasa, kalau bukan seperti itu bagaimana mungkin Raka bisa memimpin sebuah perusahaan, di mana banyak mempekerjakan karyawan termasuk dirinya.


"Aku ingin menikahimu segera setelah kamu melahirkan anakmu. Dan aku butuh persetujuanmu dalam hal ini. Kau tahu bahwa tidak mungkin aku memaksakan kehendak pada seseorang."


Vira semakin terkejut bahkan hampir tidak bisa bernafas mendengar kalimat selanjutnya dari Raka. Lagi-lagi, tidak pernah berpikir bahwa ternyata tujuan utama dari Raka kemari adalah untuk menikahinya. Awalnya dia mengira bahwa Raka hanya ingin mengungkapkan perasaannya kepada Vira, namun ternyata Raka juga mengajak Vira untuk menikah.


"Bagaimana pendapatmu, Vira? Kamu tidak harus menjawabnya sekarang. Aku merasa lega karena sudah mengatakan hal ini padamu. Telah lama aku pendam rasa ini, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Kamu boleh mengambil waktu sesuka hatimu untuk berpikir. Aku tahu bahwa ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menerima diriku sebagai suamimu nanti."


Bibir Vira sampai gemetar. Dia sungguh ingin mengatakan sesuatu namun suaranya seperti terhenti di ujung lidah. Bahkan saat ini seperti ada sesuatu yang mencekiknya sehingga membuatnya sedikit merasa sulit untuk bernapas.


"Aku ... " Vira menarik nafas sejenak, berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusan ini sudah sangat benar. Sebenarnya dia sudah merasakan suatu gejolak dalam dirinya selagi Raka bersikap baik padanya selama ini. Dia seperti merasakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang pernah dia miliki namun juga hilang dalam sekejap. "Yah, aku menerimanya," ucap Vira malu.


Raka sampai terdiam karena tidak menyangka sama sekali kalau Vira akan menjawab secepat ini, lebih lagi Vira menjawab dengan jawaban yang sangat dia harapkan.


"Kamu tidak sedang bercanda atau memberi harapan palsu padaku?" tanya Raka untuk memastikan. Jika saja dia tahu, Vira akan menjawab secepat ini, pastilah dari kemarin-kemarin telah dia ungkapkan perasaan ini.


"Tidak, aku sungguh serius, Mas. Aku menerimanya. Aku merasa membutuhkan seseorang sebagai teman hidupku saat ini. Aku tidak mau sendiri karena aku lelah kesepian. Apa lagi nanti setelah anak ini lahir, aku butuh pendamping untuk menjaganya.


Raka tersenyum sangat bahagia. Tidak menyangka bahwa satu hari ini akan menghampiri dirinya. Tidak menyangka sama sekali bahwa pada akhirnya dia berhasil mendapatkan Vira, wanita yang selama ini membuat harinya terasa jauh berbeda.


Meskipun mereka belum menentukan tanggal pernikahannya, namun yang pasti Raka sudah merasa lega karena jawaban sederhana dari Vira itu. Jawaban yang awalnya hanya ada di mimpi Raka, kini berhasil menjadi kenyataan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2