SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 70. Di Taman Kota


__ADS_3

Setelah mengatakan semua penyebab perceraiannya dengan Yudha, kedua orang tua angkat Weny mengusirnya. Tidak mau menerima wanita itu.


Weny berjalan menenteng tas dengan perut yang membesar sambil berurai air mata. Tidak tahu harus pergi kemana.


Setelah capek berjalan, Weny melihat ada taman. Duduk di taman sambil memandangi orang-orang yang bergembira dengan pasangannya masing-masing.


Mata Weny tertuju pada sepasang manusia yang tampak sangat bahagia. Dia sangat mengenali mereka. Dadanya Weny terasa sesak melihat kebersamaan mereka.


"Kamu duduk di sini. Aku belikan es krim itu dulu," ucap Raka.


Raka dan Vira-lah yang diperhatikan Weny dari kejauhan. Pria itu mengajak Vira untuk duduk di taman kota sambil menikmati cuaca sore hari yang cerah. Taman kota yang berada di samping apartemennya Raka dan Vira.


Vira memang menempati satu unit apartemen mewah milik Raka. Sejak menjual rumahnya, wanita itu tinggal di sana.


Sambil menunggu Raka membelikan es krim, Vira berjalan pelan mengelilingi taman. Matanya menatap orang yang sangat dia kenal dengan perut yang makin membesar.


Mata Vira bertemu dengan Weny. Tampak jelas mata wanita mantan madunya itu bengkak. Dia berdiri dan menghampiri Vira.


"Selamat Sore, Vira," sapa Weny begitu sampai di hadapan Vira.


Vira tersenyum dan menjawab, "Selamat Sore juga."

__ADS_1


"Kamu tampak bahagia sekali. Apa kamu tidak kembali lagi dengan Yudha?" tanya Weny.


Belum sempat Vira menjawab, kedatangan Raka mengalihkan perhatiannya. Pria itu menyodorkan segelas besar es krim vanila kesukaan wanita itu.


"Ini es krimnya. Aku kira kamu telah kembali ke apartemen."


Pandangan Raka tertuju pada Weny. Memandangi wanita itu dengan intens. Berusaha mengingatnya. Vira yang memperhatikan pandangan mata Raka, mengerti maksud pria itu.


"Ini Weny, istri keduanya Mas Yudha.Kamu lupa?," ucap Vira.


Saat ini Vira dan Raka tidak memanggil secara formal lagi. Itu atas permintaan pria itu. Dia meminta Vira menyebut nama dengan aku dan kamu saja, biar tidak canggung.


Vira memandangi Raka dengan tetapan bertanya. Pria itu lalu tersenyum.


"Aku bukan pria yang mudah mengingat wajah wanita yang tidak dekat denganku. Karyawan wanitaku saja, aku tidak ingat wajahnya kecuali yang dekat dan berhubungan langsung denganku," ucap Raka lagi.


Weny hanya diam terpaku. Menatap kedua orang didepannya tanpa kedip.


Beruntung banget Vira. Lepas dari Yudha dapat pria yang jauh segalanya dari mantan suaminya itu. Mana mungkin dia mau rujuk lagi dengan Mas Yudha jika telah dapat pria tampan kelas kakap.


"Mau kemana kamu bawa-bawa tas segede ini?" tanya Raka, melihat tas yang berada di kaki Weny.

__ADS_1


"Aku telah berpisah dari Mas Yudha. Ingin kembali ke rumah orang tuaku. Tapi mereka juga tidak mau menerimaku. Aku nggak tahu harus kemana. Uangku sudah tidak ada. Mungkin akan tidur di taman ini saja," ucap Weny.


Weny berharap mendapatkan simpati dari kedua orang itu. Dia menahan gengsinya. Bicara mengiba karena berharap kedua orang itu akan bersimpati.


"Jadi kamu dan Mas Yudha telah berpisah," ucap Vira pelan. Dia sebenarnya telah tahu dari Yudha.


"Kita pulang lagi. Dah hampir magrib," ucap Raka pelan dengan senyuman manisnya, membuat mata Weny tidak berkedip memandanginya.


Vira hanya mengangguk sebagai jawaban. Raka merogoh saku celananya. Mengeluarkan uang ratusan cukup banyak.


"Ini ada uang. Carilah penginapan. Kasihan dengan bayi dalam kandunganmu itu. Dia tidak bersalah," ujar Raka.


Raka memang selalu tersentuh melihat wanita hamil. Teringat dengan istrinya yang telah meninggal.


Setelah memberikan uang itu, Raka mengajak Vira berjalan tanpa pedulikan Weny lagi. Weny menatap kepergian keduanya dengan mata yang sedikit cemburu.


"Jangan berpikiran macam-macam ya. Aku memberikan dia uang hanya kasihan pada bayi yang dikandungnya, bukan wanita itu. Kamu jangan cemburu," goda Raka.


Vira menatap Raka dengan dahi berkedut mendengar ucapan pria itu, yang mengatakan dirinya cemburu. Raka jadi tertawa melihat ekspresi wajah Vira. Mengacak rambutnya dengan lembut dan mencubit pelan pipi wanita itu. Vira jadi tersenyum dengan pipi yang memerah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2