
Dua Bulan kemudian
Subuh-subuh Raka bangun dari tidurnya ingin melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Dia lalu mengusap pipi istrinya Vira, membangunkan.
"Sayang, bangun. Sholat subuh dulu, nanti tidur lagi!" ajak Raka.
"Mas, kepalaku pusing. Aku tidur sebentar dulu ya?"
"Pusing banget ya, Sayang ...?" tanya Raka dan memegang dahi Vira. Pria itu kaget merasakan dahi Vira yang hangat.
"Sayang, kamu demam? Kita ke rumah sakit ya. Aku sholat sebentar. Aku minta supir siapin mobil dulu!" ucap Raka turun dari ranjang.
"Mas, aku nggak apa apa!" ucap Vira lemah.
"Nggak apa apa gimana? Badan kamu panas begini!"
Raka keluar kamar dan dia menghubungi supir, meminta disiapkan mobil buat ke rumah sakit.
Setelah sholat subuh , Raka membantu Vira mengganti pakaiannya dan menggendong istri tersayangnya menuju mobil yang berada di garasi.
Raka meminta supir sedikit cepat mengendarai mobil menuju rumah sakit. Dia takut terjadi apa-apa dengan Vira. Leon dititipkan dengan pengasuhnya.
"Sayang, apa yang kamu rasakan saat ini?"
"Pusing dan mual, kak. Aku rasa ingin muntah!" ucap Vira di dalam pelukan Raka.
"Kalau mau muntah, jangan ditahan. Muntah aja, Sayang!" ucap Raka sambil memijat dahi istrinya.
Vira yang sudah tak tahan, akhirnya muntah di perut Raka. Dia membiarkan istrinya mengeluarkan isi perutnya. Setelah melihat Vira sedikit tenang, pria itu mengambil tisu dan membersihkan mulut istrinya.
Raka menyandarkan tubuh Vira di sandaran jok mobil. Dia membuka pakaiannya dan mengganti dengan baju yang ada di mobil.
Raka memang selalu menyediakan baju ganti di dalam mobil. Untuk persiapan jika suatu waktu harus ke luar kota mendadak.
__ADS_1
"Sayang, gimana? Masih ingin muntah lagi?" tanya Raka sambil memijat dahi Vira.
"Mas, maaf! Aku jadi mengotori pakaian kamu dengan muntahku," ucap Vira merasa bersalah karena muntah dibaju suaminya.
"Nggak apa Sayang, kenapa minta maaf?" Raka kembali membawa Vira ke dalam pelukannya.
"Pak, lebih cepat lagi menyetirnya!" ucap Raka kuatir melihat wajah Vira yang makin lesu dan pucat.
Mobil Raka yang dikendarai supirnya memasuki area rumah sakit. Dia segera turun dengan menggendong Vira menuju ruang unit gawat darurat rumah sakit itu.
Setelah Vira dibaringkan di salah satu tempat tidur di ruang IGD, Dokter datang memeriksa. Raka diminta menunggu diluar ruangan. Pria itu mondar mandir di depan ruangan menunggu Dokter selesai memeriksa Vira.
Setelah lebih kurang setengah jam, pintu ruang periksa Vira terbuka. Tampak Dokter keluar dari ruangan itu.
"Dokter, bagaimana istri saya? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Raka kuatir.
"Bapak jangan kuatir ..."
"Bagaimana saya nggak kuatir Dokter. Istri saya sakit!" ucap Raka memotong ucapan Dokter.
"Maksud Dokter ... istri saya hamil?" tanya Raka tak percaya.
"Ya, menurut pemeriksaan awal, istri bapak sedang hamil muda. Tapi hasil pastinya sebentar lagi diberikan, menunggu hasil periksa darahnya dari labor."
"Baiklah, dok. Apa lagi yang harus saya lakukan Dok?" tanya Raka gugup karena rasa bahagianya.
"Bapak ke bagian administrasi aja untuk melakukan pendaftaran rawat inap. Biar istri Bapak bisa dipindahkan ke ruang perawatan!" saran Dokter.
"Baik Dok, terima kasih!" ucap Raka.
Setelah itu dengan tergesa Raka menuju administrasi untuk mengurus semuanya. Vira dipindahkan ke ruang VVIP sesuai permintaan Raka. Dia ikut membantu perawat mendorong istrinya itu menuju ruang yang telah dipilihnya.
Sambil mendorong tempat tidur Vira, Raka terus menggenggam tangan kanan yang bebas dari selang infus. Sampai diruang inap yang akan ditempati, Raka menggendong istrinya dan dibaringkan di atas tempat tidur.
__ADS_1
Setelah para perawat pergi dan menghilang dari ruang itu, Raka duduk disamping tempat tidur Vira dan mengecup tangan istrinya. Tampak bahagia.
"Mas, kata Dokter aku sakit apa?" tanya Vira sambil memandang heran ke arah suaminya yang terus tersenyum.
"Sakitmu ini akibat dari perbuatan aku!" ucap Raka dengan senyum jahilnya
"Sakit karena perbuatan, Mas. Emang Mas melakukan apa? Aku rasa tidak ada!" ucap Vira.
"Kamu tuh sakit karena sering melayani aku hampir tiap malam, dan hasil dari juniorku!"
"Jangan becanda Mas. Aku sakit apa sebenarnya?" tanya Vira belum mengerti juga ucapan suaminya itu.
Raka mendekati wajah Vira dan mengecup seluruh bagian diwajahnya. Vira semakin heran melihat suaminya. Tadi suaminya sangat kuatir melihat dia muntah, sekarang malah kelihatan senang.
"Sayang, terima kasih karena telah menjadi istriku. Kamu sekarang sedang mengandung benih cinta kita" bisik Raka.
"Maksud Mas Raka ... aku hamil?"
"Iya, Sayang" ucap Raka dan kembali mengecup bibir istrinya.
Vira bahagia mendengar kabar jika dirinya saat ini sedang mengandung benih yang ditanamkan Raka suaminya. Air matanya tanpa sadar menetes.
"Sayang, kok menangis. Kamu nggak bahagia mendengarnya?" tanya Raka dengan memeluk Vira.
"Ini tangis bahagia, Mas. Aku senang mendengarnya!" ujar Vira menangis memeluk Raka.
"Kamu harus janji Sayang, akan menjaga benih cinta kita ini bersama-sama. Mulai hari ini kamu tak boleh kecapekan. Kamu nggak boleh kemana mana tanpa aku. Kamu juga tak boleh makan sembarangan, kamu nggak boleh ...."
"Udah, Mas. Banyak banget sih larangannya!" ucap Vira memotong ucapan Raka, sebelum lebih banyak lagi larangan yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Sayang, ini semua demi kebaikan kamu dan calon bayi kita!"
"Tapi bukan berarti aku nggak boleh melakukan apa-apa, Mas!"
__ADS_1
"Sekarang kamu sarapan dulu!" Raka menyuapi bubur ayam buat sarapan Vira. Setelah istrinya itu sarapan, pria itu lalu menunggu hingga istrinya tertidur. Setelah itu dia juga ingin membeli sarapan. Raka menitipkan istrinya pada salah seorang perawat. Supir telah diminta Raka pulang.
...****************...