
...Aku memang sudah kalah, tapi aku tidak menyesal sudah berjuang dan bertahan sampai sejauh ini menjadi yang lebih baik untukmu. Walau tak pernah terlihat olehmu. Tidak perlu kuatir, aku kuat dan aku baik-baik saja karena sebelum kamu aku sudah dijatuhkan oleh masa laluku. Soal sakit hatiku, biarlah waktu yang akan menyembuhkannya. Aku pergi, karena aku tahu bahagiamu bukan denganku....
Pagi ini Vira tidak berangkat ke kantor karena dia diperbolehkan libur satu hari karena saat hari minggu dia tetap datang ke kantor untuk mengurus sesuatu. Niatnya pagi ini, Vira ingin memasakkan sesuatu untuk semua orang.
Meskipun dia masih sedikit sedih mengenai perilaku Yudha kemarin malam, Vira berusaha untuk melupakannya agar hubungannya dengan Yudha memiliki kenangan baik saat dia harus pergi.
"Tumben banget kamu masak. Katanya sekarang nggak mau melakukan pekerjaan rumah?" Desy datang langsung menyindir. Padahal dalam hati dia merasa sedikit senang ada yang memasak karena hari ini dia sedang malas.
"Hari ini saja karena kebetulam aku libur." Hanya itu yang bisa dijawab Vira. Dia terus melanjutkan memasak tanpa memperdulikan mertuanya itu.
Setelah satu jam, akhirnya Vira sudah menyelesaikan semua masakannya. Wanita itu memanggil semua orang untuk makan, sebenarnya dia hanya ingin memanggil Yudha, tapi dia bukan wanita sejahat itu sampai tidak memperdulikan yang lainnya.
Semuanya berkumpul di meja makan, Weny terlihat tidak menyukai keberadaan Vira di sana. Tapi dia tidak bisa mengatakan apa pun karena tahu kalau Vira yang memasak semua makanan ini.
__ADS_1
"Kamu mau makan lauk apa, Mas?" tanya Vira, dia berniat untuk mengambilkannya untuk Yudha.
"Aku akan mengambilnya sendiri," jawab Yudha cuek. Pria itu malah lebih fokus kepada Weny. "Kamu diambilin lauk apa, Sayang?"
"Terserah."
"Ikan mau?"
"Terserah."
"Terserah."
Jujur, demi apa pun Vira sangat tidak menyukai hal itu. Rasanya dia ingin marah dan mengusir semuanya, tapi dia masih berusaha untuk menahan diri. Weny sepertinya sengaja bersikap manja seperti itu dihadapannya, Desy juga terlihat senang karena Vira terlihat cemburu melihat hal itu.
__ADS_1
"Kamu harus makan yang banyak ya, Wen. Sekarang kamu bukan hanya makan untuk kamu sendiri, tapi ada bayi kamu yang ikut makan," sahut Desy. Wanita paruh baya itu sepertinya sengaja mengatakan hal itu di depan Vira agar semakin terbakar cemburu.
"Apa yang dikataka Ibu benar, kamu harus makan yang banyak. Ini semua agar bayi kita sehat," timpal Yudha sambil mengelus perut Weny yang masih rata.
Vira semakin tidak kuat melihat hal ini semua. Apalagi Weny sempat menatapnya dengan tatapan meremehkan, wanita itu seperti ingin mengatakan kalau di sini dialah yang menjadi pemenangnya.
Karena sudah tidak tahan dengan semua ini, Vira memutuskan untuk memakan makannya dengan cepat agar bisa segera meninggalkan meja makan. Dia sudah tidak sanggup lagi melihat Weny yang terus-terusan bermanja kepada Yudha. Padahal wanita itu bisa makan menggunakan tangannya sendiri, tapi dia lebih memilih menyuruh suaminya yang menyuapinya.
"Baiklah, Mas. Mungkin ini terakhir kalinya aku dan kamu makan di meja yang sama. Karena setelah ini mungkin kita akan seperti orang asing," ucap Vira dalam hati. Dia telah mendaftarkan gugatan cerainya.
Setelah menyelesaikan makannya, Vira meninggalkan semuanya tanpa suara. Tampak Desy tersenyum melihat Vira yang sakit hati.
Vira membuka laci dan mengambil surat rumahnya. Dia memutuskan akan menjual rumah ini. Namun, Vira bukanlah orang yang sangat kejam, dia mengatakan pada pengacaranya untuk mencari pembeli di bulan depan saja.
__ADS_1
Vira mengambil tas dan mengisi pakaiannya. Dia ingin berlibur satu hari, sebelum besok mengatakan semuanya pada Yudha, jika dia telah mengajukan surat cerai buat mereka.
...****************...