
Vira merasa sangat bahagia melihat anaknya tumbuh dengan sangat sehat. Setidaknya dalam keadaan seperti ini dia masih bisa memberikan perhatian yang lebih pada anaknya. Entah bagaimanapun buruknya keadaan, ternyata anaknya mampu mengusir semua itu. Seolah tidak ada beban sama sekali setiap kali dia melihat wajah bahagia anaknya.
Vira merasa Tuhan sangat baik, sehingga memberikan dia keturunan untuk mengobati luka hatinya selama ini yang dianggap mandul. Terlebih lagi Tuhan memberikan dia seorang pria baik hati seperti Raka.
Vira juga merasa sangat senang karena hari ini dia diperbolehkan pulang oleh dokter. Dia sudah sangat rindu pada rumahnya, rindu pada keheningan dan kenyamanan rumah itu. Dia ingin menghabiskan waktu berdua hanya dengan anaknya. Biarlah tidak ada yang membantu, selagi hanya ada satu orang yang dia urus, dia yakin bahwa itu tidak akan terlalu merepotkan.
Apa lagi di apartemen, dia telah memiliki seorang asisten rumah tangga yang Raka pekerjakan. Sejak kehamilannya menginjak tujuh bulan, Raka memang mempekerjakan seorang wanita untuk membantu Vira.
"Dia tampak sangat sehat," ucap Raka yang lagi-lagi menjenguk Vira di rumah sakit. Merasa tidak mau ketinggalan sama sekali untuk melihat keadaan perempuan itu beserta bayinya. Dia juga sudah melupakan tentang kejadian kemarin ketika dia bertemu dengan mantan suami Vira. Baginya itu bukanlah masalah besar sama sekali.
"Aku senang sekali dokter membiarkanku untuk pulang hari ini. Aku hanya ingin melihat apakah dia nyaman di rumahku sendiri, Mas."
Raka menatap Vira ketika perempuan itu mengatakan hal demikian. Sebetulnya ada sesuatu yang cukup mengganjal di hatinya. Bukan sesuatu yang buruk sebenarnya, dia hanya ragu untuk mengatakannya di saat seperti ini. Dia takut kalau Vira akan menolak tawaran darinya. Terlebih lagi melihat wajah perempuan itu begitu bahagia.
"Kamu hanya ingin tinggal berdua bersama anakmu di apartemen itu? Tidakkah itu terlalu berbahaya bagi kalian? Bagaimana kalau misalkan ada orang asing yang masuk dan berniat melakukan sesuatu yang buruk padamu dan kau tidak bisa melawannya dalam keadaan lemah seperti ini?"
Vira langsung menatap ke arah Raka, menyadari makna tersembunyi dari pertanyaan lelaki itu. Tentu saja, dia bukanlah tipikal orang yang mengartikan suatu kalimat hanya dari apa yang dia dengar, tapi dia juga sanggup mengartikan sebuah kalimat dalam hal makna tersiratnya.
__ADS_1
"Kamu merasa bermasalah apabila aku hanya tinggal berdua bersama anakku di apartemen itu?" Vira malah bertanya balik padahal sebenarnya dia sudah tahu apa maksud Raka di sini.
Raka malah tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dia malah merasa sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan itu. Sekali lagi, dia merasa sedikit takut apabila sampai wanita ini menolak permintaannya.
"Aku hanya sedikit khawatir dan menyarankan agar kamu tinggal bersama Mamaku saja. Ini demi keamananmu dan juga demi keamanan bayimu sendiri. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada kalian berdua. Aku merasa bertanggung jawab untuk keamananmu kali ini."
Vira menghela napas dan merasa sangat terharu mendengar hal tersebut. Entahlah, mungkin karena sudah lama sekali tidak ada orang yang berniat untuk melindunginya. Nalurinya sebagai perempuan yang selalu ingin dijaga tentu saja membuatnya merindukan semua itu.
Dalam hati kecilnya tentu saja dia tidak bisa menolaknya, namun di sisi lain juga dia merasa tidak mau apabila merepotkan orang lain, terlebih lagi merepotkan ibu Raka.
"Tinggal bersama dengan Mamamu? Aku merasa sangat ragu akan hal itu. Mas pasti tahu bahwa aku tidak suka merepotkan orang lain. Aku tidak tahu apa yang akan dirasakan oleh Mamamu setelah ini. Mungkin Mama bisa bersikap baik dan ramah padaku ketika aku tinggal di rumahmu, tapi kita tidak tahu bagaimana isi hatinya. Aku mengerti setiap perempuan bisa bersikap baik di depan siapa saja, namun mereka menahan perasaan pribadinya agar tidak mengecewakan orang yang mereka sayang."
Raka sudah menduga kalau Vira akan mengatakan hal itu. Dia mengerti mengapa Vira merasa tidak enakan pada Mamanya. Vira memang tipikal perempuan yang mandiri dan tidak suka merepotkan orang lain. Jika bukan seperti itu, tidak mungkin dia bisa sanggup melewati semua ini sendirian. Tidak mudah menjadi anak yatim piatu, terlebih lagi jika harus melahirkan seorang diri seperti ini. Hanya orang kuat yang bisa melakukannya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Untuk saat ini kamu tidak boleh banyak berpikir. Kamu tidak boleh stress. Dan Mamaku bukan tipikal orang yang seperti itu. Aku sangat mengenal Mama. Beliau pasti dengan senang hati menyambutmu di rumah. Beliau juga sangat senang melihat anak kecil. Naluri keibuannya akan selalu muncul."
Vira menghela napas lagi. Justru sekarang dia malah berpikir keras untuk mempertimbangkan hal itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Raka tadi, tidak aman apabila dia hanya tinggal bersama bayinya di rumah tersebut. Tidak ada yang bisa menjamin keamanan mereka dan tidak ada yang melindungi.
__ADS_1
Mungkin dia masih bisa melewati semua itu apabila sendirian, namun apabila sudah menyangkut keamanan bayinya sendiri, dia tidak akan tahan melihat terjadi sesuatu yang buruk pada bayinya. Semua ibu jelas akan merasakan hal tersebut.
"Bagaimana? Aku sangat berharap kamu menerima tawaranku ini. Semua ini demi kamu dan utamanya demi bayimu sendiri. Tolong pertimbangkan dengan baik, Vira. Aku tidak tahu bagaimana cara meyakinkanmu bahwa Mamaku tidak akan merasa kerepotan karena kehadiranmu di rumah kami."
Raka tidak merasa tersinggung dengan ucapan Vira karena dia mengerti jika Vira telah melewati masa dimana hidup dengan mertua yang tidak pernah menyukainya. Pasti dia trauma sehingga berpikiran semua mertua itu kejam.
Vira memejamkan mata sebelum kemudian dia mengangguk kecil sambil tersenyum. Raka sampai tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia merasa sangat senang karena pada akhirnya Vira menyetujui hal tersebut.
"Kurasa memang tidak ada cara yang paling aman, bukan? Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada bayiku sendiri," ucap Vira.
Raka tersenyum semakin lebar. "Yah, aku akan membantu mempersiapkan semua barangmu hari ini. Kupastikan kau akan merasa nyaman di rumahku."
Raka pun keluar dari kamar tersebut dan mulai membereskan semua barang milik Vira di sana. Dia tidak menyangka bahwa Vira akan menyetujui tawarannya ini. Ini akan menjadi semangat baru baginya. Akan ada suasana baru di rumahnya. Dia juga sangat yakin kalau keluarganya yang lain akan menyambut Vira dengan sangat hangat. Bayi milik Vira akan membuat semua orang merasa bahagia. Tidak ada yang bisa menolak aura lucu dari seorang bayi.
Sedangkan Vira sendiri masih merasa ragu dalam hatinya. Tidak begitu yakin kalau semua orang akan menyambutnya dengan ramah bila belum mengalaminya sendiri dan memastikannya selama beberapa hari. Bila pun seandainya ada orang di rumah itu yang keberatan dengan kehadirannya, maka dia tidak akan ragu sama sekali untuk keluar dari sana. Karena yang paling penting di sini adalah kesehatan mentalnya. Dia harus mendidik dan merawat anaknya dengan sangat baik.
Setidaknya Vira masih sangat bersyukur karena dia masih memiliki Raka. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya apabila tanpa Raka.
__ADS_1
Mungkin sudah tidak ada lagi penopang yang membuatnya kuat melalui semua ini. Sekarang dia punya semangat baru. Dia selalu siap untuk memulai hidup baru bersama anaknya. Dia tahu dia akan jauh lebih bahagia daripada sebelumnya.
...****************...