SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 43. Pindah ke Kontrakan


__ADS_3

...Ya Allah, aku serahkan semua kepadamu sang pemilik takdir. Jadikanlah aku ikhlas dan rela atas apa yang telah Engkau tetapkan kepadaku. Atas apa yang kini sedang aku hadapi....


...Aku bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk senantiasa berbenah diri. Agar bisa menjadi lebih baik dan belajar dari suatu pengalaman yang pernah hadir dan menemani....


...Untuk hal-hal yang masih menjadi misteri, sepenuhnya aku serahkan pada-Mu Yaa Allah. Aku selalu yakin bahwa ketetapan-Mu akan selalu menjadi yang terbaik untukku....


Setelah mengambil resep, Vira dan Raka kembali ke perusahaan lagi. Banyak mata memandang iri dengan Vira. Bagaimana tidak, dia langsung digendong bos saat sakit tadi.


Dalam ruang kerja, Vira kembali termenung. Apakah takdir sedang mempermainkan dirinya? Di saat dia telah mengajukan surat cerai, dia juga harus menerima kenyataan jika sedang mengandung.


Vira bukannya tidak bersyukur atas takdirnya. Bukankah ini yang dia inginkan dari dulu. Hadirnya keajaiban dalam rahimnya berupa bayi mungil.


Namun, bagaimana Vira akan mengatakan kabar ini pada suaminya? Akankah dia bahagia seperti saat mendapatkan kabar jika Weny sedang mengandung kemarin. Lagi pula Vira sudah tidak ingin lagi membina rumah tangga bersama Yudha. Hatinya sudah sangat terluka akan sikap pria itu.


Vira akan tetap pada pendiriannya, berpisah dari suaminya. Mengenai kehamilannya saat ini, bisa dia atasi sendiri. Dia masih banyak uang tabungan. Memang tanpa Yudha tahu, Vira menabung uang gajinya, yang rencananya akan membelikan kakak iparnya rumah. Biar bisa tinggal dengan ibu mertuanya. Namun, takdir berkata lain. Dia harus berpisah dengan suaminya Yudha.


Vira bingung apa yang akan dia lakukan. Memberitahukan atau tetap diam menyembunyikan kehamilannya.


Raka memperhatikan Vira dari tempat duduknya. Dia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran wanita itu. Bukankah dia menginginkan kehadiran bayi itu, tapi kenapa wajahnya tampak murung? Itu yang menjadi pertanyaan dalam hati Raka.


"Vira ...!" seru Raka.


Sapaan dari atasannya itu membuyarkan lamunan Vira. Dia tersenyum menanggapi panggilan dari Raka.

__ADS_1


"Saya, Pak!"


"Pulanglah. Saya izinkan kamu libur dua hari. Setelah itu baru masuk kerja lagi."


"Nggak apa, Pak. Saya kuat. Justru kalau saya libur dan harus di rumah, akan membuat saya semakin sedih karena hanya sendirian di rumah," ujar Vira.


"Kenapa sendirian? Kemana suami kamu?" tanya Raka. Walau Raka tahu jika rumah tangga Vira sedang bermasalah tapi dia belum mendengar dari orang suruhannya jika Vira telah berpisah dari suaminya.


Vira yang menyadari ucapannya jadi terdiam. Dia tidak bermaksud membuka aib keluarga.


"Lagi di luar kota, Pak!" jawab Vira berbohong.


"Tapi kamu butuh istirahat. Saya tidak mau kamu tambah sakit jika dipaksakan. Kamu juga dengar tadi dokter mengatakan jika kehamilan pada trimester pertama itu sangat rentan dengan keguguran. Kamu sudah menunggu kehadirannya sejak lama, jangan disia-siakan," ucap Raka lagi.


***


Di tempat lain, Yudha dan kedua wanita yang mengikutinya baru saja sampai di salah satu rumah kontrakan sederhana. Wajah Weny tampak cemberut melihat kontrakan yang akan dia tempati.


Setelah menurunkan semua barang-barang mereka, ketiganya masuk ke rumah. Rumah kontrakan itu telah dilengkapi dengan perabotan walau sederhana. Namun, bagi Yudha itu sudah sangat membantu, dari pada dia harus membelinya.


"Apa kita selamanya akan menetap di rumah kontrakan ini, Mas?" tanya Weny saat telah masuk ke rumah kontrakan itu.


"Setelah uang pinjaman didapat, aku akan segera membeli rumah untuk kita," ucap Raka.

__ADS_1


Raka pamit setelah mengangkat tas berisi pakaian ke rumah. Dia harus kembali bekerja. Ibu membereskan semuanya. Weny hanya memandangi sambil bermain ponsel.


Napas ibu Desy tampak terburu, mungkin karena capek. Tadi Yudha telah membelikan bahan makanan buat makan siang dan malam mereka.


"Weny, kamu bisa bantu ibu memasak. Ibu capek banget," ucap Ibu seperti memohon.


Weny yang mendengar ucapan ibu, memandangi wanita itu dengan wajah cemberut. Dia tidak ada keinginan membantu wanita paruh baya itu.


"Maaf, Bu. Bukannya aku tidak mau membantu, tapi Dokter melarangku bekerja. Hamil muda itu masih lemah kandungannya. Aku takut keguguran. Atau ibu tidak ingin cucumu ini lahir?" tanya Weny.


"Maaf, ibu lupa jika kamu sedang hamil muda. Kamu istirahat saja. Biar ibu yang memasak."


Ibu lalu berjalan menuju dapur dengan langkah terseok dan napas terengah karena kecapean. Dia duduk sebentar untuk menghilangkan sedikit rasa letihnya.


...****************...


Bonus para visual pemerannya.




__ADS_1



__ADS_2