
Senyum selalu terukir dari wajah Raka. Entah mengapa pria itu selalu tampak bahagia jika harus pergi berdua dengan Vira walau itu hanya sekedar untuk menghadiri rapat.
Kali ini mereka akan mengunjungi perusahaan di mana Yudha bekerja. Raka sengaja belum mengatakan tujuan mereka.
Dahi Vira tampak berkerut mengenali jalan yang sedang mereka tempuh. Dia yakin sekali jika ini menuju ke perusahaan Yudha, mantan suaminya.
"Kita mau ke perusahaan X ya, Pak?" tanya Vira akhirnya.
"Iya, mereka mengundang makan siang atas perayaan anniversary perusahaan. Apa kamu tidak nyaman karena mantan suamimu?" tanya Raka.
Vira tersenyum pada pria itu. Bukannya dia tidak nyaman bertemu Yudha mantan suaminya itu. Dia hanya ingin melupakan semuanya. Tidak ingin ada lagi hubungan dengan pria itu. Walau saat ini di dalam tubuhnya ada darah daging dari pria itu, tapi bagi Vira itu tidak penting. Bukankah pria itu tidak mengakui kehadirannya.
"Aku hanya tidak ingin berhubungan dengan dia lagi, Pak!" ucap Vira pelan.
"Kalau begitu, kamu pulang saja. Aku minta supir jemput ya atau aku antar kamu kembali ke kantor?" tanya Raka.
Vira kembali tersenyum melihat wajah atasannya yang tampak gugup dan bersalah. Pria itu balik menatap Vira.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Raka.
"Bapak kalau gugup lucu. Saya tidak apa. Tidak perlu dijemput juga saya, Pak."
"Kalau kamu malas bertemu dengan mantan suamimu itu, saat melihat dia sembunyi saja dibelakang punggungku. Badan kamu yang kecil itu akan bisa saya sembunyikan."
"Bapak menghina saya. Nanti saya gendut Bapak juga yang susah. Saya pasti banyak makan."
__ADS_1
"Kamu mau makan berapa kali akan aku sediakan. Yang penting kamu bahagia," ucap Raka sambil menatap Vira.
Tatapan Raka yang intens membuat Vira jadi menunduk. Jantungnya berdetak cepat saat mata mereka bertemu.
Setengah jam perjalanan, akhirnya sampai di halaman perusahaan. Raka dengan cepat keluar dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Vira.
Saat berjalan menuju aula perusahaan tempat acara dilangsungkan, Raka dan Vira menjadi pusat perhatian para karyawan perusahaan itu. Semua karyawan tahu jika Vira dan Yudha baru saja berpisah.
Vira berjalan dengan menunduk. Dia malu menjadi pusat perhatian. Pasti mereka juga tahu saat ini Yudha telah sah menjadi suaminya Weny salah satu karyawan di perusahaan ini juga.
Memasuki aula, Vira dapat melihat Yudha yang berdiri dikejauhan sana. Pria itu tampak makin kurus dan wajahnya tampak lelah serta pucat. Dia memandangi Vira yang tampak makin berisi sejak mereka berpisah, sangat berbanding terbalik dengan dirinya.
"Vir, aku diajak ke sana. Kamu ikut?" tanya Raka.
"Bapak saja yang kesana. Saya di sini saja."
"Atau aku ambilkan makanan buat kamu dulu?" tanya Raka. Pria itu memang telah terbiasa menggunakan kata aku saat mereka mengobrol berdua. Raka juga pernah meminta Vira melakukan hal yang sama jika mereka berdua saja. Tapi bagi wanita itu kata aku, menyatakan hubungan yang dekat. Jadi dia masih risih menggunakannya.
"Jangan, Pak. Nanti saya jadi bahan gosip. Masa atasan yang melayani bawahan. Sampai mengambilkan makanan segala. Saya bisa sendiri," ucap Vira gugup. Wanita itu berpikir atasannya terlalu mengada.
"Jangan pikirkan omongan orang. Kita akan sulit maju jadinya."
"Bapak, kita ini hidup bersosial. Harus memikirkan ucapan orang-orang juga. Bapak ke sana saja. Saya bisa lakukan sendiri."
"Jangan kemana-mana. Nanti aku sulit mencari kamu," ucap Raka.
__ADS_1
Vira menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Atasannya itu terkadang terlalu posesif. Seperti pasangannya saja. Wajah Vira memerah membayangkan itu.
Vira berjalan ke meja makanan yang menyediakan makanan ringan sebagai pembuka sebelum mereka santap siang bersama. Wanita itu mengambil beberapa potong buah dan segelas jus jeruk.
"Kamu tampak sangat bahagia, Vira," ucap seseorang. Dari suara saja Vira sudah tahu siapa orang itu.
Vira membalikkan badan dan tersenyum pada mantan suaminya itu. Dari jarak yang sangat dekat, Vira dapat dengan jelas memandangi wajahnya. Tampak sangat lemah dan pucat. Apakah Yudha sakit, pikir wanita itu.
"Mas, kenapa aku harus bersedih?" tanya Vira.
"Kamu benar. Mungkin hidup denganku membuat kamu tertekan, sehingga perpisahan ini membuat kamu bahagia."
"Setiap perpisahan pasti akan meninggalkan luka. Tapi buat apa aku menangisinya. Semua telah terjadi. Aku harus siap menghadapi itu. Mas sendiri apa kabarnya. Ibu sehat?" tanya Vira.
"Kamu masih ingat ibu? Apa kamu tidak dendam dengan ibu?"
"Kenapa aku harus dendam? Dengan aku dendam juga tidak akan mengembalikan semua. Aku telah ikhlas melepaskan semua masa laluku," ucap Vira lagi.
"Aku yang belum siap melepaskan semuanya. Semakin aku mencoba melupakan kamu, bayangan kamu semakin menghantuiku. Apa lagi rasa bersalah dalam diri ini. Semua terjadi karena keegoisanku."
"Jangan sesali yang terjadi, Mas. Hidup terus berjalan."
"Penyesalanku adalah pernah hadir ke dalam kehidupanmu dan menghancurkan kesempurnaanmu. Menangisi penyesalanku, aku tahu ini mungkin karma, ya aku terima karma ini, kenyataan jika waktu nggak akan bisa kembali lagi."
...****************...
__ADS_1