
...Bicara tentang sakit hati, mungkin yang paling sakit pada hubungan kita yaitu saat mengambil keputusan untuk berpisah....
...Hubungan yang terlihat baik-baik saja ternyata di dalamnya telah hancur. Namun, selama ini aku tetap bertahan karena ada suatu alasan....
...Aku cuma mau bilang, jika berpisah itu sakit, bertahan jauh lebih sakit karena akan terulang terus pertengkaran dalam hubungan....
...Pilihannya hanya ada dua yaitu menangis sehari itu saja saat berpisah atau menangis setiap hari karena pertengkaran jika aku tetap bertahan....
Setelah dua hari tidak masuk kerja, Vira merasa tubuhnya masih saja lemah. Namun, dia tetap berusaha kuat. Dia tidak boleh malas, saat ini hidupnya tergantung pada dirinya sendiri.
Vira berdandan seadanya saja. Wanita itu memang tidak menyukai dandanan menor. Setelah rapi, dia keluar dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di gedung perusahaan tempat dia bekerja, Vira langsung masuk ke lift yang akan membawanya ke ruang kerja. Saat akan masuk, Vira kaget melihat atasannya Raka telah berada diruangan.
"Selamat Pagi, Pak. Saya telat, ya?" tanya Vira polos. Wanita itu memberikan senyum termanisnya.
"Bukan kamu yang telat, tapi saya yang datangnya kecepatan," ucap Raka.
Mendengar jawaban Raka, barulah wanita itu lega. Awalnya dia sangat kuatir, takut dia yang datang terlambat. Vita langsung menuju meja kerjanya. Dia yakin telah banyak kerjakan menumpuk.
"Bagaimana keadaanmu? Udah baikan?" tanya Raka perhatian.
__ADS_1
Vira tersenyum dengan atasannya. Dia berharap itu yang akan Yudha tanyakan, tapi ternyata pria lain yang melakukan. Libur dua hari kemarin, hampir tiap jam bosnya itu bertanya dan bawel ingatkan wanita itu jangan lupa minum obat.
Jika memang Yudha tidak berniat pisah dengannya, seharusnya pria itu menghubungi Vira dan meminta maaf. Namun, semua tidak dilakukan. Vira makin mantap untuk berpisah, yang menjadi masalah saat ini dirinya sedang hamil.
Raka melihat Vira termenung, menghampiri wanita itu. Duduk dikursi yang ada dihadapan wanita itu.
"Apa kamu tidak ingin sedikit berbagi? Aku lihat akhir-akhir ini kamu sering termenung. Seharusnya dalam keadaan hamil itu, ibu harus bahagia," ucap Raka.
Vira jadi kaget mendengar suara Raka. Memandangi wajah bosnya itu serius. Apa dia harus berbagi masalah keluarganya dengan pria itu? Apa lagi bosnya tadi menggunakan kata aku, bukan saya lagi.
"Jika kamu tidak ingin berbagi, tidak apa. Tapi ingat Vira, Kebahagiaan jika dibagi akan bertambah, kesedihan jika dibagi akan berkurang."
"Baiklah, kapanpun kamu ingin berbagi, aku siap mendengarnya," ucap Raka. Pria itu berdiri dari duduknya. Saat akan melangkah menuju meja kerjanya, langkahnya terhenti karena suara Vira.
"Saya memang ingin berbagi. Terlalu sulit memendam seorang diri. Saya tidak memiliki siapa-siapa!"
Raka berbalik dan kembali duduk. Menunggu Vira mengatakan sesuatu.
Vira menarik napasnya sebelum akhirnya memulai bercerita. Diawali saat suaminya meminta izin poligami hingga akhirnya kemarin dia meminta cerai dan mengusir mereka dari rumahnya.
"Apa aku jahat dan keterlaluan mengusir mereka, Pak?" tanya Vira.
__ADS_1
"Menurut aku tidak. Seharusnya Yudha dari awal tidak membawa Weny tinggal seatap denganmu. Dalam satu rumah itu hanya boleh ada satu Ratu. Digabungkan dengan mertua saja akan banyak masalah apalagi dua istri dalam satu rumah, itu pendapat aku."
"Terus, apa saya harus mengatakan kehamilan ini pada Mas Yudha?"
"Kalau menurut aku, Yudha berhak tahu. Bukankah dia ayah dari anakmu!"
"Saya takut ibu mertua saya tidak bisa menerima kehamilan ini, begitu juga dengan suami. Saya sampai tega mengusir itu karena mereka menuduh saya berselingkuh," ucap Vira pelan.
"Apapun tanggapan mereka nanti, kamu tetap harus mengatakan. Jika mereka tidak bisa terima, bisa buktikan dengan tes DNA."
"Saya tidak akan melakukan tes DNA untuk pembuktian jika mereka tidak percaya. Karena saya tidak akan pernah kembali lagi dengan suami saya. Gelas yang pecah, walau dilekatkan kembali tidak akan utuh seperti semula. Begitu juga hubungan, jika kita pernah terluka, walau mencoba mengulang membina kembali tidak akan pernah sama rasanya," ucap Vira.
Vira tersenyum simpul. Dia juga tidak peduli jika mereka tidak percaya. Hatinya sudah tertutup buat suaminya. Wanita itu menganggukan kepalanya tanda setuju dengan saran bosnya. Dia akan mengatakan semua, apapun tanggapan dari suami dan mertuanya nanti, akan dia terima.
"Terima kasih, Pak. Bapak benar, dengan sedikit berbagi hati saya sedikit lega," ucap Vira sambil tersenyum.
...****************...
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.
__ADS_1