SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 82. Perabot Rumah Tangga


__ADS_3

Setelah menikah dengan Raka, jelas Vira sudah tidak tinggal lagi di apartemen tersebut. Raka memilih ide yang lebih bagus untuk tinggal bersama istrinya sendiri. Raka membawa istrinya untuk tinggal di rumah baru.


Tidak, tentu saja mereka tidak tinggal di rumah orang tua Raka. Sepenuhnya Raka ingin hidup mandiri. Dia tahu bahwa pilihan untuk menikah itu berarti pilihan untuk menjadi dewasa dan siap untuk memimpin seseorang. Keluarga intinya sekarang sudah berpindah pada istrinya. Vira adalah keluarga Raka, dan dia adalah kepalanya.


Raka ingin mengatur rumah tangganya sendiri tanpa dicampuri oleh orang lain di luar sana, sekalipun itu adalah keluarganya sendiri. Dia hanya ingin membuktikan bahwa dia sudah cukup dewasa untuk memulai komitmen dan juga bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.


"Bagaimana? Kamu suka dengan rumah barunya, Sayang? Atau kalau kamu ingin menambahkan sesuatu, kamu tinggal bilang saja padaku. Sebenarnya sejak awal aku juga sedikit takut apabila kamu tidak suka desain rumah ini. Aku bertanya kepada banyak orang dan tetap saja tidak yakin. Jadi kalau kamu merasa ingin menambahkan dekorasi, kamu tinggal bilang."


Raka menurunkan koper yang berisi pakaian Vira dan juga anaknya. Vira menggendong anaknya sambil menatap ke sekeliling rumah itu. Rumah itu bahkan terlalu mewah dan juga menawan. Seluruh dindingnya seakan tidak memiliki debu sama sekali. Begitu bersih dan juga bersinar.


Dia merasa sudah tidak perlu lagi menambah desain apa pun. Rumah ini sudah terlalu mewah baginya. Dia juga tidak memiliki suara seni yang bagus. Dia tidak yakin kalau dia menambahkan sesuatu rumah itu akan lebih cantik dari sebelumnya. Malah dia takut kalau sampai rumahnya seperti terlihat lebih jelek.


"Kurasa seperti ini saja sudah cukup. Ini sudah sangat mewah, Mas. Aku suka banget dan yang paling penting suasananya tetap nyaman."


Raka pun kembali menyeret koper tersebut menuju kamar tidur. Dia menata semua pakaian Vira di sana yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Sepertinya setelah ini dia harus membawa Vira ke mall untuk membeli pakaian lebih banyak lagi.


Ternyata bukan hanya perabotnya yang lengkap, makanan di kulkas ternyata juga sudah sangat lengkap. Mulai dari buah, sayuran, bahkan juga cemilan ringan semuanya ada di sana. Vira malah merasa kalau dia sedang berada di mall saat ini.


"Kamu yang membeli semua makanan ini, Mas?" tanya Vira kepada Raka. Vira sudah membaringkan putranya di kamar tersebut karena putranya itu sudah tertidur sangat lelap.


Rasanya Vira ingin mengenali semua ruangan di rumah itu dulu. Dia tidak mau apabila salah menggunakan perabot yang hanya akan membuatnya jadi rusak.

__ADS_1


"Yah, sebagian aku yang membelinya."


Vira mengerutkan kening, cukup bingung kenapa Raka mengatakan sebagian.


Bukankah lebih masuk akal apabila Raka mengatakan bahwa dialah yang membeli semua ini untuk Vira? Memang kalau bukan Raka yang membeli semuanya, siapa lagi?


Akan tetapi sebelum Vira menanyakan hal tersebut, suara bel rumah itu tiba-tiba berbunyi. Raka dan juga Vira langsung berjalan menuju pintu dan membukakan pintu tersebut. Vira langsung tersenyum ketika menyadari bahwa yang datang adalah keluarga Raka.


"Mohon maaf kalau kami mengganggu," ucap Mama Raka yang langsung membuat Vira menggeleng cepat.


"Oh, tentu saja tidak mengganggu sama sekali, Ma. Ayo, masuk, Ma."


Mama Raka pun masuk ke rumah itu dan menata beberapa makanan yang dia beli di toko beberapa menit yang lalu sebelum kemudian singgah di rumah baru milik anaknya dan juga menantunya. Vira yang melihat hal tersebut akhirnya menyadari kalau sebagian dari rumah ini dibeli oleh ibu mertuanya.


Mama Raka tersenyum mendengar perkataan menantunya. Dia mengangguk singkat dan tetap mengatur semua makanan di sana.


"Yah, kami juga sudah membeli perabot yang terbaik untukmu di sini. Jadi Mama sangat berharap kamu bisa merasa nyaman dengan perabot yang sudah Mama beli. Ini akan memudahkan semua pekerjaan rumah tangga."


Vira mengangkat alis dan kembali terkejut ketika mengetahui bahwa ternyata perabot di rumah itu bukan Raka yang membelinya, melainkan ibu mertuanya. Vira sampai tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa lagi. Dia bukan hanya diberi suami yang baik dan juga mapan, tapi juga mendapat keluarga baru yang menganggapnya sebagai anak kandung sendiri.


Vira merasa bahwa semua penderitaannya selama ini hilang begitu saja. Dia tahu bahwa lembaran baru dalam kehidupannya sudah dibuka. Dia tidak akan menoleh ke belakang lagi karena untuk saat ini dia sangat bersyukur atas semua yang dia dapatkan.

__ADS_1


Bahkan bukan hanya dirinya sendiri, ibu mertuanya itu juga menganggap anaknya sebagai cucu kandung. Sama sekali tidak peduli bahwa anak Vira bukanlah darah daging dari Raka.


"Aku tidak tahu lagi bagaimana cara berterima kasih kepada Mama Mas Raka. Mas tahu kalau aku sangat senang ketika melihat Mama atau anggota keluargamu yang lain menggendong anakku, ini di luar persoalan perabotan rumah kita."


Raka tersenyum sambil mengusap pundak Vira. Vira sedang mengeringkan rambut. Dia menatap pantulan diri di cermin rias itu. Anaknya sudah tertidur lelap di kamar lain.


"Yah, jangan pernah berpikir bahwa orang tuaku adalah tipikal sama orang tua yang jahat seperti yang digambarkan di film-film. Mereka tahu bahwa apabila aku memilih perempuan, maka itulah yang terbaik untukku. Atau dengan kata lain mereka sangat percaya bahwa perempuan yang kupilih adalah perempuan yang baik sehingga mereka juga harus berperilaku baik kepada istriku ini."


Vira tersenyum dan merasakan pipinya memerah karena pujian dari Raka. Lagi-lagi semua itu membuatnya sangat bersyukur. Dia bahkan berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia juga akan memperlakukan keluarga Raka dengan sangat baik.


"Mas, kamu tidak pernah bilang kalau perabotan di rumah ini dibeli oleh Mama," ucap Vira.


"Yah, anggap saja sebagai kejutan. Lagi pula Mama sendiri juga tidak mempermasalahkan kalau aku tidak bilang padamu. Mama hanya ingin kamu nyaman dengan semua perlengkapan di sini. Sekiranya pekerjaan rumah akan terasa sangat ringan."


Memang benar apa yang dikatakan oleh Raka. Perabotan yang dibeli oleh ibunya tentu bukanlah perabotan tradisional yang masih harus menggunakan banyak tenaga manual untuk menggunakan perabotan tersebut. Ada banyak perabotan rumah tangga yang sudah memanfaatkan energi listrik atau juga kecerdasan buatan. Jauh lebih efisien dan juga tidak membuang banyak waktu, entah itu untuk memasak atau juga untuk membersihkan lingkungan.


Dengan begini dia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu dan juga tidak perlu meninggalkan anaknya. Dengan kata lain, dia masih bisa memprioritaskan anaknya di samping pekerjaan lainnya.


"Mas, terima kasih untuk semuanya. Aku nggak tahu harus ngomong apa? Kamu dan kedua orang tuamu sangat menerima aku dengan tangan terbuka. Aku nggak tahu kebaikan apa yang pernah aku lakukan sehingga mendapatkan suami sebaik kamu. Apa lagi kedua orang tuamu menerima aku dengan sangat baik. Aku merasa hidupku saat ini sudah sangat sempurna," ucap Vira.


Raka mengecup pucuk kepala istrinya. Dia juga sangat senang karena seluruh keluarga besarnya, bukan hanya kedua orang tuanya saja, mereka bisa menerima Vira dan Leon dengan tangan terbuka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2