
Yudha mempersilakan Vira masuk. Mendengar ada tamu, Weny keluar dari kamar. Melihat Vira yang datang, wajahnya tampak cemberut.
Weny duduk di samping Yudha dengan memeluk lengannya. Kepala Weny bersandar dengan manjanya di bahu pria itu. Seolah ingin mengatakan jika Yudha adalah miliknya seorang.
"Bicaralah! Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Yudha. Pria itu menatap Vira tanpa kedip. Lima hari tidak bertemu membuat dia sangat rindu dengan wanita itu. Namun, dia gengsi buat berkata jujur. Yudha merasa tersinggung karena wanita itu mengusir dirinya.
"Apa kita tidak bisa bicara berdua saja?" tanya Vira akhirnya.
"Bicara berdua? Apa aku tidak salah dengar. Bukankah kau kemarin berkata, tidak ada lagi yang perlu Mas Yudha katakan? Apa kau menyesal mengusir kami dan ingin minta kembali lagi?" tanya Weny dengan emosi.
"Apa yang Weny katakan itu benar. Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja di sini. Biar istrinya mendengar juga. Agar tidak terjadi kesalah pahaman," ucap Ibu Desy.
Dahi Vira berkerut mendengar ucapan ibu mertuanya. Apa dia bukan istrinya Yudha? Mereka belum resmi berpisah, tapi seolah hanya Weny saja istrinya pria itu.
"Tenang saja Bu, Weny, aku datang bukan untuk meminta Mas Yudha kembali. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu, yang menurutku Mas Yudha juga perlu tahu. Aku masih menghargainya karena status kami saat ini belum disahkan secara hukum. Jadi aku dan Mas Yudha masih ada ikatan pernikahan."
Yudha memandangi wajah istrinya itu intens. Di dalam hatinya masih tersimpan nama Vira. Cuma saat ini dia lebih mengutamakan Weny karena wanita itu sedang mengandung benih darinya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu katakan, Vira? Katakan saja di depan Weny dan ibu. Aku rasa tidak ada yang perlu disembunyikan dari mereka," ucap Yudha.
"Baiklah, Mas. Jika memang maunya begitu," ucap Vira. Dia menarik napas dalam sebelum memulai ucapannya.
"Aku hanya ingin mengatakan jika saat ini aku sedang hamil," ucap Vira dengan pelan. Namun, masih dapat di dengar semuanya. Terbukti dengan terdengarnya suara tawa Weny dan Ibu mertuanya.
Weny tertawa terbahak, begitu juga ibu mertuanya. Mereka menghentikan tawa setelah cukup lama, dan serempak memandangi Vira dengan pandangan mengejek.
"Candaan apa ini? Jika kamu ingin Yudha kembali, jangan berbohong hal bodoh seperti ini. Kamu seperti anak kecil saja. Melihat Weny hamil, kamu cemburu hingga mengarang cerita jika sedang hamil juga. Apa kamu pikir kami percaya?" tanya Ibu mertuanya.
"Kenapa kau harus berbohong hanya untuk menarik simpati Mas Yudha agar mau mengemis meminta kembali?" tanya Weny.
"Apa kamu benar hamil?" tanya Yudha.
Vira menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia berharap suaminya percaya. Karena bagaimanapun anak yang dia kandung saat ini adalah darah dagingnya.
"Jangan percaya dengan omong kosongnya itu, Yudha. Jikapun dia hamil, apakah itu benar anakmu? Sejak kamu menikah, bukankah kamu hanya tidur dengan Weny? Jika pun dia hamil, pastilah hamil dengan pria lain. Jangan minta tanggung jawab putraku atas kehamilanmu itu!" bentak Ibu Desy.
__ADS_1
Yudha hanya diam. Mencerna ucapan ibunya. Memang sejak menikahi Weny dia tidak pernah lagi berhubungan dengan Vira. Tapi bukankah dia pernah berhubungan di hari pernikahannya dengan Weny, pikir Yudha. Dia ingin percaya itu semua, tapi dihatinya juga ada rasa ragu.
Vira merasa harga dirinya telah diinjak ibu mertuanya itu. Bagaimana mungkin wanita paruh baya itu menuduh dirinya hamil anak orang lain. Vira berdiri dari duduknya. Memandang ibu mertuanya tajam.
"Dengarkan ibu Desy yang terhormat, aku masih punya harga diri. Tidak akan berhubungan dengan pria lain selama masih ada ikatan pernikahan. Aku bersumpah, jika anak yang sedang aku kandung ini anaknya Yudha, cucumu. Namun, jika kamu dan Yudha tidak percaya, aku juga tidak akan memaksa. Aku hanya mengatakan ini agar nanti kalian tidak menyalahkan aku karena menyembunyikan kebenaran ini," ucap Vira dengan emosi.
"Mulai hari ini, aku tidak akan mengatakan apapun tentang bayi yang aku kandung ini. Bayi ini hanya milikku. Bukankah kalian tidak pernah mengakui kehadirannya. Aku bersumpah, kalian akan menyesali semua ini!" ucap Vira sedikit emosi.
Napasnya memburu cepat. Dia merasa terhina. Vira tidak akan pernah melupakan ini. Dia janji akan menyembunyikan siapa keluarga ayahnya jika kelak anaknya bertanya saat dia dewasa. Bukankah mereka juga tidak menerima kehadirannya.
"Aku pamit. Ini terakhir kali aku datang menemui kalian. Kita hanya akan bertemu dipengadilan saja nanti, Mas!" ucap Vira.
Vira melangkahkan kakinya meninggalkan rumah. Dan mengendarai mobilnya segera.
...****************...
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.
__ADS_1