
Untuk satu hari ini mungkin perkiraan Vira kemarin salah. Setidaknya untuk hari pertama, dia tidak bisa menjamin hari selanjutnya akan tetap baik-baik saja. Bukan berarti dia berpikir buruk terhadap keluarga Raka, terutama ibu Raka. Vira hanya ingin memastikan bahwa mentalnya akan tetap baik-baik saja selama tinggal di rumah ini untuk sementara waktu.
Ternyata apa yang dikatakan Raka benar adanya. Mama menerima aku dan khususnya bayiku dengan tangan terbuka. Bahkan caranya menjaga seperti cucu sendiri.
"Dia lucu sekali. Oh ya, bagaimana dengan pompa ASI yang Mama pesan kemarin?" tanya Mama Raka. Raka menatap ponselnya, untuk melihat sudah di daerah mana pompa ASI yang dipesan oleh Mamanya kemarin.
"Tinggal bentar lagi, kok, Ma. Paling hari ini juga nyampe," ucap Raka.
Memang setelah Vira menyetujui untuk tinggal di rumah orang tua Raka, Mama Raka langsung mempersiapkan banyak hal untuk menyambut dan juga serta merawat Vira di rumah. Tak luput juga menyiapkan peralatan yang berhubungan dengan bayi, termasuk pompa ASI dan juga tempat tidur bayi.
Mama Raka seakan ingin memastikan bahwa Vira merasa sangat nyaman di rumah itu, bahkan juga merasa sangat betah sehingga mungkin akan ragu apabila seandainya tiba waktu Vira ingin kembali ke apartemennya sendiri.
"Nanti kalau udah nyampe, kamu biasakan pompa ASI-mu. Anggap saja sebagai persiapan."
Vira mengerutkan kening karena tidak mengerti sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Mama Raka. Jelas bisa dimaklumi karena dia adalah ibu baru di sini. Dia tidak tahu banyak hal tentang cara mengurus anak termasuk juga mengapa ASI harus dipersiapkan terlebih dahulu.
"Dipersiapkan seperti apa maksudnya, Ma?" tanya Vira sambil memangku anaknya.
__ADS_1
"Biasanya sekitar dua bulan ini bayi akan selalu terbangun tengah malam karena lapar. Kalau di zaman dulu, pada masa seperti itulah seorang ibu biasanya harus bangun tengah malam untuk menyusui bayinya atau mengganti pakaiannya apabila bayi itu buang air. Tentu saja itu sangat melelahkan."
Vira mendengar dengan seksama, persis seperti bagaimana dia mendengar gurunya ketika sekolah. Dia tahu bahwa ini salah satu hal yang harus dia pelajari.
"Aktivitas itu sangat melelahkan, sedangkan para dokter menganjurkan agar kau istirahat total setelah melahirkan. Atau dengan kata lain, jika bisa kau tidak perlu bangun tengah malam hanya untuk menyusuinya. Jika kau mempersiapkan ASI sejak awal, mungkin kami bisa membantu apabila bayimu terbangun tengah malam. Biarkan kami yang memberi susu padanya atau juga mengganti pakaiannya. Sedangkan kau lebih baik tidur nyenyak di kamar lain."
Vira terdiam sejenak dan tertunduk menatap wajah bayinya yang terlihat sangat lelap dalam tidur. Ada rasa khawatir dalam hatinya. Dia tidak bisa membayangkan betapa merepotkannya hal tersebut. Hampir semua orang di rumah ini harus terbangun tengah malam hanya karena ingin mengurus bayinya. Sedangkan dia hanya harus mempersiapkan ASI terlebih dahulu sebelum tidur, dan orang lain akan meng-handle semuanya.
Tidak, dia tidak mungkin merepotkan keluarga Raka dalam hal ini. Keamanan yang dia dapatkan di rumah ini sudah sangat cukup, dia sudah tidak meminta apa pun lagi. Dia tidak mau lagi menjadi beban yang merepotkan bagi semua orang. Dia merasa sangat senang apabila dia bisa mengurus bayinya sendiri. Tidak merasa masalah sekalipun dia harus bangun tengah malam untuk menyusui bayinya.
"Kami sangat mengerti mengapa kamu ingin mengurus bayimu sendiri. Percayalah, kalau ini sama sekali tidak merepotkan kami. Kami sangat senang kamu berada di sini. Mama hanya tidak mau apabila kamu sampai kelelahan dan itu akan berdampak pada kesehatanmu. Jika kamu sakit, kasihan anakmu nanti."
Vira masih mencoba mencari alasan agar penolakannya ini diterima oleh ibu Raka. "Tapi bukankah pada umumnya itu sudah sangat biasa dilakukan oleh ibu muda? Dampaknya juga tidak akan berkepanjangan, bukan Ma?"
Mama Raka tetap menggeleng, dengan sabar memberi pengarahan kepada Vira agar perempuan itu mau menuruti nasihatnya. Mama Raka ingin membantu berjaga malam saat bayi itu terbangun.
"Sering dilakukan oleh perempuan pada umumnya itu karena pada zaman dulu budaya kita masih sangat patriarki. Semua urusan anak dilimpahkan kepada perempuan. Tapi di zaman sekarang kita sudah menyadari bahwa urusan anak juga urusan semua orang selagi orang itu mau mendukung si ibu. Kamu hanya melihat dari fisik mereka, tapi kamu tidak melihat bagaimana depresinya mereka. Dan jangan pernah berpikir bahwa depresi adalah penyakit yang sepele hanya karena kamu tidak melihat ada darah di sana. Depresi bisa menimbulkan gejala berkepanjangan. Bisa juga berdampak pada tubuhmu. Dan semua itu tidak boleh terjadi."
__ADS_1
Vira merasa sedikit takut dan akhirnya juga tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan dari Mama Raka. Dia merasa bahwa semua itu ada benarnya juga. Dilakukan oleh banyak perempuan dan sudah sangat biasa terlihat di lingkungan bukan berarti itu adalah sesuatu yang benar dan baik bagi seorang ibu yang baru melahirkan.
Dokter juga menganjurkan agar dia istirahat total. Dengan kata lain, dia butuh kerjasama dari orang di sekitarnya untuk mengurus bayi. Jangan sampai hanya karena ini dia malah kehilangan waktu tidur yang berkualitas. Seharusnya Vira bersyukur dikelilingi oleh orang baik seperti Raka dan keluarganya.
"Baiklah, Ma. Kurasa memang cara paling aman dan paling sehat adalah apa yang Mama katakan tadi."
Dan selama beberapa hari itu pula pada akhirnya dia harus tidur terpisah dari anaknya agar tidurnya tidak terganggu di tengah malam ketika anaknya menangis. Dia tidur di kamar lain yang jauh lebih nyaman dan sunyi.
Sebelum tidur dia harus memompa ASI dan mempersiapkan beberapa botol untuk tengah malam nanti ketika bayinya terbangun.
Mama Raka sendiri sampai rela tidur di samping bayinya hanya untuk mengurus bayi itu. Setiap bayi itu menangis di tengah malam, Mama Raka akan selalu sigap mengambil botol yang sudah terisi oleh air susu milik Vira, memastikan bayi itu kenyang dan akhirnya kembali tertidur dengan nyenyak.
Alhasil, berapa hari melewati fase itu, Vira selalu merasa terbangun dengan keadaan yang sangat bugar di pagi hari karena memang tidurnya sangat cukup dan nyenyak. Dia juga bahagia melihat wajah bayinya di pagi hari dan merasa bersemangat untuk merawatnya lagi. Semua ini tidak luput dari kerjasama Mama Raka dan juga semua orang di rumah itu. Jika bukan karena lingkungan ini, mungkin Vira akan merasa sedikit depresi karena tidak mendapat istirahat dan tidur yang cukup dalam dua bulan.
Raka juga bahagia melihat semua itu. Dia berhasil meyakinkan Vira kalau Mamanya memang baik dan tidak pernah merasa direpotkan sama sekali. Semua interaksi yang terjadi di rumah ini membuat Vira merasakan perasaan positif yang membuatnya bahagia dan juga bersemangat untuk merawat bayinya.
...****************...
__ADS_1