
Leon saat ini telah berusia sembilan bulan. Bocah itu sangat aktif. Beruntung Leon dikelilingi orang-orang yang sangat mencintainya.
Terkadang di hari liburnya, Yudha meminta izin Vira untuk membawa putranya itu jalan-jalan. Wanita itu tidak pernah membatasi pertemuannya dengan Leon. Vira sadar jika bagaimanapun kesalahan Yudha dulu, dia tetap ayah kandung putranya.
Bukannya hanya Raka yang menyayangi Leon, tapi kedua orang tuanya juga. Mereka juga sering membawa Leon menginap di rumahnya.
***
Tidak terasa saat ini kandungan Vira telah memasuki bulan ke sembilan. Leon juga semakin aktif. Terkadang membuat Vira kelelahan. Harus menjaga Leon di usia bocah itu yang baru satu setengah tahun.
Pagi dini hari, Vira masih belum bisa memejamkan matanya. Dari sehabis magrib dia sudah merasakan pinggangnya yang mulai sakit.Vira sengaja tak mengatakan pada Raka agar suami posesifnya itu tak kuatir.
Vira menunggu sampai rasa itu tak bisa ditahan lagi, baru dia mengatakan pada suaminya. Vira tak mau berlama di rumah sakit.
"Mas Raka ...," panggil Vira sambil mengguncang tubuh suaminya itu.
"Ada apa, Sayang? Kamu pengin lagi ya?" tanya Raka dengan membuka matanya secara perlahan.
"Mas, aku nggak lagi pengin itu!" ucap Vira sedikit kesel.
"Jadi kenapa, Sayang?" tanya Raka dengan mata yang agak tertutup menahan kantuk.
"Pinggangku sakit banget!"
"Sini, Sayang, lebih dekat tidurnya. Biar aku usap untuk mengurangi sakitnya!"
"Mas, sepertinya aku mau melahirkan!"
"Apaaa ...?" tanya Raka kaget dan langsung duduk.
__ADS_1
"Aku rasa ini mau lahiran, Mas!"
"Kamu betul mau lahiran,Sayang? Jadi aku harus bagaimana, Sayang?" tanya Raka dengan gugup.
"Ya ke rumah sakit, Mas," ucap Vira meringis menahan sakit.
"Kalau gitu ayo kita ke rumah sakit "ucap Raka langsung turun dari ranjang menuju pintu.
"Mas, emang kamu mau kerumah sakit hanya dengan memakai boxer gitu!"
"Astaga, kamu kok nggak ngomong, Sayang."
"Itu yang tadi ngomong siapa?" tanya Vira.
"Sayang, yang sakit apa sih?" tanya Raka sambil berpakaian, dia mulai tampak panik.
"Kamu aku gendong aja ya!"ujar Raka langsung menggendong Vira dan dia menurunkan di sofa ruang tamu.
"Aku hubungi mama dulu ya, Sayang?"
"Iya, Mas. Cepet dikit, pinggang dan perutku makin terasa sakit!" ucap Vira.
"Iya, Sayang," ucap Raka mengambil ponselnya dan menghubungi mama. Lama dihubungi, baru mama mengangkat ponselnya
"Ada apa Raka? Masih subuh mengganggu aja!"
"Ma sepertinya Vira mau lahiran!"
"Apa ...? Mau lahiran!"
__ADS_1
"Iya, Ma. Temani aku kerumah sakit, Ma. Aku takut menghadapinya sendirian!"
"Iya, kamu siapin mobil. Bawa pakaian yang disiapkan Vira untuk lahiran, bawa ke rumah sakit. Nanti mama menyusul!"
"Iya Ma!"
Entah mengapa kali ini Raka begitu gugupnya . Padahal dia pernah menghadapi Vira saat melahirkan Leon. Mungkin karena kali ini yang akan dilahirkan Vira, putra kandungnya.
Setelah itu Raka langsung menutupi sambungan ponselnya. Raka lalu menghampiri Vira yang sedang memegang pinggangnya yang makin terasa sakit.
"Sayang, mama bilang bawa tas isi perlengkapan bayi buat di rumah sakit."
"Ambil itu tas koper yang disamping lemari, Mas. Yang aku tunjukin sama Mas kemarin."
"Oke Sayang, kamu tunggu ya!"
Raka langsung berlari kembali ke lantai atas mengambil tas koper itu. Setelah itu Raka membawa tas masuk ke dalam bagasi mobil. Dia lalu menggendong Vira dan mendudukkan di jok belakang. Saat akan masuk mobil, tampak mobil mama datang. dia lalu meminta mama cepat masuk.
Kedua orang tua Raka saat ini telah tinggal di kota yang sama dengannya. Bahkan satu wilayah.
Awalnya mama ingin menyusul saja. Tapi mengingat Raka belum begitu berpengalaman, akhirnya mama menyusul ke rumah. Jarak rumah mereka memang dekat. Mama sengaja membeli rumah baru yang lebih mungil di dekat kediaman Raka.
"Mama masuk aja ke mobil, aku mau titip Leon pada bibi dulu."
Raka kembali masuk ke rumah, meminta bibi menyusul ke rumah sakit setelah Vira melahirkan dengan membawa Leon. Raka tidak mau membawa Leon, takut nanti Leon diacuhkan karena pastinya dia akan sibuk dengan kelahiran putrinya.
Raka menjalankan mobil dengan kecepatan yang lumayan cepat. Beruntung jalanan sepi karena jam masih menunjukan pukul tiga pagi.
...****************...
__ADS_1