SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 73. Persalinan


__ADS_3

Persalinan Vira yang semakin dekat membuat Raka selalu siap siaga. Dia sudah tidak membolehkan Vira bekerja agar tidak terlalu lelah yang malah akan berdampak pada kandungannya. Vira awalnya merasa kesal ketika Raka memintanya untuk cuti melahirkan lebih cepat daripada seharusnya, namun karena dia sendiri juga sadar bahwa itu semata-mata demi kesehatan bayinya--terlebih dia juga sering merasa kram--dia pun akhirnya bisa memaklumi tindakan Raka.


"Jangan mengangkat benda berat! Coba kamu lihat perutmu itu, terlihat seperti ingin meledak."


Vira hanya tertawa mendengar perkataan konyol dari Raka. Sering sekali Raka berkunjung ke apartemen Vira hanya untuk memastikan keadaan Vira baik-baik saja. Dia juga sering sekali membantu Vira melakukan pekerjaan rumah meskipun sudah ada satu asisten di rumah itu. Vira sendiri tidak mempermasalahkannya atau juga merasa telah merepotkan Raka. Selagi Raka yang memilih untuk melakukan hal tersebut, maka Vira tidak perlu berpikir panjang hanya karena merasa tidak enak.


"Dokter bilang sekitar seminggu lagi." Mereka berdua duduk di beranda rumah. Vira menatap bentangan langit di luar sini. Udaranya segar, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Ada rasa takut di mata Vira, dan Raka bisa menyadari hal itu. Dalam keadaan seperti ini, perhatiannya hampir tidak pernah luput dari Vira. Dan dia akan selalu berusaha untuk meredakan rasa gelisah itu.


"Jangan khawatir, aku akan menemanimu ke rumah sakit nanti." Raka mengusap lembut pundak Vira, berusaha untuk menenangkannya. Raka sangat mengerti bahwa saat-saat akan bersalin merupakan saat yang menegangkan sekaligus membahagiakan bagi seorang ibu, terutama mereka yang baru pertama kali mengalaminya.


Bayangan tentang rasa sakit dan juga robekan yang bisa saja terjadi, jelas menjadi teror tersendiri bagi seorang ibu baru. Karena itu Raka tidak akan membiarkan pikiran-pikiran buruk itu menghantui Vira yang malah akan membuatnya stress dan jadi sulit dalam proses persalinannya nanti.


"Aku sedikit takut. Aku sudah membaca atau juga menonton berbagai referensi tentang ini. Itu membuatku hampir tidak bisa tidur," ucap Vira.


Raka semakin merasa kasihan mendengar hal itu. Ternyata dalam beberapa hari terakhir ini, Vira tidak bisa tidur karena tidak tenang dengan pikirannya sendiri. Dia dibuat takut oleh sesuatu yang sebetulnya belum terjadi dan hanya bersemayam dalam otaknya.

__ADS_1


"Jangan terlalu sering memikirkan sesuatu yang membuatmu merasa takut. Kamu tahu kalau semakin kau merasa stress, maka itu akan sangat berdampak dengan persalinanmu nanti. Ini berkaitan dengan hormon, jadi cobalah untuk rileks."


Vira hanya mengangguk, berusaha melakukan saran dari Raka tadi, meski mungkin itu akan sangat sulit untuk dilakukan, apalagi dia bisa dibilang sendirian di rumah itu. Di setiap malamnya, jelas tidak ada orang yang memeluknya dari belakang dan menenangkannya setiap kali dia merasa takut karena pikiran buruk itu. Dia sudah membutuhkan bahu dan telinga untuk mendengar semua keluh kesahnya selama ini. Raka belum bisa melakukannya mengingat mereka belum menikah.


"Aku tahu ini sangat sulit. Mungkin lebih baik kalau aku lebuh banyak membaca atau menonton topik motivasi yang tidak akan membuatku terlalu takut dengan persalinannya nanti."


Raka mengangguk dan kembali mengusap lembut rambut Vira. Dia percaya bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar asalkan Vira mau berdamai dengan pikirannya sendiri. Jika Vira bisa menjinakkan pikiran buruk itu, dia akan bisa menaklukkan dirinya sendiri.


Hingga ketika Vira menyadari bahwa dokternya barangkali salah memperkirakan. Lima hari setelah kejadian itu dia merasakan mulas luar biasa di perutnya. Awalnya dia berpikir bahwa itu adalah rasa sakit itu akan berlalu dan dia bisa beraktivitas kembali di rumah, namun nyatanya tidak.


Raka yang mendapat telepon dari asisten rumah Vira langsung tancap gas dari kantor menuju apartemen. Dia membantu Vira hingga perempuan itu dibawa oleh ambulans menuju rumah sakit. Raka bahkan sampai masuk ke ruangan persalinannya karena memang sejak awal sudah berjanji bahwa dia akan menemani Vira hingga bayi itu lahir.


Vira merasa sangat takut. Suasana itu membuatnya sedikit stress. Lampu yang terlalu terang, suara mesin di mana-mana, dokter dan juga para perawat yang lalu lalang, belum lagi suara kepanikan membuat kepalanya jadi pening.


Ingin sekali dia berteriak agar semua orang di sana jangan sampai membuat keributan yang membuatnya stress seperti ini, namun untuk sekedar mengatakan sepatah kata saja sudah sangat melelahkan baginya. Dia hanya bisa mengeluh seolah itu bisa mengurangi rasa sakitnya. Raka berada di belakangnya dan terus menenangkan dirinya sambil mengusap puncak kepala Vira.

__ADS_1


Vira berusaha melakukan intruksi dari dokter, terutama menenangkan diri dan juga mengatur nafasnya seperti yang dia pelajari selama ini. Setelah beberapa menit berlalu, kepala bayi itu keluar dan disusul dengan seluruh tubuh yang seolah meluncur begitu saja.


Persalinannya cukup sakit namun juga cukup singkat. Dia berhasil mengendalikan dirinya sendiri dan juga mengatur napasnya dengan baik. Dia mengalami refleks ferguson seperti yang biasa dialami mamalia lain di alam sana.


Vira langsung melupakan rasa sakit luar biasa itu setelah mendengar suara bayi menangis. Dia ikut menangis haru begitu melihat bayinya lahir dengan sehat. Para perawat membantunya untuk membersihkan diri dan menyelimuti bayi kecilnya itu sebelum kemudian Raka yang mengazaninya.


Raka yang telah mengazani bayi tersebut merasakan sedikit sesuatu dalam hatinya ketika melihat wajah bayi itu. Tak perlu ditanya, tentu saja wajah bayi itu sangat mirip dengan ayahnya yang tidak lain adalah Yudha.


Melihat wajah itu membuat Raka seperti merasakan ada sesuatu yang perih di hatinya. Biar bagaimanapun dia juga harus menerima bahwa dia akan melihat wajah Yudha selamanya setelah dia menikah dengan Vira nanti. Bayi ini adalah gambaran dan copy paste dari Yudha.


"Dia tampak menawan sekali," ucap Raka sambil terus memperhatikan wajah bayi itu. Bukan hanya Raka, Vira sendiri juga menyadarinya bahwa bayi ini jauh lebih mirip dengan ayahnya daripada dia sendiri.


Sesuatu yang sebenarnya kurang dia harapkan karena tidak mau membangkitkan kenangan itu lagi. Awalnya dia berharap bahwa bayi itu akan sepenuhnya mirip dengan dirinya, tak perlu ada sesuatu yang mengindikasikan bahwa Yudha masih di sana.


Namun, itu hanyalah harapan, biar bagaimanapun dia tidak bisa mengendalikan hal tersebut. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun di sini kalau bayinya lebih mirip dengan ayahnya daripada dengan dirinya. Biarlah dia menerima hal ini. Lagi pula tidak semua hal dari Yudha akan melekat dalam diri bayinya. Pasti ada sesuatu yang berbeda yang akan bayi itu dapatkan dari ibunya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2