SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 51. Move On


__ADS_3

...Aku pernah mencintai seseorang melebihi aku mencintai diri sendiri. Aku pernah menggantungkan seluruh kebahagiaanku pada kehadirannya. Aku pernah tidak peduli pada siapapun yang datang hanya agar dia tidak hilang. Namun, pada akhirnya dia memilih pergi meninggalkanku....


Beruntung bagi Vira kehamilannya tidak pernah mengganggu aktivitasnya. Yang wanita itu rasakan hanya mual, itupun hanya di pagi hari.


Vira bersyukur karena bayinya seolah tahu jika ibunya hanya tinggal seorang diri sehingga tidak pernah merepotkan.


Saat ini kandungan Vira telah memasuki bulan ketiga. Perutnya belum tampak buncit, mungkin karena tubuhnya yang langsing.


Setelah sarapan Vira langsung berangkat kerja dengan mengendarai mobilnya sendiri. Dia belum membutuhkan supir untuk saat ini.


Sampai di perusahaan, Vira langsung menuju ruang kerjanya. Wanita itu tersenyum melihat ada salad buah dan jus yang tersedia di meja.


Setiap pagi, ada saja sarapan sehat yang disediakan di meja kerjanya sejak dia hamil. Vira tahu itu semua atas perintah atasannya. Dia langsung memakan buahnya hingga lahap. Vira tidak menyadari kehadiran Raka. Pria itu tersenyum melihat Vira yang memakan buah dengan lahapnya.


Raka jadi teringat saat istrinya hamil muda dulu. Raka dengan senang hati memanjakannya. Namun, kebahagiaan mereka hanya sebentar, istri Raka akhirnya keguguran.


Dua tahun mengharapkan kehamilan lagi, tapi mereka ditampar kenyataan jika istrinya mengidap kanker rahim yang akhirnya merenggut nyawanya. Hingga saat ini dia masih betah menduda walau keluarga sudah sering menjodohkan dengan wanita lain.


"Selamat Pagi, Bumil," ucap Raka. Suaranya cukup mengagetkan Vira.


"Selamat Pagi, Pak Bos," balas Vira dengan bercanda juga.

__ADS_1


"Aku senang lihat kamu makan semuanya dengan lahap. Karena ada sebahagian wanita mengalami ngidam hingga sulit makan."


"Beruntung aku nggak mengalami itu, Pak. Hanya terkadang sedikit mual dan pusing di pagi hari."


"Syukurlah. Berarti kamu siap untuk kita mengikuti rapat siang nanti."


"Siap, Pak Bos," ucap Vira dengan mengangkat tangannya seperti orang hormat.


Tanpa Vira duga, Raka mengacak rambutnya gemas. Hal yang tak pernah pria itu lakukan. Raka yang menyadari tangannya berada di kepala Vira langsung menariknya. Tersenyum malu.


"Maaf, habis kamu gemesin," ucap Raka pelan. Mata Vira jadi membelalak mendengar ucapan bos nya yang spontan itu. Raka kembali tersenyum sebelum berjalan menuju meja kerjanya.


Di rumah yang Yudha beli untuk mereka tempati, tampak Weny dan Ibu mertuanya sedang ada sedikit perdebatan. Semua terjadi setelah Yudha meninggalkan rumah menuju kantor.


Semenjak mereka pindah, Weny meminta pada Yudha jika dia yang akan mengatur keuangan bukan ibu mertuanya. Awalnya Yudha tidak setuju, tapi Weny terus berargumen jika yang jadi istrinya adalah dirinya bukan ibu Desy. Dengan terpaksa pria itu setuju.


Weny sedang di dapur dan melihat apa yang menjadi sarapan pagi ini. Wanita itu marah karena menganggap menunya tidak bervariasi.


"Apa ibu tidak bisa masak selain nasi goreng ini? Aku bosan setiap hari harus sarapan ini terus!" ucap Weny dengan suara lantang.


"Hanya ada telur di kulkas. Jadi apa yang bisa ibu masak selain itu?" tanya Ibu dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"Kemana uang belanja yang aku beri kemarin. Ibu belikan apa saja?" tanya Weny.


"Kamu hanya memberi uang dua ratus ribu. Itu saja udah ibu belanja dengan hemat agar bisa buat beli bahan makanan untuk tiga hari."


"Jadi ibu mau aku beri berapa? Seharusnya ibu pintar belanja. Harus hemat! Saat dulu tinggal di rumah Mbak Vira, ibu bisa belanja banyak!" bentak Weny.


"Dulu Ibu bisa belanja dengan sesuka hati karena uang belanja Ibu yang mengatur," balas ibu Desy.


"Jadi ibu ingin aku memberi semua uang dari Yudha ke tangan Ibu? Apa ibu pikir aku ini Vira, yang bodoh dan mau saja ibu atur. Istri Yudha itu aku, bukan Ibu. Jangan berharap ibu bisa mengatur keuangan keluarga ini lagi. Aku tidak mau!"


Ibu menarik napas berat. Dua bulan ini keuangan tidak lagi dia kendali. Semua gaji Yudha dipegang wanita itu. Tampak Weny berdiri dari duduknya.


"Ibu itu seharusnya bersyukur masih ditampung di sini. Jadi jangan berharap lebih hingga ingin menguasai semuanya. Perlu ibu ingat, ratu di rumah ini aku bukan ibu. Jangan berharap lebih, hingga bisa menguasai!" Weny berdiri dari duduknya.


"Aku nggak suka nasi goreng ini. Lebih baik aku pesan makanan saja. Ibu harus habiskan nasi ini. Sebelum nasi goreng ini habis, jangan makan yang lain.Mubazir. Harus hemat karena gaji Yudha tidak banyak. Telah dipotong buat bayar rumah ini!" ucap Weny.


Setelah mengucapkan itu, Weny pergi meninggalkan ibu seorang diri di dapur. Wanita itu memesan makanan yang sesuai selera dirinya.


Ibu jadi terduduk setelah Weny menghilang dari dapur. "Dulu Vira tidak pernah membantah apapun yang aku lakukan. Dia juga menyerahkan keuangan padaku. Tidak mengizinkan aku memasak. Saat ini semuanya terbalik," gumam ibu pada dirinya sendiri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2