
Yudha merasa sangat bahagia karena Vira mengizinkannya untuk kembali datang keesokan harinya. Dia tahu bahwa Vira tidak akan melupakan semua kejadian itu, namun dia bisa melihat sebuah ketulusan di mata Vira ketika dia meminta maaf pada perempuan itu. Dia bisa melihat bahwa Vira telah menerima permintaan maafnya tanpa ada paksaan dari mana pun. Semua itu timbul dari lubuk hati Vira.
Maka pada keesokan harinya Yudha pun memberanikan diri untuk kembali datang ke rumah sakit. Kali ini dia membelikan bubur untuk Vira sebagai sarapan atau juga makan siang. Tentu saja sudah bertanya kepada dokter kandungan tentang khasiat bubur itu.
Ketika Yudha sampai di rumah sakit tersebut, dia terkejut karena ternyata Raka sudah ada di sana. Yudha yang memang merasa sangat cemburu pada Raka, semakin merasa panas ketika melihat Raka begitu dekat dengan mantan istrinya. Raka bahkan terlihat sangat dekat dengan anak Yudha saat ini. Yudha sampai tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya apabila Raka terus dekat dengan anaknya.
"Oh, Mas Yudha sudah sampai ternyata. Kukira Mas akan datang kemari sore nanti," ucap Vira sambil tersenyum. Dia menatap bayinya yang saat ini berada dalam gendongan Raka.
"Ya, kebetulan tidak ada sesuatu yang bisa aku lakukan di rumah. Jadi aku memilih datang kemari dan membawakan beberapa bubur untukmu. Ini juga rekomendasi dari dokter. Jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir."
Vira tersenyum kemudian menerima bingkisan itu. Merasa senang karena akhirnya dia kembali bisa menikmati bubur ayam, yang paling penting bubur ini aman untuknya dan juga anaknya.
"Aku tidak melihatmu kemarin sama sekali." Yudha mendadak berucap pada Raka yang tampak kurang peduli dengan kehadirannya sejak tadi. Raka tampak sibuk menggendong anak Vira yang saat ini juga tampak nyaman dalam gendongannya. Raka tidak ingin pria itu merasa tidak nyaman.
Raka langsung mengangkat kepala begitu menyadari bahwa pertanyaan tersebut ditujukan untuknya. Dia terlalu bahagia sehingga tidak menyadari ada kecemburuan berat di mata Yudha. Dia tidak menyadari bahwa saat ini Yudha menatap tidak suka pada Raka. Bahkan Vira sendiri juga tidak menyadari hal itu meskipun pada saat semacam ini dia sangat sensitif dan peka terhadap keadaan. Raka tersenyum sambil tetap menggendong bayi Vira.
"Ya, mungkin kemarin aku sedang bekerja dan tidak sempat untuk menemani Vira seperti biasanya."
Yudha seakan semakin merasa sakit hati mendengar hal tersebut. Itu berarti selama ini Raka memang selalu menemani Vira bahkan sebelum Vira melahirkan. Yudha tidak bisa membayangkan apa saja yang terjadi selama ini selagi dia tidak melihat apa yang dilakukan oleh Vira tanpa dirinya.
__ADS_1
Dia tidak mau membayangkan hal tersebut karena tidak mau menyakiti dirinya sendiri. Dia sudah cukup terbakar karena perasaan cemburu itu. Cukuplah sampai di sini dan jangan semakin parah lagi.
Yudha tidak tahu apa yang akan dia lakukan apabila dia kalah dan pada akhirnya malah akan menimbulkan kekacauan padahal dia sudah tidak punya hak apa pun terhadap Vira.
"Oh, kalau begitu aku sangat berterima kasih karena kau sudah menjaga Vira selama ini bahkan hingga dia melahirkan. Aku yakin persalinannya juga sangat lancar berkat bantuanmu." Yudha dengan terpaksa mengucapkan itu.
Raka merasa tersanjung karena pujian dari Yudha, masih tidak menyadari bahwa itu adalah isyarat Yudha merasa sangat cemburu. Dia tetap saja tidak peka yang membuat Yudha semakin merasa kesal.
Namun, biar bagaimanapun tidak boleh ada satu orang pun yang harus diusir dari sana. Jangan sampai menimbulkan keributan. Itulah yang tertanam dalam hati Yudha saat ini.
"Mas Yudha tidak perlu terlalu khawatir. Raka menjagaku dengan sangat baik. Bahkan dia juga yang mengadzani bayi mungil itu," ucap Vira.
Yudha tidak pernah berpikir bahwa anaknya diazani oleh lelaki lain. Dia tidak pernah mengharapkan hal tersebut. Hal itu membuatnya merasa sangat gagal menjadi lelaki. Yudha tidak ada ketika mantan istrinya ini melahirkan, tidak menyaksikan peristiwa menakjubkan itu, apalagi sampai melakukan sesuatu yang istimewa pada anak kandungnya sendiri.
"Oh, begitu ternyata. Terima kasih sekali lagi. Karena telah mengadzani anakku," ucap Yudha dengan penuh penekanan, semua itu agar Raka sadar jika bayi yang berada dalam gendongan pria itu, putranya.
Tanpa memahami perasaan Yudha saat ini, Raka mendadak saja mengatakan sesuatu yang membuat Yudha sampai mengerutkan kening. Awalnya dia tidak mengerti sama sekali karena perkataan Raka tidak terlalu jelas baginya.
"Kami sudah merencanakan banyak hal beberapa hari yang lalu. Kami berharap kau akan datang, kalau kau tidak keberatan sama sekali." Itu yang dikatakan oleh Raka pada Yudha. Tidak langsung mengatakan bahwa hal yang dia maksud itu adalah pesta pernikahan dengan Vira.
__ADS_1
"Apa maksudnya? Merencanakan apa?" tanya Yudha sambil beralih menatap Vira, meminta mantan istrinya itu untuk memperjelas maksud dari kalimat Raka tadi.
Vira hanya tersenyum ketika menyadari bahwa Yudha tidak mengerti sama sekali. Dia pun membantu untuk menjelaskan semua itu yang semakin membuat Yudha runtuh dan kehilangan seluruh dunianya.
"Sesuatu yang sebenarnya sudah biasa. Kami merencanakan pernikahan beberapa bulan yang lalu. Raka bilang bahwa dia akan menikahiku begitu aku melahirkan anak ini. Raka hanya menunggu kondisiku hingga pulih sepenuhnya barulah pesta pernikahan itu diadakan," ujar Vira.
Yudha masih mencoba tersenyum dan biasa saja. Masih sanggup, dia masih sanggup menahan diri dan juga emosinya. Dia masih tahu diri. Dia tahu bahwa dia bukanlah siapa-siapa di sini. Dia sudah tidak punya hak atas Vira. Hanya ada satu hubungan yang menyelamatkan dirinya saat ini, yaitu tanggung jawab untuk menafkahi anaknya.
"Kalian akan menikah sebentar lagi?" tanya Yudha memastikan. Suaranya terdengar sangat berat dan penuh penekanan, berharap dua orang itu mengerti bahwa saat ini dia merasa sangat sakit hati dan cemburu.
Namun, karena sedang dilanda bahagia, tentu saja Raka maupun Vira tidak menyadari hal tersebut. Mereka fokus pada kebahagiaan mereka masing-masing. Vira juga merasa bahwa Yudha tidak lagi mencintainya dan tidak akan lagi sakit hati apabila dia menikah kembali setelah ini.
"Ya, begitulah. Doakan semuanya lancar, Mas" ucap Vira tanpa merasa bersalah sama sekali. Yudha pun berusaha untuk tersenyum dan mengendalikan dirinya sendiri. Raka memberikan bayi itu pada Vira karena dia sudah tertidur sangat lelah.
Vira membaringkan bayinya tepat di sampingnya. Sedangkan Yudha sendiri memilih untuk pergi dari sana. Dia pamit dengan alasan ingin bekerja dan harus menengok ibunya dulu. Padahal sebenarnya dia hanya merasa tidak tahan melihat kedua orang itu merasa bahagia dengan rencana pernikahan mereka.
Yudha sangat ingin menenangkan diri. Dia tidak mau diganggu saat ini. Dia tidak mau kemarahannya itu malah akan melukai orang lain. Biarlah dia menangis dalam sepi dan tidak dilihat oleh siapa pun agar tidak ada yang bilang bahwa dia lemah.
...****************...
__ADS_1