SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 87. Melahirkan


__ADS_3

Vira ada dalam pelukan mama Raka. Mertuanya itu mengusap pinggang dan perut Vira untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Bagaimana Sayang,masih sakit ya?" tanya Raka sambil menyetir.


"Tentu aja Raka, sakitnya terasa sampai anak lahir dan makin dekat kelahiran semakin sakit yang terasa. Jika kamu yang mengalami, pasti tak akan bisa menahannya, seperti kata dokter, sakitnya seperti dua puluh tulang dipatahkan secara serempak," ucap Mama.


"Sayang, bertahan ya sebentar lagi kita sampai rumah sakit," ucap Raka cemas memdengar ucapan mama.


Saat ini Papanya Raka sedang berada di luar kota sehingga mama saja yang bisa menemani Vira melahirkan.


"Tahan sebentar, Vira!" ucap mama masih mengelus pinggang Vira.


"Ya, Ma," ucap Vira sambil menahan rasa sakit yang makin lama makin terasa intens.


"Ma, aku pipis!" ucap Vira malu. Wajahnya memerah menahan malu sekaligus rasa sakit.


"Ini bukan pipis, Vira. Ini air ketuban kamu kayaknya. Raka percepat dikit, air ketuban istrimu sudah pecah. Vira sudah hampir lahiran," ujar Mama.


"Iya, Ma," jawab Raka makin panik.


"Konsentrasi, walau dipercepat kamu harus hati hati. Kamu sudah menghubungi dokter tadikan?"


"Sudah, Ma!"


Mobil memasuki halaman rumah sakit, Raka segera menggendong Vira dan membawa masuk ke ruang IGD.


"istrinya kenapa, Pak?" tanya perawat melihat Raka menggendong Vira menuju IGD.


"Mau lahiran, Dokter Zulaida nya mana?"


"Oh, kalau mau lahiran sebaiknya jangan IGD Pak, mari sini ... bawa masuk Pak. Dan tidurlah di kasur itu, saya panggilkan dokter! "ucap Perawat setelah Vira dibaringkan di ruang persalinan. Mama mengikuti dari belakang.


"Sayang, mana yang sakit?" tanya Raka.


"Semuanya! Perut, pinggang, dan badan."

__ADS_1


"Aku harus bagaimana biar sakitnya berkurang, Sayang?"


"Nggak ada, Mas. Jangan tinggalkan aku sendiri, itu aja!"


"Ma, apa nggak ada obat untuk menghilangkan sakit yang dirasakan Vira?"


"Nggak ada Raka. Itu memang proses alami ketika wanita akan melahirkan."


Dokter Zulaida masuk bersama dua bidan pembantu. Raka langsung mendekati.


"Dokter, tolong istri saya. Tolong hilangkan rasa sakitnya"


"Sebentar ya Pak Raka. Saya periksa dulu, sudah bukaan berapa istri anda!"


"Bukaan apa, Dok?" tanya Raka heran.


"Bukaan buat jalan lahirnya putri anda!"


"Cepat periksa Dok. Kasihan Vira. Lihat keringat sudah membasahi tubuhnya karena menahan sakit!"


"Ternyata udah bukaan sembilan. Sebentar lagi istri anda lahiran. Ibu Vira nanti jika saya minta ibu mengejan, ibu tarik nafas dalam-dalam baru ibu mengejan ya!"


"Baik, Dok!" jawab Vira lemah sambil terus menggenggam tangan Raka menahan rasa sakit.


Raka yang merasa kuatnya genggaman tangan Vira ,bisa mengetahui jika istrinya itu sedang menahan rasa sakit. Raka juga menteskan air mata melihat istrinya yang meringis menahan sakit.


Saat melahirkan Leon, Raka juga menemani. Namun, saat itu dia tidak melihat langsung saat proses melahirkan.


"Sayang, apa yang harus aku lakukan agar sakit yang kamu rasakan bisa berkurang?" tanya Raka.


"Nggak ada, Mas. Pegang aja tanganku. Biar aku makin kuat!"


" Iya,Sayang, kamu harus kuat ya. Sebentar lagi putri kita lahir!"


"Iya, Mas."

__ADS_1


"Dokter, aku sudah nggak tahan,apa aku sudah boleh mengejan?" tanya Vira makin mempererat genggaman tangannya dengan Raka. Vira merasa seperti akan membuang air besar.


"Mama, bantu Vira. Buat dia kuat!" ucap Raka memohon karena melihat Vira yang menahan sakit.


"Raka, nggak ada yang bisa Mama bantu. Cuma doa aja. Kamu harus tenang! Sebentar lagi pasti istrimu lahiran!"


"Ibu Vira, ini sudah saatnya ibu mengejan. Saya hitung sampai sepuluh, ibu tarik nafas kuat kuat dan mulai mengejan ya!" ucap dokter Zulaida.


Dokter lalu memulai hitungan, Vira lalu menarik nafas kuat dan mengejan dengan sekuat tenaga,


"Sekarang tahan dulu bu, kita coba lagi. Ibu tarik nafas kuat seperti tadi lalu mengejan ulang!"


Vira menarik napas dalam dan mulai mengejan kembali. Ingin rasanya dia berteriak, tapi itu tidak boleh dilakukan. Kembali anaknya belum juga tampak keluar, hanya rambutnya yang udah keliatan.


"Dokter, saya sudah nggak kuat," ucap Vira akhirnya karena udah beberapa kali mencoba masih gagal. Dia merasa sangat lelah.


Raka semakin kuatir dan kasihan melihat istrinya yang berjuang melahirkan buah hati mereka.


"Sayang, kamu harus kuat. Jangan menyerah!" ucap Raka mengusap kepala Khayra.


"Ibu kita coba lagi sekarang. Ini rambut anak ibu sudah kelihatan. Ibu harus kuat!" ucap Dokter.


Dokter mengarahkan Vira buat mencoba mengejan lagi. Dia kembali menarik napasnya kuat. Kali ini bidan membantu bayi keluar dengan mendorong dari perut Vira.


Raka tak bisa menahan tangisnya melihat Vira yang masih terus berjuang melahirkan. Tadi Raka sempat menawarkan untuk operasi saja, tapi Vira menolak, dia masih mau lahiran normal.


"Ya Tuhan bantu Vira, beri dia kekuatan agar dapat melahirkan bayi kami!"


Setelah di bantu bidan akhirnya bayi Vira keluar. Terdengar suara tangisan bayi menggema diruangan itu.


Raka melihat bayinya keluar tak bisa menahan tangisnya. Dia terisak dan langsung memeluk Vira.


"Selamat Pak Raka dan ibu Vira, anak Bapak lahir sehat dan cantik,"ucap Dokter. Raka tampak menarik napas lega dan tak berhenti mengucapkan syukur.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2