
Vira telah mengerti kenapa akhirmya mantan suaminya datang dan meminta maaf. Setelah Weny ketahuan berbohong, dia berharap pada anak yang dikandung Vira.
"Jadi Mas datang padaku setelah tahu jika Weny berbohong dan anak yang dikandungnya itu bukan anakmu. Sekarang kamu berharap anak aku ini adalah darah dagingmu. Aku bukan pelampiasan di saat pemeran utama tidak ada."
Dada Vira terasa sesak mengetahui itu. Dia merasa hanyalah sebagai cadangan. Begitu juga bayi dalam kandungannya. Jika saja Yudha tidak tahu anak yang dikandung Weny itu bukan anaknya, pasti dia tidak akan mencari Vira, pikir wanita itu.
"Bukan begitu, Vira. Aku baru menyadari semuanya setelah ditampar kenyataan jika Weny bukanlah wanita yang baik."
"Jika kamu tidak mengetahui itu berarti kamu akan tetap dengan pendirian kamu jika anak ini bukan anakmu!" ucap Vira sedikit emosi.
Yudha hanya diam, mungkin sedang merangkai kata apa yang akan di ucapkan. Tampak pria itu menarik napas dalam.
"Teruslah berpikir jika anak ini bukan anakmu. Masih ada orang lain yang menyayangi dirinya. Aku tidak berharap belas kasih darimu.Bayi ini bukan hanya pelampiasan dari rasa kecewamu. Kamu keterlaluan, Mas. Kedatanganmu bukan mengobati hatiku, tapi menambahnya. Jangan pernah datang kalau kamu belum yakin kali dengan keputusanmu!"
Vira berdiri dari duduknya. Dia tidak ingin berlama dengan pria itu. Hatinya makin tersakiti dan tersayat mendengar penjelasan dari mantan suaminya. Pria itu datang bukan ikhlas dari hatinya tapi karena kecewa atas kebohongan Weny.
Yudha mengejar Vira dan menahan langkahnya dengan memegang pergelangan tangan Vira. Wanita itu akhirnya berhenti berjalan.
"Apa lagi, Mas? Tidak cukupkah selama ini luka yang kau berikan padaku, sehingga kau tambah lagi dengan anakku. Kau bisa menghinaku tapi tidak dengan anakku. Walau dia belum lahir, aku telah menyayanginya dengan sepenuh hati."
__ADS_1
"Vira, maafkan aku.Tidak pernah aku bermaksud begitu. Aku benar-benar menyesal atas apa yang pernah ku lakukan."
"Apa hanya kata maaf saja yang bisa kamu ucapkan denganku, Mas. Apa kamu pikir aku ini malaikat yang tidak pernah ada rasa sakit hati. Aku tidak bisa terima semua sikapmu ini. Aku harap jangan pernah lagi temui aku hingga aku bisa berdamai dengan keadaan dan ikhlas menerima semuanya. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya."
Vira melepaskan pegangan tangan Yudha. Berjalan meninggalkan pria itu.
"Aku tahu mengucapkan maaf tak akan cukup untuk segala hal yang sudah menyakitimu, tapi aku akan terus mengucapkannya jutaan kali hingga kamu memaafkanku. Maafkan aku. Aku masih tidak mengerti bagaimana aku bisa menyakitimu, dengan sepenuh hati aku memohon padamu untuk memaafkanku, kamu adalah semua yang aku miliki," ucap Yudha dengan suara sedikit keras agar Vira mendengarnya.
Vira tetap berjalan tanpa pedulikan lagi Yudha. Menghentikan taksi dan meminta mengantarkan ke perusahaan.
Sampai di perusahaan, wanita itu langsung menuju lift dan menekan tombol ke lantai ruang kerjanya. Begitu membuka ruang kerja, Vira melihat Raka yang sedang berdiri di jendela menatap ke luar.
Vira sedikit berlari dan memeluk pria itu, membuat Raka kaget. Tangisannya pecah di dada atasannya itu.
"Siapa yang menjadikan kamu pelarian? Bagiku kamu yang utama," ucap Raka pelan, tapi dapat didengar oleh Vira.
Vira melepaskan pelukannya, memandangi wajah atasannya itu. Tidak ada kebohongan yang telihat.
"Maaf, Pak. Bajunya basah karena air mata saya," ucap Vira melihat baju pria itu yang basah.
__ADS_1
"Aku ada baju yang lain. Apa aku boleh tahu, kenapa kamu menangis?" tanya Raka.
Vira menarik napasnya. Dia tidak tahu harus memulai dari mana ceritanya.
"Sudahlah! Lupakan saja kalau kamu rasa itu pribadi. Maafkan aku!" ucap Raka.
Pria itu berjalan menuju meja kerjanya. Membuka laptop, memulai pekerjaan.
"Apa Bapak sudah makan siang?" tanya Vira mendekati meja kerjanya.
"Kenapa ...?" Bukannya menjawab pertanyaan Vira, pria itu bahkan bertanya balik.
"Saya lapar. Katanya Bapak mau makan siang dengan saya," ucap Vira pelan.
Raka kaget mendengar ucapan wanita itu. Sebenarnya Raka telah makan siang. Tadi dia minta Dewi memesan makanan.
"Apa kamu tadi belum makan siang dengan mantan suamimu?" tanya Raka lagi.
"Belum, Pak. Saya Udah janji dengan Bapak, masa saya harus makan dengan orang lain. Nanti Bapak bagaimana?" tanya Vira
__ADS_1
Mendengar ucapan wanita itu Raka jadi tersenyum. Karena Vira ternyata masih ingat dengan janjinya.
...****************...