SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 49. Paket Dari Raka


__ADS_3

...Kau bagai duri yang menyakiti sebegitu parah, namun bedanya luka yang diberikan olehmu tak dapat ku obati secara instan. Hatiku seakan berdarah karena menggenggammu terlalu erat. Bagaimanapun aku berusaha kau tidak akan pernah melihat ke arahku, maka kucukupkan aku dan hatiku untuk saling menyakiti.Kita adalah dua orang yang pernah memiliki rasa yang sama namun tak ditakdirkan untuk terus bersama....


Vira menghapus air matanya. Dalam hati dia janji tidak akan ada lagi tetesan air dari matanya yang membasahi pipi. Bukankah Tuhan sudah sangat baik padanya. Dengan memberikan satu nyawa yang akan menemani dirinya.


Vira hari ini minta izin tidak masuk kerja. Dia ingin istirahat untuk menenangkan pikiran setelah keputusan sidang. Baru saja Vira menginjakkan kakinya di teras rumah, ada kurir yang mengantar makanan dan sebuket bunga.


Vira tersenyum setelah mengetahui siapa yang mengirimkan bunga dan makanan itu. Setelah memberikan tip buat kurir, wanita itu membawa bunga dan kotak makanannya ke dalam.


Vira mengambil kartu yang terdapat dalam buket bunga. Ada pesan yang ditulis Raka untuknya.


"Jangan menangis karena sudah semua berakhir, tersenyumlah karena itu sudah terjadi.Jangan biarkan itu merusakmu. Tidak peduli seberapa sulitnya, hidup terus berjalan. Suatu hari akan datang ketika kamu akan bersyukur kepada seluruh dunia yang terus berjalan."


Vira masih terus tersenyum. Atasannya itu sangat baik dan perhatian, apa lagi sejak mengetahui dirinya hamil. Dia merasa tidak sendiri lagi, walau ayah dari bayinya tidak peduli.


Meletakkan kotak makanan di atas meja, Vira mengambil ponselnya dan menghubungi atasannya itu. Baru beberapa detik telah tersambung.


"Terima kasih, Pak. Bunga dan makanannya telah diterima dengan baik," ucap Vira begitu tersambung.

__ADS_1


"Jangan pernah ada air mata lagi. Bukankah ini keputusan kamu sendiri. Percayalah akan ada pelangi setelah hujan."


"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih." Senyum terus terukir di wajah wanita cantik itu. Dia tidak pernah merasa kesepian. Raka selalu menghibur dengan kata-kata bijaknya.


"Sekarang kamu makanlah. Ingat, kamu tidak sendiri lagi. Ada bayi mungil di rahimmu. Aku juga mau makan siang."


"Iya, Pak," jawab Vira. Sambungan ponsel berakhir.


Vira berjalan menuju meja makan, dimana dia meletakkan makanan yang dikirim Raka tadi. Vira membukanya. Ternyata didalamnya sudah tersedia menu lengkap dengan buah, sayur dan jus. Kembali wanita itu tersenyum.



***


Di tempat lain,


Ibu Desy sedang memasak di dapur seorang diri. Dari pengadilan tadi mereka mampir ke pasar untuk beli bahan makanan. Yudha tidak bisa membawa mereka makan di luar. Harus lebih berhemat untuk membayar cicilan rumah yang dia beli.

__ADS_1


Yudha langsung kembali ke kantor. Di dalam ruang kerjanya tampak dia termenung. Teringat saat bersama dengan mantan istrinya Vira.


Bowo teman akrabnya di tempat kerja mendekati pria itu. Dia tempat Yudha biasa berbagi cerita.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Bowo.


"Aku merasa ada yang hilang dari dalam tubuhku. Semua terasa hampa saat hakim menyatakan kami sah berpisah," ucap Yudha.


"Aku sudah ingatkan kamu dari awal, jika pernikahan itu bukan hanya masalah keturunan. Jika kamu memang mencintai Vira, seharusnya kamu bisa menerima dia apa adanya. Jika memang ibunya tetap menginginkan keturunan, kau bisa gunakan bayi tabung atau angkat anak saja. Walau dia bukan darah dagingmu, jika kita menjaga dengan penuh kasih sayang, pasti anak itu juga akan menyayangi kita," ucap Bowo.


Yudha menarik napas berat. Semua telah terjadi, tidak akan bisa diulang kembali. Hanya berharap inilah jalan terbaik bagi dia dan Vira.


...****************...


Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.


__ADS_1


__ADS_2