SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 59. Pengakuan Weny


__ADS_3

Yudha melihat kalau Weny begitu menikmati hari ini bersamanya. Mereka pergi ke bioskop dan juga sempat singgah di taman kota sambil menikmati es krim segar. Di sepanjang hari itu Yudha tidak banyak bicara. Pikirannya sudah terlanjur fokus pada satu hal itu dan dia tidak bisa lagi mengalihkannya kepada pikiran lain.


"Kok, dari tadi kamu diam aja? Kamu capek? Apa lebih baik kita pulang sekarang?" tanya Weny. Yudha berusaha tersenyum agar Weny tidak terlalu curiga.


"Terserah kamu saja. Kalau kamu mau pulang, ya, kita pulang sekarang."


Karena Weny merasa kasihan melihat Yudha yang menurutnya kelelahan, dia pun memutuskan untuk pulang waktu itu juga, walaupun dia belum puas menikmatinya. Menurutnya masih ada kesempatan lain untuk menghabiskan waktu bersama Yudha, terlebih lagi ketika anaknya nanti lahir.


"Ya sudah, lebih baik kita pulang sekarang. Mungkin kamu kelelahan karena pekerjaanmu, Mas. Aku tidak mau membuatmu semakin kerepotan lagi. Kita bisa jalan-jalan lagi lain hari setelah kau merasa lebih baik."


Yudha kembali tersenyum. Betapa manisnya perkataan perempuan itu, pantas saja dia dengan mudah tertipu. Sekarang rasanya dia ingin menertawakan dirinya.


Mereka kembali ke rumah. Weny membereskan barang belanjaannya, mengaturnya dengan rapi di kamar. Dia tetap tidak menyadari bahwa ada bahaya yang mengintai dirinya saat ini. Dia tidak menyadari bahwa sebentar lagi dia akan hancur sehancur-hancurnya. Weny masih saja bahagia. Kebahagiaan yang mematikan rasa pekanya.


"Nanti kalau kamu punya waktu luang lagi, maukah kau menemaniku untuk periksa ke rumah sakit? Aku harus rutin datang ke dokter," ujar Yuni basa basi. Padahal dia tidak berharap suaminya itu ikut.


Rasanya Yudha ingin muntah mendengar perkataan Weny. Menyadari bahwa selama ini dia merawat darah daging dari pria lain, membuatnya ingin pergi sekarang juga dari rumah itu.


Namun, dia harus menahannya. Yudha harus menemukan waktu yang paling tepat untuk menjatuhkan harga diri perempuan itu. Dia ingin hanya ada mereka berdua dalam suatu ruangan yang membuatnya bisa berteriak sesuka hati di depan Weny. Tidak perlu sampai ada yang mendengar. Cukup menunggu hari esok hingga orang lain mengetahuinya.


"Ya, aku tahu. Bukankah aku sudah melakukannya sebelum ini? Kau tinggal bilang kalau kau ingin datang ke dokter. Aku akan meluangkan waktu untukmu."

__ADS_1


Weny merasa sangat senang mendengar jawaban dari Yudha. Merasa bahwa pria itu selalu bisa membuatnya bahagia, khususnya hari ini. Walaupun dia berharap itu hanya wacana. Karena sebenarnya dia tidak ingin pria itu ikut ke dokter kandungan.


"Terima kasih, ya."


Namun, kebahagiaan itu hanya sementara. Ketika Weny membersihkan tubuhnya dan bersiap tidur setelah itu, dia mendapati suaminya ada di kamar itu dan sedang termenung. Bahkan Yudha masih mengenakan pakaian tadi pagi.


"Kukira tadi kamu sudah mandi, Mas," ucap Weny sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk.


Yudha kini sudah tidak bisa tersenyum. Dia menatap istrinya itu dengan tatapan dingin yang membuat Weny langsung merasakan ada sesuatu yang salah di sini. Wanita itu bisa merasakannya dari tatapan Yudha. Langsung mengerti bahwa pria itu akan marah padanya entah karena apa.


"Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kau tampak marah seperti itu? Padahal tadi pagi kita baru saja jalan-jalan. Kurasa tidak ada sesuatu yang salah," ucap Weny sekali lagi.


Yudha kini tertawa, semua kepura-puraan yang dilakukan oleh perempuan itu begitu luar biasa. Dan kini dia menampakan akting terbaiknya lagi. Sungguh ampuh untuk menipu siapa saja seandainya orang yang ditipu tidak memiliki bukti sama sekali.


"Bicaralah dengan jelas. Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, Mas. Aku tidak mengerti kenapa kau terlihat begitu marah padaku. Kalau aku melakukan kesalahan aku minta maaf."


Yudha tertawa lagi. Bahkan Weny dengan sangat mudah meminta maaf ketika kesalahannya sudah tidak bisa ditoleransi lagi.


"Kau mau aku berbicara dengan jelas dan tidak berbasa-basi? Oke, aku akan berbicara dengan jelas apa yang membuatku marah padamu. Aku hanya ingin mengetahui siapa ayah dari bayi yang kau kandung?"


Weny langsung membeku di tempat. Dia tahu kalau saja masih bisa mengelak dalam hal ini. Selagi suaminya tidak memiliki bukti sama sekali, maka dia masih bisa berpura-pura mengatakan bahwa bayi yang sedang dikandung adalah darah daging suaminya, seperti biasanya.

__ADS_1


"Kau ini kenapa?! Mengapa mendadak mengatakan hal itu?! Dan pertanyaan macam apa pula itu?! Tentu saja kau ayah dari bayi ini. Memangnya siapa lagi?! Mencurigai seseorang?"


"Ya, tentu saja aku mencurigai seseorang. Seseorang yang kau curigai sebagai ayah kandung dari bayi itu. Sayangnya, aku sama sekali tidak tahu siapa namanya, aku hanya mendengar sekilas suaranya ketika kau berbicara dengannya lewat telepon."


Weny kembali mematung di tempat, sudah tidak bisa lagi bergerak, seolah ada sesuatu yang menahannya. Tidak menyangka sama sekali kalau suaminya itu mendengar percakapannya tadi pagi ketika dia menerima telepon. Bodohnya lagi dia juga mengatakan bahwa bayi yang sedang dikandung bukanlah darah daging suaminya.


"Aku tidak percaya kau mengatakan ini padaku." Weny bicara sendu dan berusaha mengeluarkan air matanya agar Yudha percaya.


"Dan aku tidak percaya juga kau melakukan hal ini padaku! Kau tahu bahwa aku sangat bahagia dengan kehadiran bayi ini. Mengetahui bahwa ternyata ini bukanlah anakku, itu membuatku hancur, Weny. Apakah kau tidak berpikir sama sekali?"


Weny hampir menangis namun tetap berusaha menahan diri. Tidak, dia jelas tidak akan mau kehilangan suaminya begitu saja. Wanita itu ingin menolak semua itu selama yang dia mampu. Selagi memang masih bisa, dia akan terus mempertahankan suaminya.


"Ini anakmu! Kau salah paham!"


"Salah paham apanya?! Kau mau membuktikannya bahwa itu adalah anakku?! Oke, kalau begitu kita akan tes DNA," ucap Yudha dengan sedikit emosi.


Weny membulatkan matanya. Bila sampai itu terjadi maka tamatlah riwayatnya. Dia tidak akan punya kesempatan lagi untuk tinggal di rumah ini. Lagi pula apa yang harus dilakukan sekarang? Masih mau mengelak?


Weny menunduk dan akhirnya menangis. Secara perlahan dia mengangguk, merasa memang tidak punya kesempatan lagi. Dia akan semakin malu apabila tes DNA itu terjadi. Jadi mungkin akan lebih baik apabila dia mengakuinya di sini saja. Siapa tahu kalau suaminya masih bisa memaafkannya.


"Ok, aku mengakui semuanya bahwa ini bukanlah anakmu. Ini anak dari mantan pacarku yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanku," ucap Weny pelan.

__ADS_1


Sekarang Yudha merasa sudah sangat hancur. Kalimat itu menghancurkan dirinya. Kebenaran itu meruntuhkan seluruh dunianya. Ternyata istrinya ini sudah hamil bahkan sebelum mereka menikah. Wanita ini menanggung kesalahan yang dia buat sendiri bersama mantan pacarnya yang kabur dan tidak mau tanggung jawab, lantas menikah dengan Yudha dan berharap agar Yudha menjadi ayah dari anak yang dikandung oleh Weny. Sungguh kebodohan yang menghancurkan harga dirinya. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi.


...****************...


__ADS_2