
"Aku mohon maafkan aku, Mas Yudha. Biarkan aku memperbaiki kesalahan ini. Aku akan melakukan apa saja asalkan kau memaafkanku. Tolong beri aku kesempatan."
Weny menangis dan memohon kepada Yudha. Percuma saja, air mata itu tidak akan membuat Yudha merasa luluh. Air mata dari seorang pembohong tidaklah pantas mendapatkan ampunan. Dia yakin bahwa seperti inilah karakter Weny, karakternya akan sangat sulit diubah. Sangat jarang ada orang yang sanggup mengubah dirinya hanya demi bisa mendapatkan cinta orang lain. Yudha sudah cukup malu pada dirinya sendiri karena dibohongi oleh perempuan ini. Harga dirinya sudah dipertaruhkan di sini.
"Jangan berusaha membuatku untuk kasihan padamu. Bagaimanapun kau menangis sekarang, aku tidak akan pernah lagi percaya padamu, Weny. Kau sudah cukup membuatku malu. Kau hanya memanfaatkan diriku untuk kesenanganmu saja. Besok aku akan mengusirmu dari sini. Pergilah dari rumahku ini!" teriak Yudha.
Weny merasa sangat siap begitu mengetahui kalau suaminya akan mengusirnya dari rumah itu. Tidak, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Akan seperti apa hidupnya apabila keluar dari rumah itu. Jangan sampai dia malah menjadi pengemis setelah keluar dari sana. Dia tidak mau hidup susah dan terhina di jalanan.
Pulang ke rumah orang tuanya juga tidak mungkin. Saat dia melahirkan kedua orang tuanya akan tahu jika dia hamil diluar nikah dan cerai karena itu.
"Tidak, Yudha. Aku tidak mau. Tidak akan ada yang keluar dari rumah ini, termasuk diriku. Aku tidak akan mau pergi dari sini," ucap Weny dengan air mata yang berderai.
"Mengingat bahwa pemilik rumah ini adalah aku, aku berhak mengeluarkan siapa pun yang tidak berhak untuk mendapatkan kenyamanan di rumah ini. Kau telah membodohi aku selama ini. Terutama ibuku. Kau telah membuatku menolak Vira, aku yakin sekarang jika dia tidak bohong. Vira lah yang mengandung anakku!"
Yudha langsung keluar dari kamar begitu mengatakan hal tersebut, dia meninggalkan Weny di sana yang menangis tersedu.
Esok paginya Yudha sungguh melancarkan aksinya itu, tidak lagi memikirkan hal lain karena keputusannya sudah bulat. Dia bahkan sudah memberitahu ibunya tentang kenyataan itu. Tidak perlu ditanya lagi, ibunya jelas merasa sangat terkejut, lebih terkejut daripada dirinya sendiri.
Yudha sangat mengerti bahwa ibunya sungguh menantikan kehadiran dari bayi itu. Ibunya sungguh bahagia ketika mengetahui bahwa Weny hamil dan sebentar lagi akan memberikan cucu kepadanya, namun setelah menerima kabar buruk ini, ibunya hampir tidak bisa mengendalikan diri. Ibunya menangis begitu saja.
"Ibu tidak percaya sama sekali kalau kau melakukan ini kepada kami. Dulu Ibu sangat percaya padamu. Namun ini balasanmu?" ucap Desy kepada menantunya itu.
__ADS_1
"Ibu sudah berhasil kau tipu. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Dasar pecundang. Kau yang telah aku manjakan ternyata pembohong. Dimana mau aku letakan wajah ini jika bertemu Vira!" ucap Ibu lagi.
Weny sudah tidak tahu harus mengatakan apa. Dia tahu kalau saat ini dia sudah kalah dan tidak punya kesempatan lagi untuk membela diri. Tidak ada gunanya lagi untuk mengelak. Sebentar lagi dia harus angkat kaki dari rumah itu dan dia juga harus menerima kenyataannya.
"Aku minta maaf, Ibu. Aku akan bertanggung jawab atas kelakuanku sendiri. Aku sangat menyesal. Aku akan menuruti apa pun yang dikatakan oleh Yudha. Aku akan meninggalkan rumah ini jika memang ini yang terbaik."
"Pergilah! Cukup sudah kau bersandiwara. Ternyata Yuni benar. Aku aja yang bodoh dan dibutakan karena ingin memiliki cucu. Aku juga telah mengatakan Vira berbohong, padahal pembohong sesungguhnya adalah kau!"
Desy bahkan sudah tidak mampu menatap mata Weny. Dia terlalu syok, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bukan hanya harapan putranya, harapan besarnya sendiri juga sudah terlanjur luntur di sini.
Tidak ada lagi yang bisa mereka harapkan.
"Sekarang apa yang akan Ibu katakan kepada Vira? Seharusnya dialah wanita yang paling bisa Ibu percaya dalam hal ini. Namun kami menyia-nyiakan kebaikannya. Justru dialah yang akan melahirkan cucu untukku."
Yudha keluar dari kamar sambil membawa koper yang berisi baju Weny. Weny menghela napas panjang. Mendengar Desy menyebut nama wanita itu, dia merasa cemburu. Kini Weny terlanjur kalah dari Vira. Dia tidak bisa lagi menyaingi perempuan itu di saat seperti ini. Vira sudah menang telak di atas dirinya.
"Kurasa kau tidak punya urusan lagi di sini. Kau tidak punya sesuatu yang penting lagi di sini. Jadi silakan pergi."
Weny tertunduk ketika lelaki itu mengusirnya dengan tegas. Suaranya memang tidak tinggi namun sangat dalam, menyiratkan agar Weny segera pergi dari sana kalau tidak mau terjadi sesuatu yang buruk.
Weny akhirnya hanya bisa menurut dan mengambil kopernya lantas pergi dari rumah itu tanpa sepatah kata pun. Begitu Weny angkat kaki dari sana, Yudha kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Dia ingin sekali menangis tanpa harus dilihat oleh orang lain, terutama oleh ibunya. Dia ingin meluapkan semuanya entah dengan cara memukul atau merusak semua benda di kamar itu. Dia hanya ingin merasa lega saat ini. Kemarahan sudah menguasai dirinya.
Yudha memukul cermin rias dan tidak peduli kalaupun tangannya sekarang sudah berdarah. Rasa sakit di tangannya sama sekali tidak berarti apabila dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya. Setidaknya dengan cara semacam ini dia sudah merasa lebih lega.
Dia teringat kembali kepada Vira. Rasa bersalah sedang menyelimutinya saat ini. Untuk selamanya dan mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia telah membuat orang lain menderita padahal orang itu sudah berusaha melakukan sesuatu yang terbaik untuknya. Namun karena dia yang terlalu naif, dia malah curiga bahwa Vira berpura-pura hamil hanya untuk mendapatkan perhatian darinya.
Sekarang dia sungguh ingin bertemu dengan perempuan itu. Dia tidak peduli sama sekali kalaupun Vira mengatakan bahwa dia tidak tahu malu dengan kembali seperti ini. Dia hanya ingin menebus semua kesalahannya.
Dia tidak peduli lagi dengan harga diri apabila bisa dipertemukan kembali dengan Vira. Dia akan meminta maaf entah bagaimanapun caranya sampai perempuan itu memaafkan dirinya.
Yudha melirik ponsel genggamnya, mencari nama Vira di sana dan sudah tidak peduli dengan jemarinya yang sudah berdarah. Dia masih menyimpan nomor telepon perempuan itu, namun tidak menjadi jaminan bahwa Vira masih menggunakan nomor teleponnya yang lama.
Yudha berdecak kesal ketika nomor itu tidak bisa dihubungi sama sekali, entah karena kartunya yang mati atau karena memang Vira sudah mengganti kartu. Hal itu semakin membuat Yudha merasa sangat bersalah. Wajar apabila Vira ingin menjauh darinya dan benar-benar memutus komunikasi dengannya. Semua kesalahannya selama ini sudah tidak bisa dimaafkan.
"Tolong angkatlah, Vira." Yudha tetap tidak menyerah sama sekali. Dia masih berusaha untuk menghubungi nomor telepon itu.
Namun, semua usahanya itu sia-sia. Entah berapa kali pun dia menghabiskan waktu hanya untuk menelepon Vira, semuanya percuma. Perempuan itu sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Berdering pun tidak.
Jika memang sudah tidak ada pilihan lain, maka besok dia bertekad untuk menemui Vira langsung dan agar bisa berbicara padanya. Dia tidak peduli apa pun yang akan dikatakan oleh Vira atau bagaimanapun dunia mengejeknya, dia hanya ingin menebus semua kesalahannya selama ini entah dengan cara apa pun.
...****************...
__ADS_1