
Tidak terasa telah satu bulan usia bayi Vira dan Raka. Hari ini jadwal Anindya untuk imunisasi. Leon tampak telah rapi berpakaian. Putra Vira itu selalu bersikap manis. Tidak rewel.
Saat ini Vira sedang mandi. Anindya berada dalam gendongan Raka. Pria itu telah mahir menggendong bayi.
Raka mendekatkan wajah putrinya ke Leon. Karena putranya itu ingin mencium adiknya.
"Abang Leon sayang ya sama Anindya?" tanya Raka. Mengerti dengan ucapan Papinya, Leon menjawab dengan menganggukkan kepala sambil berkata, "Ya, Pi."
Leon memang telah dapat mengucapkan kata-kata pendek. Dia tampak sangat cerdas.
Setelah Vira selesai berdandan, mereka pergi ke rumah sakit. Dengan kecepatan sedang mobil Raka jalankan menuju rumah sakit.
Saat di rumah sakit, Raka dan Leon menunggu di luar ruang praktik dokter. Dia tidak sanggup melihat putrinya di suntik.
Setelah diimunisasi, Vira dan Raka menunggu vitamin yang diresepkan dokter buat putri mereka. Vira dikagetkan dengan seseorang yang juga tengah menunggu resep obat.
"Weny ...." ucap Vira keget saat menyadari siapa wanita yang duduk di sebelah dirinya.
"Apa kabarmu? Kamu terlihat sangat bahagia," ujar Weny.
"Sehat, dan emang saat ini aku sangat bahagia. Aku dikelilingi orang-orang yang menyayangi aku dan juga memiliki dua orang anak yang lucu.
__ADS_1
"Kenapa aku berpikir Tuhan itu tidak adil. Kenapa hidupku sangat menderita sementara kamu begitu bahagianya!" ucap Weny dengan sedikit penuh penekanan.
"Maksud kamu apa, Weny? Tuhan itu maha adil. Jangan pernah berkata begitu."
"Bagaimana aku tidak berkata begitu. Aku harus hidup berdua dengan anakku, mencari nafkah sambil menjaga dirinya yang sakit-sakitan. Aku harus banting tulang buat biaya pengobatan anakku. Kenapa cobaan tak berhenti menghampiri aku?"
Vira melihat air mata Weny mulai jatuh membasahi pipinya. Wanita itu saat ini memang tampak kurus dan kurang terawat. Ada rasa iba saat Vira melihat keadaannya.
"Anakmu sakit apa? Kemana bapaknya? Bukankah menurut Mas Yudha itu anak kekasihmu?" tanya Vira.
"Anakku menderita sakit cacat septum atrium. Harus kontrol kesehatan setiap minggunya untuk mengambil obatnya. Bapaknya tidak pernah mengakui anakku," ucap Weny pelan, tapi masih dapat di dengar oleh Vira. Wanita itu menarik napas mendengar pengakuan Weny.
"Apa itu cacat septum atrium?" tanya Vira.
"Merupakan salah satu jenis kelainan jantung bawaan yang sederhana. Kondisi ini kerap kali tidak membutuhkan operasi perbaikan karena lubang yang terbentuk di bilik atas akan menutup dengan sendirinya seiring waktu."
"Jadi tindakan apa yang harus dilakukan?" tanya Vira lagi.
"Pada kasus ini dan cacat jantung sederhana lainnya, dokter mungkin hanya akan merekomendasikan perawatan dengan minum obat-obatan," jawab Weny dengan terbata.
"Apakah bapaknya tidak memiliki perasaan atau ikatan batin? Sudah pernah ia melihat anaknya?" tanya Vira lagi.
__ADS_1
Raka yang menggendong Leon hanya mendengar percakapan mereka.
"Dia hanya memberikan uang sesukanya, karena masih meragukan anak itu."
"Kenapa dia meragukan jika itu anaknya. Apakah kamu pernah tidur dengan pria selain bapak anakmu?" Vira masih saja bertanya karena rasa penasarannya.
Weny hanya diam dan menundukkan kepalanya. Saat ini dia sangat menyesal atas apa yang pernah dia lakukan dulu. Memang wanita itu pernah tidur dengan rekan kerja bosnya hanya untuk dapat menangkan proyek dan ingin dapat bonus besar.
Weny menyesal karena pernah terjerumus, hanya karena ingin mendapatkan uang banyak. Untuk memenuhi gaya hidup.
Penyesalan, hanya itu yang Weny rasakan saat ini. Jika saja dulu dia tidak melakukan hubungan di luar nikah, mungkin dia akan bahagia dengan salah satu pria.
Vira menyelipkan uang ratusan beberapa puluh lembar ke tangan Weny. Uang itu pemberian Raka. Pria itu kasihan melihat anaknya Weny yang bertubuh kurus dan pucat.
...****************...
Selamat Pagi. Seperti janji, mama akan beri bonchap jika ada waktu. Semoga suka.
Jangan lupa mampir ke novel terbaru mama. GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
__ADS_1