SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 46. Menemui Yudha


__ADS_3

Matinya hati seorang istri tidak begitu saja terjadi. Karena proses pait yang membuat hatinya mati, bukan karena ada laki-laki lain dalam hidupnya. Semua itu karena istri yang tidak pernah didengarkan keluh kesahnya. Selalu dituntut sempurna, tidak pernah dihargai dan tidak dianggap ada. Dan hal yang lebih menyakitkan ketika suami lebih menghargai orang lain dari pada menghargainya sebagai istri.


Vira akhirnya memutuskan bertemu Yudha di tempat kerjanya. Namun sayang, saat dia sampai di kantor pria yang masih berstatus suaminya itu, seluruh karyawan telah pulang. Dia telat karena terhalang kemacetan.


Dari salah seorang teman dekat Yudha, Vira mengetahui alamat rumahnya. Sebenarnya dia ragu untuk datang ke rumah suaminya itu. Namun, harus Vira lakukan. Dia tidak ingin nanti di saat perutnya makin membuncit akan timbul fitnah.


Dengan kecepatan sedang, Vira menjalankan mobilnya menuju alamat yang dia dapat dari teman Yudha itu. Hingga mobilnya berhenti di salah satu rumah kontrakan sederhana. Vira berpikir, apa mungkin dia salah alamat? Bukankah Ibu mertuanya tidak suka dengan rumah yang kecil, seperti yang pernah dia katakan saat kakaknya Yudha, yang bernama Yunita mengajak tinggal di rumahnya.


Saat Vira akan melajukan mobilnya lagi, dia melihat ibu mertuanya keluar dari rumah dengan menenteng tong sampah.


"Jika di sini, ibu mau membuang sampah. Tinggal denganku, jangankan membuang sampah, membereskan bungkusan makannya saja ibu agak malas dan sering aku yang melakukan itu semua," gumam Vira dalam hatinya.


Vira mematikan mesin mobilnya, keluar dengan perlahan. Ibu melihat ke arah dirinya. Pasti mengenali mobil yang dia pakai.


"Selamat sore, Bu," sapa Vira.

__ADS_1


"Selamat sore. Buat apa kamu datang lagi? Ingin tahu di mana kami tinggal lalu menertawakan?" tanya Ibu Desy dengan ketus.


Vira tidak menanggapi, dia berjalan mendekat dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Namun, tangannya ditepis ibu mertuanya itu.


"Mau apa kau?!"


"Aku ingin bicara dengan Mas Yudha," ucap Vira.


"Buat apa lagi kau bicara dengannya. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika tidak ada lagi yang perlu kalian omongkan. Apa kamu lupa dengan ucapanmu itu?" tanya Ibu Desy.


Wanita itu menarik napas dalam. Kali ini Ibu mertuanya benar. Dia yang pernah mengatakan jika tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan. Namun, ini juga dia lakukan terpaksa. Untuk menghindari fitnah.


Mendengar suara ibu yang cukup besar, Yudha keluar dari rumah. Pria itu tanpak kaget saat melihat kedatangan Vira. Apakah istrinya akan meminta dia kembali? Itu yang ada dalam pikiran Yudha.


Pria itu berjalan mendekati Vira dan ibunya. Wanita yang masih berstatus istrinya itu tersenyum melihat kehadiran Yudha.

__ADS_1


"Selamat sore, Mas," ucap Vira. Sebenarnya wanita itu harus menahan rasa malu karena harus menemui suaminya lagi. Dia yang mengatakan tidak ingin bicara, tapi dia juga yang datang untuk meminta waktu suaminya itu untuk bicara.


"Selamat sore, Vira. Ada apa gerangan yang membawa kamu sampai ke sini?" tanya Yudha.


Yudha tentu saja heran dengan kehadiran istrinya itu. Bukankah terakhir bertemu, Vira keukeh tidak ingin bicara apapun padanya.


"Aku mau meminta waktu Mas. Ada yang ingin aku katakan dan sampaikan," ucap Vira.


"Apa masih ada yang ingin kamu katakan? Bukankah kamu bilang tidak ada lagi yang perlu dibicarakan?" tanya pria itu.


Ibu Desy, mertuanya tampak tersenyum mendengar ucapan Yudha. Mungkin merasa senang karena dapat menyudutkan Vira. Wanita itu hanya bisa tersenyum walau disudutkan oleh mertua dan suaminya. Padahal tujuan utamanya hanya ingin mengatakan kebenarannya bukan untuk kembali, karena bagi Vira sudah tidak ada tempat dihatinya buat Yudha.


...****************...


Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2