SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 88. Pasca Melahirkan


__ADS_3

Raka bersujud sebagai tanda rasa syukurnya. Setelah itu dia memeluk dan mencium dahi Vira. Pria itu lalu mendekati mama-nya. Menyadari begitulah perjuangan saat melahirkan dirinya.


Saat mendampingi Vira melahirkan Leon, Raka tidak menemani saat dia mengejan karena Raka sadar siapa dirinya. Belum ada ikatan dengan Leon. Namun, begitu tangis Leon terdengar, Raka langsung masuk.


"Mama, maafkan aku! Selama ini aku belum bisa membalas semua yang telah mama lakukan untukku."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Seorang ibu juga bisa melakukan kesalahan!"


"Mama tidak pernah salah. Sekarang aku baru tahu perjuangan seorang ibu buat melahirkan buah hatinya, aku minta maaf karena belum bisa membalas pengorbanan mama."


"Kamu anak yang baik, mama bangga punya anak seperti kamu. Semua pengorbanan mama sudah terbalas melihat kamu menjadi anak yang bertanggung jawab seperti saat ini!"


"Mama, terima kasih karena telah menjadi mama yang terbaik untukku!"


Mama mengelus punggung putranya itu,yang sekarang telah menjadi seorang ayah dari anak kandungnya. Raka kembali mendekati Vira dan mengecup seluruh bagian di wajah istrinya itu.


"Terima kasih sayang, karena kamu telah berjuang melahirkan putri cantik kita!"


"Mas, terima kasih juga karena selalu ada disampingku. Menerima aku apa adanya dan menyayangi Leon seperti putra kandungmu," ucap Vira.


Raka hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan kembali mengecup dahi istrinya itu. Vira membalas dengan tersenyum semringah.


Bidan membawa bayi mereka tadi kembali ke hadapan Raka. "Bapak Raka dan Ibu Vira ini putrinya," ucap Bidan itu dan meletakkannya di atas dada Vira.


Raka dan Vira memeluk putrinya yang sangat cantik dan menciuminya. Mama mendekat dan meminta Raka untuk mengadzani anaknya.

__ADS_1


Raka di bantu mama menggendong bayinya dan mengadzani. Setelah diadzani mama meletakkan bayi itu kembali di atas dada Vira.


"Coba kamu ajari bayi kamu menyusu, Vira!" ucap Mama.


"Iya, Ma."


Vira membuka bajunya dan mengarahkan mulut bayinya ke put*ing susunya. Pertama tampak bayi itu kesulitan, mama dan Vira terus mengarahkan mulutnya, dan akhirnya ia bisa menghisap put*ng susu ibunya.


Setelah puas menyusu, putri mereka tertidur kembali. Raka dan Vira tidak hentinya mengucapkan syukur. Tidak pernah wanita itu mengira, mendapatkan bayi lagi dalam waktu singkat seperti ini.


"Mirip dengan Mas Raka wajahnya," ujar Vira mengusap pipi putrinya yang tertidur setelah menyusu.


"Aku rasa mirip denganmu. Cantik banget," ujar Raka.


Dokter Zulaida masuk keruangan dan mendekati Vira. "Ibu, nanti ibu dibersihkan sama bidan sebelum pindah ke ruang inap. Sekarang saya pamit dulu, ada pasien yang akan di operasi."


"Terima kasih, Dok," ucap ketiganya.


Sementara Vira dibersihkan, mama mendorong bayi itu yang ada di bok menuju ruang inap. Setelah Vira dibersihkan dan berganti pakaian, perawat dibantu Raka mendorong tempat tidur wanita itu menuju ruang inap.


"Sayang, apa masih ada yang sakit "ucap Raka yang duduk di samping tempat tidur Vira sambil menggenggam tangan istrinya itu.


"Semua rasa sakit itu hilang begitu aku mendengar suara tangisan bayi kita, Mas."


"Sayang, terima kasih!"

__ADS_1


"Terima kasih buat apa, Mas? Tadi juga sudah ucapkan terima kasih!"


"Aku tak akan berhenti mengucapkan terima kasih. Karena memang banyak yang telah kamu lakukan buatku dan sebenarnya tak hanya cukup dengan ucapan terima kasih saja!"


"Mas, aku yang seharusnya banyak mengucapkan terima kasih, karena kamu telah memberikan semua yang diinginkan seorang wanita dan istri, kamu memberikan aku cinta, perhatian dan juga kamu seorang suami yang sangat bertanggung jawab."


"Itu memang kewajibanku sebagai suami, untuk membahagiakan istriku," ujar Raka mengecup tangan Vira.


"Mas mulai hari ini tanggung jawab kamu bertambah. Aku ingin kamu jaga kesehatan. Kita akan menjaga dan membesarkan bayi kita bersama!"


"Iya sayang, aku akan menjaga kesehatan. Karena aku ingin mendampingi kamu dan anak anak sampai kita menua bersama!"


Vira tersenyum menanggapi ucapan suaminya itu. Dia tidak hentinya mengucapkan rasa syukur karena bisa memiliki suami seperti Raka.


"Mama mana, Mas? Kok nggak kelihatan. Pulang ya?"


"Mama menyusul Papa keparkiran. Papa mau kesini. Mama keluar sekalian untuk mencari makanan buat kita nanti dengan Papa."


Vira kembali tersenyum saat menanggapi ucapan suaminya. Terkadang Vira merasa semua ini mimpi. Kehidupannya saat ini sangat bertolak belakang saat bersama Yudha dulu.


...****************...


Jangan lupa mampir juga ke novel anak mama. Terima kasih.


__ADS_1


__ADS_2