SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 50. Ibu Desy dan Weny


__ADS_3

Akhirnya Yudha minta izin untuk tidak masuk kerja. Pikirannya tidak bisa diajak untuk bekerja. Sepanjang perjalanan Yudha masih teringat Vira.


"Vira tampak bahagia saja dengan keputusan hakim ini. Apakah memang sudah tidak ada cinta dihatinya untukku? Apakah Vira telah dapat penggantiku?" gumam Yudha pada dirinya sendiri.


Sampai di rumah, Yudha melihat istrinya Weny yang sedang menonton sambil memakan camilan. Pria itu menghampirinya.


"Ibu mana? Kok tak kelihatan?" tanya Yudha. Duduk bersandar sambil melonggarkan dasinya.


"Lagi masak. Ibu lama banget masaknya. Aku dan anakmu bisa mati kalau begini terus. Untung tadi sempat beli makanan," ucap Weny.


Yudha menarik napas dalam. Mau memarahi Weny dia takut akan memengaruhi kehamilannya. Pria itu lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dapur.


Tampak ibu Desy yang bercucuran keringat sedang membersihkan dapur. Pikiran pria itu langsung tertuju ke Vira. Dulu mantan istrinya itu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah, ibunya hanya duduk santai. Berbanding terbalik keadaannya dengan saat ini.


Yudha kembali ke ruang keluarga, di mana Weny sedang asyik tertawa melihat adegan di televisi. Pria itu berdiri tepat dihadapkan istrinya itu.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa membantu Ibu sedikit saja?" tanya Yudha dengan berkacak pinggang.


Weny mengalihkan pandangannya dari televisi. Menatap Yudha dengan wajah keheranan. Kenapa suaminya tiba-tiba bertanya begitu.


"Membantu apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Yudha, Weny bahkan bertanya balik.


Yudha tersenyum miring mendengar pertanyaan Weny. Mana mungkin wanita itu tidak mengerti dengan pertanyaan yang dia ajukan.


"Apa kamu tidak kasihan melihat ibu sendirian memasak dan membersihkan rumah? Kamu bisa bantu semampumu saja'kan?" tanya Yudha


Weny yang awalnya berbaring di sofa, langsung bangun mendengar ucapan suaminya itu. Dia berdiri menatap wajah Yudha.


"Hanya sekadar membantu Ibu memasak aku rasa tidak akan membuat kamu keguguran. Tinggal duduk, potong sayur. Itu juga telah membantu," ucap Yudha.


"Aku bukan pembantu. Apa kamu pikir aku ini Vira? Yang mau saja ibumu jadikan pembantu. Lagi pula aku tidak bisa mengerjakannya. Tidak biasa," ucap Weny dengan suara keras.

__ADS_1


Ibu yang mendengar suara teriakan Weny, meninggalkan dapur menuju ke ruang keluarga, tempat asal suara. Ibu Desy melihat Yudha dan Weny yang sedang bertengkar.


"Ada apa ini? Kenapa ribut?" tanya Ibu Desy.


"Apa ibu yang meminta Yudha untuk bicara denganku agar aku membantu Ibu memasak?" tanya Weny.


Ibu Desy lalu menggelengkan kepala sebagai jawaban. Dia memang tidak pernah meminta itu pada Yudha. Karena memang dia telah terbiasa melakukan itu sendiri.


"Apa ibu keberatan melakukan semua itu? Aku bukannya tidak mau membantu ibu, tapi semua karena kehamilanku. Dokter mengatakan kehamilanku sedikit lemah. Ibu tidak mau kehilangan calon cucu ibu ini'kan?" tanya Weny dengan wajah memelas.


Ibu lalu mendekati Yudha. Dia lalu memukul lengan putranya pelan.


"Ibu tidak apa-apa. Masih sanggup melakukan semuanya. Itu demi kebahagiaan kamu. Jika Weny membantu Ibu dan akhirnya keguguran, ibu mungkin tidak akan bisa memaafkan diri sendiri jika itu terjadi," ucap Ibu.


"Iya, Bu. Jika capek ibu istirahat saja. Aku akan mencari uang tambahan agar bisa mempekerjakan seseorang untuk membersihkan rumah," ucap Yudha.

__ADS_1


Yudha lalu berjalan menuju kamarnya. Di dalam kamar kembali dia teringat Vira. Sifat dan sikap Weny sangat bertolak belakang dari mantan istrinya itu, tapi ibu masih saja terus membelanya. Berbeda dengan Vira, ibunya selalu saja menyalahkan wanita itu. Mungkin karena Vira yang tidak pernah marah, melawan ataupun berkata kasar sehingga ibu berani memarahinya.


...****************...


__ADS_2