
Yudha sampai rela tidak bekerja sama sekali hari ini karena dia ingin menemui Vira. Dia tidak peduli kalaupun nanti pekerjaannya terbengkalai dan harus begadang untuk menyelesaikannya. Baginya meminta maaf kepada Vira adalah suatu hal yang sangat penting dan tidak boleh ditunda sama sekali. Dia masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Kau mau ke mana? Tidak mau bekerja hari ini?" Ibunya bertanya ketika melihat Yudha yang hanya mengenakan kaos biasa dan hendak keluar dari rumah. Yudha tidak berkata apa pun, hanya tersenyum dan mengangguk ke arah ibunya. Dia keluar begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Yudha melajukan kendaraan menuju rumah yang pernah dia tempati bersama Vira dahulu. Sangat berharap begitu dia sampai di sana, dia langsung mendapati wajah Vira. Dia tidak sabar untuk menunggu hal tersebut.
Akan tetapi, hal itu ternyata tidaklah sesederhana yang dia bayangkan. Ternyata ketika dia sampai di rumah itu, rumah tersebut tertutup rapat seolah tidak ada yang menghuninya.
"Vira! Kau ada di dalam? Tolong buka pintunya! Aku ingin bicara sebentar saja denganmu." Yudha berteriak dan masih berharap bahwa ada orang dalam rumah itu.
Dia berpikir bahwa barangkali saat ini Vira masih sakit sehingga rumahnya ditutup rapat agar tidak ada yang mengganggu. Teriakannya itu bahkan terdengar oleh tetangga yang saat ini merasa terganggu.
Namun, Yudha tidak peduli sama sekali. Dia hanya ingin bertemu dengan Vira. Berbagai usaha dia lakukan. Dia mengintip lewat celah jendela yang sayangnya dia juga tidak mendapati apa pun di sana.
Dia bahkan sampai berjalan ke bagian belakang rumah, mengintip lewat celah mana pun yang bisa dia lihat. Bagian dalam rumah itu tampak sangat sepi, sungguh seperti tidak ada yang menghuninya.
"Vira, aku tahu kau ada di dalam. Tolong buka pintunya! Ini aku Yudha. Aku ingin berbicara padamu sebentar saja."
"Dia tidak ada di rumah itu. Rumah ini sudah tidak berpenghuni. Dia pindah beberapa hari yang lalu."
Yudha langsung menoleh ke sumber suara, salah tahu bahwa orang itu sedang berbicara padanya. Seorang wanita muda yang saat ini menenteng tas belanja, mungkin baru sampai di minimarket. Wanita itu juga sepertinya terganggu atas teriakan Yudha tadi.
__ADS_1
Yudha mengerutkan kening begitu memahami apa yang dikatakan oleh wanita itu tadi. Rumahnya tidak berpenghuni? Vira pindah dari rumah ini? Dia bahkan sudah tidak terpikirkan hal itu. Betapa dendamnya Vira terhadap dirinya sehingga memilih untuk menjauh dan meninggalkan rumah ini, rumah yang pernah mereka tempati berdua.
Vira memang memilih pindah karena sudah tidak ingin lagi tinggal di rumah yang penuh kenangan pahit. Dia ingin melupakan semuanya.
"Ke mana dia pergi? Apakah dia menjual rumah ini? Atau apakah dia meninggalkan pesan terakhir sebelum meninggalkan rumah ini?" tanya Yudha dengan berjalan mendekat ke arah wanita itu. Sejenak wanita itu menoleh ke arah rumah tersebut. Dia tampak berpikir sebelum kemudian menggeleng.
"Entahlah, aku tidak tahu apakah dia menjualnya. Dia hanya meninggalkan rumah ini beberapa hari yang lalu. Dan aku sama sekali tidak tahu di mana tempat tinggal barunya. Aku minta maaf karena hanya itu yang kutahu saat ini."
Yudha menghela napas kecewa, kalau sudah seperti ini dia harus ke mana lagi.
Sudah tidak ada harapan untuk menghubungi Vira saat ini, jelas tidak akan mengangkat lagi dan dia tidak tahu nomor baru dari perempuan itu.
Yudha berusaha tenang agar bisa berpikir. Dia duduk di beranda rumah itu, beberapa menit memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Vira hari ini juga.
Beberapa lama akhirnya dia sampai, meminta izin kepada salah satu orang di sana agar dia bisa bertemu dengan Vira. Awalnya wanita muda Itu tampak tidak mengizinkan Yudha sama sekali untuk bertemu dengan Vira, namun Yudha tetap mendesak.
"Saat ini Nona Vira sedang sangat sibuk. Mohon pengertiannya. Para pekerja di sini juga tidak bisa diganggu apabila mereka sedang bekerja. Kami hanya berusaha untuk membantu mereka agar bisa menyelesaikan pekerjaannya tanpa ada gangguan."
"Saya mohon, hanya sekitar sepuluh menit. Saya tidak akan mengambil banyak waktu darinya. Saya berjanji begitu selesai dia akan kembali bekerja."
Wanita itu tampak tidak nyaman karena Yudha yang terus mendesak. Dia berbicara sejenak kepada beberapa rekannya. Hingga kemudian wanita itu mengizinkan Yudha untuk bertemu dengan Vira.
__ADS_1
Yudha merasa sangat lega karena pada akhirnya dia bisa melihat wajah wanita itu lagi. Seolah dia sedang mendapati sesuatu yang baru yang tidak pernah dihadapi selama ini. Rasa bahagia yang dia rasakan saat ini bahkan melebihi rasa bahagia ketika Weny mengatakan bahwa dia sedang hamil. Bahkan rasanya di saat seperti ini dia sudah tidak peduli dengan kehadiran anak.
"Apa yang kau lakukan di sini, Mas? Kukira kau tidak akan mau menemuiku lagi."
Yudha cukup merasa sakit hati mendengar kalimat pertama dari wanita itu. Namun, dia juga berusaha mengerti mengapa Vira mengatakan hal demikian dan dia memang pantas mendengarkannya.
"Maaf kalau aku mengganggumu hari ini."
Vira melipat tangan dan menatap tajam ke arah Yudha. Yudha sudah menatap sendu ke arah perempuan itu, berharap Vira bisa merasakan apa yang dirasakan saat ini. Yudha sangat berharap agar Vira mengetahui bahwa saat ini dia merasa sangat menyesal.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk meneladanimu. Katakan saja apa yang kau inginkan. Kalau kamu butuhkan sesuatu, aku mungkin bisa mengabulkannya sekarang."
Yudha menggeleng dan menunduk sejenak. Dia menarik napas panjang dan berusaha untuk tenang. Jantungnya berdebar keras saat ini.
"Aku datang ke sini hanya ingin minta maaf padamu. Aku sangat menyesal dengan apa yang kulakukan selama ini padamu. Aku menyesal karena tidak percaya bahwa kau mengandung anakku. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku berharap kau memberiku kesempatan."
Vira merasa sangat terkejut mendengar semua itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada pria itu sehingga bisa mengatakan hal demikian. Dia sangat ingin tahu apa yang sudah dia lewatkan selama ini. Namun yang pasti Vira sangat yakin bahwa Yudha sudah menyadari semuanya.
"Kau mengemis maaf padaku? Sesuatu yang sangat tidak bisa aku percaya. Jadi apa yang sudah terjadi? Apa yang sudah kulewatkan selama ini? Adakah sesuatu yang kau sadari, Mas?"
Yudha menahan air matanya, tidak mau terlihat lemah apa lagi ini adalah tempat umum.
__ADS_1
"Aku hanya ingin jawaban darimu. Aku akan menceritakan semuanya nanti. Aku hanya ingin kau memberiku kesempatan untuk bisa memperbaiki semua ini seperti sedia kala. Aku sangat menyesali semua perbuatanku. Bahkan ibuku juga sangat menyesali perbuatannya."
...****************...