
Yudha masuk ke rumah dan duduk di sofa ruang keluarga sambil termenung. Memikirkan apa yang kakaknya ucapkan. Terkadang Yudha juga merasa ada keanehan melihat perut Weny yang membesar dengan cepatnya.
Weny juga tidak pernah meminta Yudha menemani dirinya periksa kandungan. Namun, saat dia curiga, istrinya itu selalu bisa menepisnya dengan berbagai argumen.
Weny yang telah melihat kepergian Yuni dari jendela kamar, keluar menghampiri pria itu. Dia memilih duduk di seberang suaminya.
"Mas, aku tahu saat ini pasti kamu sedang memikirkan ucapan dari kak Yuni. Aku tidak menyalahkan siapapun atas kecurigaannya pada kehamilanku ini. Aku juga tidak menyalahkan kamu jika memang tidak bisa menerimanya. Tapi aku minta kamu berterus terang. Jika kamu memang ragu, aku akan menerima dengan ikhlas. Aku akan pergi dari kehidupan kami, Mas. Akan aku bawa anak ini, semoga aku bisa membesarkannya dengan baik dan sehat," ucap Weny dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.
Yudha menarik napas dalam. Selalu saja begini. Jika dia mulai mencurigai Weny, wanita itu akan mencoba meyakinkan dengan air matanya.
Yudha tidak ingin pernikahannya kali ini juga gagal. Dia telah merasakan penyesalan yang mendalam. Hingga detik ini rasa itu selalu menghantuinya. Apa lagi setelah kakaknya Yuni mengatakan jika dia pria yang bodoh karena lebih memilih Weny dari Vira.
__ADS_1
Weny berdiri dari duduknya. Berlutut dihadapan pria itu. Ibu yang baru dari dapur memperhatikan keduanya.
"Maafkan aku, Mas. Aku memang bukan wanita yang pantas dan baik jadi pendamping kamu. Seperti kata kak Yuni, aku tidak ada apa-apanya dari Vira, mantan istrimu itu. Aku ikhlas dan ridho jika kamu memang sudah tidak menginginkan kehadiranku dan buah hati kita. Aku akan segera pergi membawa calon putra kita. Sekali lagi maafkan aku yang belum bisa jadi istri yang baik," ucap Weny berlutut dan menangis.
Ibu yang melihat, langsung berjalan menghampiri keduanya. Ibu lalu membantu Weny untuk berdiri.
"Weny, bangunlah. Ibu percaya denganmu. Jangan merendahkan dirimu begitu. Ibu yakin jika Yudha juga percaya jika bayi dalam kandunganmu itu anaknya," ujar Ibu.
"Yudha, kamu percaya dengan Weny'kan?" tanya Ibu Desy.
Dengan menganggukkan kepala, Yudha menjawab pertanyaan ibunya. Dia masih tidak tahu dengan perasaannya saat ini. Diakui Yudha, antara dia dan Weny seperti tidak ada ikatan. Awalnya dia sangat bahagia ketika mendengar kehamilan istrinya itu, tapi makin kesini rasa itu perlahan menghilang.
__ADS_1
"Sudahlah, Bu. Jika Mas Yudha memang tidak yakin dengan anak ini, aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin katakan jika selama aku menjadi istri kamu, walaupun itu hanya sebentar, aku merasa sangat bahagia. Aku bisa merasakan kasih sayang dari suami dan ibu mertua yang baik. Aku pamit, Bu. Aku harus menyusun pakaianku," ucap Weny.
"Kamu mau kemana? Tidak ada yang pergi. Kamu tetap di sini."
"Aku tidak mungkin bertahan di sini, sedangkan pimpinan dalam rumah tangga ini tidak menginginkan lagi kehadiranku," ucap Weny.
Weny melepasnya pelukan ibu dan masuk ke kamar. Di kamar Weny tampak mengeram, tidak terima atas ucapan Yuni. Jika dia harus berpisah, Weny tidak akan bisa menerimanya.
Dengan terpaksa dia mengambil tas. Mulai memasukan satu persatu bajunya secara perlahan. Masih berharap Yudha percaya akan ucapannya seperti biasa dan membujuknya lagi.
...****************...
__ADS_1