
"Aku datang ke sini mewakili ibu dan Yudha, meminta kamu rujuk kembali dengan adikku Yudha," ucap Yuni dengan tegas.
Vira hanya tersenyum mendengar ucapan kakaknya Yudha itu. Dia telah menebak saat melihat kedatangan Yuni dan Yudha. Ternyata mantan suaminya itu tidak juga menyerah dengan apa yang telah dia katakan. Mungkin pria itu berpikir jika Yuni yang bicara, dia akan menerimanya.
Melihat Vira hanya diam, Yuni mendekati mantan adik iparnya. Dia ingin membujuk wanita itu agar mau memaafkan dan menerima Yudha lagi.
"Aku tahu sakit hatimu begitu besarnya dengan adik dan ibuku. Tapi aku mohon kamu pikirkan bagaimana saat pertama kalian jatuh cinta. Hubungan kalian yang begitu baik sebelum kehadiran Weny. Semua dapat diulangi lagi'kan? Lupakan hal buruk yang terjadi dan ingat saja hal baiknya."
"Kak, aku bukannya tidak mengingat semua hal baik yang pernah Yudha lakukan. Ibarat kaca, kalau sudah pecah, tidak akan bisa utuh kembali walau bagaimanapun cara kita merekatkannya."
"Aku mengerti, Vira. Tapi aku mohon jangan egois. Anak dalam kandunganmu ini akan butuh sosok ayah. Kasihan jika lahir tanpa kasih sayang orang tua yang utuh."
Vira bukannya egois. Namun, dia takut setelah anaknya lahir, perlakuan mertuanya akan sama. Mungkin saja nanti dia yang akan menguasai pengasuhan anaknya.
Semenjak berpisah dari Yudha, wanita itu merasa hidupnya lebih bahagia. Tidak ada lagi tekanan dari mertua. Dia yakin akan bisa membahagiakan anaknya walau hanya sebagai orang tua tunggal.
__ADS_1
"Kak, tiga bulan hidup sendiri, aku yakin bisa memberikan kasih sayang pada anakku kelak. Aku takut, jika aku kembali membina rumah tangga dengan Mas Yudha, dia dan ibu tiba-tiba meragukan anak yang aku kandung ini," ucap Vira.
Yudha menarik napas dalam. Tampaknya pria itu juga ingin angkat suara. Dia merubah duduknya.
"Vira, aku tahu, luka yang aku berikan begitu besarnya sehingga sulit untuk disembuhkan. Namun, percayalah aku akan berusaha semampuku untuk mengubah semua sikapku padamu. Aku akan selalu belajar menjadi ayah dan suami seperti yang kamu inginkan."
"Maaf, Mas. Aku tidak butuh janji. Apa Mas sudah lupa, jika sebelum menikahi Weny, banyak janji yang kamu ucapkan, tapi semua bohong."
Yudha terdiam mendengar ucapan mantan istrinya itu. Ternyata Vira begitu sakit hati dengannya. Sehingga semuanya selalu diingat.
Baru saja Vira akan menjawab, dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang mencuri perhatian Kak Yuni. Wanita itu memandangi Raka tanpa kedip. Ketampanan pria itu cukup memukau dirinya.
"Selamat Pagi, semuanya. Maaf, aku tak tahu ada tamu. Jadi masuk saja setelah bibi persilakan," ucap Raka.
Jika saja dia tahu ada tamu mungkin Raka tidak akan masuk. Takut kehadirannya akan mengganggu.
__ADS_1
"Nggak apa, Pak. Tidak ada hal penting yang kami bicarakan," ucap Vira.
Hati Yudha terasa nyeri saat Vira mengatakan jika apa yang mereka bicarakan dari tadi adalah hal yang tidak penting.
Raka memilih duduk di dekat Vira. Kembali mata Yuni memandang lekat ke pria itu. Apakah ini calon suami Vira, pantas dia tidak ingin kembali pada Yudha, pikir Yuni dalam hati.
"Kak, Mas, aku rasa semua sudah mengerti akan keputusan yang aku ambil ini. Aku tidak akan bisa mengulang semuanya. Biarlah begini saja. Tidak akan ada lagi yang tersakiti."
"Vira, mungkin saat ini lukamu masih berdarah, aku harap dengan seiring waktu pikiranmu akan berubah. Masih ada beberapa bulan hingga bayi kamu dan Yudha lahir. Berharap pikiranmu akan berubah," ucap Yuni.
Vira hanya bisa memberikan senyuman. Dia tidak yakin mantan suaminya itu akan berubah. Apa lagi sedikit demi sedikit perhatian yang diberikan Raka mampu menutup sakit hatinya.
...****************...
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI BAGI YANG MERAYAKAN. SEMOGA KITA KEMBALI FITRAH. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. 🙏🙏🙏
__ADS_1