SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 38. Lelah Dengan Semua Ini


__ADS_3

...Maaf, biar aku mundur saja. Sudah terlalu banyak sabar yang sia-sia. Aku keliru berpikir kau akan berubah seiring aku bertahan. TERNYATA KAU TAK BUTUH SABAR. Melainkan aku yang kurang sadar. Seharusnya ku lepaskan kau lebih awal agar tidak ada lagi manusia yang rela menyakiti dirinya sendiri, demi seseorang yang perasaannya entah tumbuh untuk siapa....


Vira keluar dari rumah tanpa pamit dengan siapapun. Hatinya sangat terluka. Ini memang salahnya, yang mengizinkan Yudha untuk menikah lagi.


Vira mengendarai mobil menuju keluar kota. Dia ingin menenangkan pikirannya. Apa salah jika Vira iri melihat Weny yang hamil, padahal pernikahannya dengan Yudha baru memasuki bulan pertama.


Wanita itu mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Tujuannya ke salah satu hotel yang berada dekat pantai.


Sampai di hotel, setelah meletakkan tasnya ke kamar, Vira berjalan keluar dari kamar menuju pantai yang berada di belakang hotel.


Menikmati angin sepoi di tepi pantai, pikiran Vira kembali ke Weny. Vira merasa jika dia wanita yang sangat beruntung, baru satu bulan menikah dengan suaminya, Weny sudah positif hamil.

__ADS_1


Vira berjalan ditepi pantai tanpa alas kaki. Menikmati pasir pantai. Wanita itu teringat saat berdua dengan Yudha suaminya.


"Ya Tuhan, aku tahu ini semua takdir darimu. Tapi apa aku salah jika menginginkan hal yang sama dengan Weny. Aku juga ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu. Aku tahu semua yang terjadi dalam hidup ini adalah yang terbaik bagiku. Ajarkan aku lebih ikhlas dalam menerima takdirmu," gumam Vira pada dirinya sendiri.


Vira berhenti di sebuah pohon yang rindang. Duduk dibawah pohon tanpa alas apapun. Pandangannya tampak kosong. Air mata jatuh membasahi pipi mulusnya tanpa bisa wanita itu cegah saat teringat perlakuan Yudha padanya.


Buktinya saat ini, pria itu tiada menghubunginya, walaupun tahu dia tidak berada di rumah. Atau bahkan suaminya itu tidak tahu jika dia pergi pikir . Vira menarik napas dalam mengingat betapa menyedihkan nasib dirinya.


"Sebenarnya apa rencana-Mu Tuhan. Aku hampir saja menyerah dengan ujianmu ini. Mentalku benar-benar terkuras. Jiwaku tidak sedang baik-baik saja. Aku mememdam semuanya tanpa seorangpun yang mengetahui keadaanku. Mereka tertipu dengan senyum manisku, wajah ceriaku, dan dengan tawaku. Kepalaku hampir pecah dan aku benar-benar lelah. Rasanya ingin berhenti sejenak untuk bernapas dengan lega," gumam Vira pada dirinya sendiri. Air matanya turun dengan deras membasahi pipinya.


"Hapus air matamu. Jangan menangis untuk seseorang yang tidak pantas kamu tangisi. Hidup cuma sekali, jangan buang waktu untuk orang yang tidak menganggap hadirmu berharga. Ingat, kita hidup untuk mencari kebahagiaan bukan penderitaan."

__ADS_1


"Bapak! Kenapa ada di sini? Bapak mengikuti saya?" tanya Vira.


Pertanyaan Vira mampu membuat seorang Raka jadi salah tingkah. Pria itu tersenyum menanggapinya.


"Ternyata tingkat percaya dirimu sangat tinggi? Apa alasan saya mengikuti kamu? Saya ke sini untuk melihat perkembangan hotel saya," ucap Raka.


Pria itu juga memilih duduk beralaskan pasir. Vira menghapus air matanya dengan sapu tangan yang Raka berikan.


"Aku nggak tahu apa yang kamu tangisi, jika itu untuk seseorang, aku rasa percuma kamu buang air matamu. Dia tidak akan tahu juga."


"Jangan menangis walau masalahmu berat. Anggap saja itu pelajaran yang membuat dirimu semakin kuat. Ingatlah, akan ada senyuman setelah air mata. Karena tidak akan ada perjuangan yang sia-sia. Tetaplah jaga hatimu agar tidak lagi disakiti," ucap Raka lagi.

__ADS_1


Bukannya berhenti menangis, tapi suara isak tangisnya Vira makin terdengar. Takut orang yang melihat berpikiran macam-macam, Raka membawa kepala Vira ke dalam pelukan dadanya. Air mata Vira jatuh membasahi bajunya.


...****************...


__ADS_2