SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 55. Pertengkaran Yuni dan Weny


__ADS_3

Weny tampak cemberut dan wajahnya memerah mendengar ucapan Yuni. Tidak terima dengan perkataan kakak iparnya itu.


"Jaga ucapanmu. Apa tuduhanmu itu ada buktinya? Jika kamu tidak memiliki bukti, aku bisa memperkarakan dengan tuduhan pencemaran nama baik," ucap Weny dengan suara yang lebih tinggi.


"Siapapun yang melihat kamu, pasti akan bisa menebak jika kehamilan kamu itu sudah mencapai lima bulan ke atas. Mana ada hamil tiga bulan perutnya sudah sebesar saat ini," ucap Yuni.


Dia memandangi Yudha yang berdiri di samping ibunya. Menarik napas dalam dan kembali berkata dengan nada cukup tinggi.


"Kau juga, Yudha. Dasar bodoh! Mau saja percaya dengan istrimu ini. Sudah dapat istri sebaik dan secantik Vira disia-siakan, akhirnya dapat wanita licik seperti ini," ucap Yuni dengan ketus.


Ucapan Yuni kali ini membuat Weny makin marah. Dia mendekati kakak iparnya itu. Mendorong keluar kamar.


"Keluar ..! Aku nggak mau melihat wajahmu lagi. Dan jangan pernah berharap Yudha akan mengirimkan uang. Apa kamu pikir gaji adikmu itu besar. Buat makan kami saja sudah sangat sulit mengaturnya."


Weny mendorong hingga keluar dari ruangan. Setelah itu menutup pintu kamarnya. Ibu yang masih berada di dalam kamar Weny, mendekati wanita itu.


"Weny, kamu tidak berbohongkan dengan kehamilan ini?" tanya Ibu Desy.

__ADS_1


Yudha juga terdiam, tampaknya berpikir dengan ucapan kakaknya. Dia mencoba mendengar apa yang ibu pertanyakan pada Weny.


"Jika ibu tidak percaya dengan kehamilanku ini, sudahlah! Lebih baik aku pergi. Jangan pernah mencariku lagi. Biar aku saja yang menjaganya. Setiap wanita hamil itu tentu aja kondisinya berbeda. Perutku memang tebal. Tentu saja dengan kehamilan baru menginjak tiga bulan, perutku sudah membesar. Jangan samakan dengan wanita kurus," ucap Weny dengan wajah memelas.


Melihat Weny yang hampir menangis ibu jadi percaya. Dia menepuk lengan Yudha pelan.


"Sudahlah, Yudha. Kamu tahu sendiri bagaimana Yuni. Dia kalau sedang marah, omongannya memang tidak bisa terkontrol."


Ibu lalu pamit keluar kamar. Dilihatnya Yuni yang duduk di ruang keluarga. Ibu menghampiri putrinya itu.


"Yuni, apa kamu datang hanya untuk membuat keonaran. Apa kamu ingin membuat adikmu menjadi duda jika Weny mengajukan perceraian?"


"Setiap wanita itu pasti berbeda. Ada yang perutnya hanya tipis sehingga kehamilannya tidak terlihat. Ada juga yang menang perutnya tebal sehingga hamil tiga bulan sudah terlihat."


"Bu ... ibu sudah pernah mengalami kehamilan hingga dua kali, apa ibu tidak curiga melihat keadaan wanita itu? Walaupun perutnya tebal, tidak mungkin juga itu kehamilan baru 3 bulan. Aku yakin itu telah 5 bulan. Atau memang Yudha telah berselingkuh dengan Weny sejak lama dan telah melakukan hubungan? Jika itu benar, mungkin itu anaknya Yudha."


"Jangan sembarangan bicara, Yuni. Nanti orang pikir memang Yudha itu telah berselingkuh dari dulu."

__ADS_1


"Aku tidak tahu, apa yang membuat ibu dan Yudha begitu yakin dengan wanita itu. Aku tidak ada sedikitpun percaya pada wanita ular itu. Lihat saja nanti, ibu dan Yudha akan menyesal karena telah begitu percaya pada Weny," ucap Yuni.


Kakak kandung Yudha itu pergi dari hadapan ibunya. Berjalan menuju pintu utama rumah itu. Yudha yang baru keluar dari kamar, berlari mengejar kakaknya itu.


"Kak Yuni mau kemana?" tanya Yudha, menahan tangannya agar tidak pergi.


"Untuk apa aku di sini. Buat aku makin terbawa emosi."


Yudha merogoh koceknya dan mengambil dompet. Mengeluarkan uang ratusan sebanyak sepuluh lembar dan menyerahkan pada kakaknya itu.


"Maafkan aku, karena hanya dapat memberi segini. Jika aku dapat uang lebih, akan aku tambah. Gajiku mulai bulan ini separuhnya dipotong untuk membayar pinjaman. Jadi bukan salah Weny, memang gajiku yang banyak berkurang."


Yuni mengembalikan lagi ke tangan Yudha uangnya itu. Dia tidak tega mengambilnya. Yuni yakin itu uang pegangan buat adiknya. Buat beli bahan bakar mobil dan buat kebutuhan lainnya.


"Kamu juga butuh ini. Aku bisa meminjam dengan seseorang nantinya. Lagi pula Weny benar. Aku tidak boleh meminta padamu lagi. Bukanlah kewajibanmu menafkahi aku. Nanti aku akan mencari pekerjaan saja. Cuma aku ingatkan kamu, jangan terlalu percaya dengan Weny. Dia itu licik. Tidak seperti Vira yang baik dan tulus orangnya. Aku pamit!" ucap Yuni.


Yudha kembali mengejar kakaknya dan merayu wanita itu untuk mau menerima uang pemberiannya. Cukup lama dia akhirnya bisa mayakinkan Yuni dan menerima pemberian darinya.

__ADS_1


...****************...


.


__ADS_2