
...Tuhan terima kasih karena pernah menitipkan rasa yang luar biasa pada hati saya untuk seseorang. Setidaknya saya pernah menemukan sosok yang membuat saya mencintainya dengan rasa sabar dan maaf yang tiada habisnya....
...Dia yang mengajarkan titik tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan. Dia membuat saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Dia laki-laki yang saya cintai dengan tiba-tiba dan mengikhlaskan dengan terpaksa....
...Ketika saya harus terbiasa tanpa dia, rasanya saya hampir gila karena melawan rindu, rindu yang tiada akhir....
Cukup lama Vira menangis di dada Raka. Wanita itu mungkin lupa jika pria yang memeluknya adalah atasannya.
Setelah kesadarannya pulih, Vira kembali duduk seperti awal. Memandangi baju di bagian dada Raka yang basah karena tangisnya.
"Maaf, Pak. Bajunya jadi basah," ujar Vira dengan senyum malu.
"Nggak apa. Asal setelah ini kamu tidak akan pernah menangis lagi."
Vira hanya menganggukan kepalanya. Tampaknya dia masih malu dan juga merasa bersalah karena menangis dalam pelukan pria lain.
"Sekali lagi maaf, Pak." Vira berdiri dari duduknya. "Saya pamit, Pak. Terima kasih," ucap Vira dan berjalan menuju hotel.
__ADS_1
"Terbuat dari apa hati kamu, Vir. Dari cerita yang aku dengar saja, begitu menyakitkan menjadi kamu. Serumah dengan madumu. Memiliki mertua yang tidak suka kehadiran kamu, padahal aku tahu itu rumahmu," gumam Raka pada diri sendiri.
Tentu saja Raka tahu jika rumah itu milik Vira, karena wanita itu membeli dari hasil bonus-bonus yang dia dapat dari perusahaan. Tanpa Vira tahu, sebenarnya Raka yang menambah uang untuk pembelian rumah itu. Vira berpikir membeli rumah dengan harga murah tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.
****
Setelah menginap sehari di hotel untuk menenangkan pikirannya, Vira kembali ke rumah lagi. Saat akan masuk ke rumah, dia melihat ibu dan Weny sedang menonton televisi.
Vira melihat rumahnya berantakan. Mungkin ibu Desy tidak sempat membersihkan. Dan bisa dipastikan Weny tidak akan sudi mau melakukan itu.
"Tuan putri, baru pulang. Enak banget ya, liburan tanpa pamit sama suami dan mertua. Sudah tidak ingat sopan santun lagi," ucap Weny.
"Maaf, aku tidak mendengar ucapan kamu. Bisa ulangi lagi," ucap Vira dengan suara yang tinggi.
Weny yang merasa tertentang melihat Vira melototkan matanya, berdiri dari duduknya. Dengan berkacak pinggang menatap Vira.
"Apa perlu aku tegaskan dan ulangi? Disebut apa seorang istri yang pergi dari rumah tanpa pamit dengan suami dan mertuanya, jika bukan wanita yang tidak memiliki sopan santun! Atau kamu pergi kemarin itu untuk menemui selingkuhan kamu sehingga sengaja pergi tanpa pamit?" tanya Weny dengan mimik wajah mengejek.
__ADS_1
Tentu saja Vira tidak bisa menerima semua itu. Dituduh yang bukan-bukan dengan madunya.
"Jaga mulutmu! Kamu pikir aku sama sepertimu, yang mau dengan pria beristri! Aku masih memiliki harga diri. Tidak akan berhubungan dengan siapapun jika masih terikat pernikahan," ucap Vira dengan nada tinggi.
"Cukup Vira! Siapa yang murahan kamu apa Weny. Dia menikah dengan Yudha karena atas permintaan ibu dan kamu. Apa kamu lupa itu. Ibu tahu, kamu iri dengan Weny karena dia sedang hamil. Apa yang Weny katakan itu benar. Istri macam apa yang pergi dari rumah tanpa pamit?" Ibu berkata dengan suara yang lebih tinggi. Tidak terima Weny dikatakan Vira.
"Ibu benar, pasti kamu cemburu melihat aku yang sedang hamil sehingga kamu mencoba mencari pria di luar sana, untuk membuktikan jika kamu tidak mandul," ucap Weny.
Vira merasa ucapan Weny sudah keterlaluan. Menuduhnya berhubungan dengan pria lain hanya untuk membuktikan dirinya tidak hamil, itu sama saja wanita itu menuduh dirinya tidur dengan pria lain. Vira mengangkat tangannya dan menampar pipi Weny dengan cukup keras.
Bertepatan saat itu Yudha masuk dan melihatnya. Dia langsung menghampiri Weny dan memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan, Vira?" tanya Yudha dengan nada cukup tinggi.
"Wanita itu sudah gila. Dia menampar istrimu karena cemburu melihatnya hamil. Padahal Weny hanya bertanya kenapa dia pergi tanpa pamit kemarin," ucap Ibu Desy.
Yudha yang memang dari kemarin mencoba menghubungi Vira, tapi tidak bisa karena ponselnya mati, menjadi terbawa emosi. Dia mengangkat tangannya dan menampar pipi Vira dengan sangat keras.
__ADS_1
Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Vira mencoba menahan air matanya, menghapus darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Memandangi Yudha dengan tatapan tajam. Wajahnya memerah karena menahan marah.
...****************...