SENANDUNG KEIKHLASAN

SENANDUNG KEIKHLASAN
Bab 64. Makan Siang Bareng Raka


__ADS_3

Raka mengendarai mobilnya menuju restoran terdekat. Tanpa Vira duga, pria itu masuk ke tempat di mana dia dan Yudha bertemu tadi. Wanita itu diam saja tanpa protes karena berpikir jika mantan suaminya itu pasti telah pulang.


Dengan langkah pasti Vira mengikuti langkah atasannya memasuki ruangan VIP. Saat baru beberapa langkah masuk, Vira melihat suaminya masih duduk di tempat yang sama. Tangan wanita itu tanpa sadar menggenggam tangan Raka.


Raka juga melihat kehadiran Yudha, sehingga saat Vira menggenggam tangannya, pria itu membalasnya. Pandangan Raka lekat ke arah tangan kedua orang itu yang saling menggenggam.


Raka menarik kursi untuk Vira duduk. Mengacuhkan kehadiran Yudha, dia memesan makanan.


"Apa kita pindah restoran saja?" tanya Raka.


"Nggak perlu, Pak. Kenapa aku harus menghindar. Bukankah antara kami sudah tidak ada hubungan apapun."


Raka menganggukkan kepalanya tanda setuju. Saat makanan tiba, Vira menyantap makanan dengan lahap, mungkin wanita itu sudah sangat lapar. Raka senang melihatnya. Pria itu hanya makan sedikit karena sebenarnya dia telah makan.


"Mau aku pesankan puding lagi buat di kantor?" tanya Raka. Dia tahu Vira sangat menyukai puding itu.


Vira hanya tersenyum tanpa menjawab. Namun, pria itu tetap memesannya. Dia tahu sekretarisnya itu pasti malu.


Di tempat duduknya, Yudha memandang tanpa kedip setiap interaksi keduanya. Karena tidak tahan melihat kedekatan keduanya, akhirnya pria itu mendekatinya.


"Vira, aku mohon padamu. Pikirkan apa yang aku katakan tadi. Anak kita itu butuh keluarga yang utuh nantinya. Aku mau kita memulai lagi semuanya dari awal. Lebih baik dia dibesarkan orang tua kandungnya dari pada orang tua sambung," ujar Yudha langsung tanpa permisi.


"Maaf Pak Yudha. Apakah Anda tidak melihat jika kami sedang makan dan Anda tidak diundang. Tidak sopan menghampiri orang yang sedang makan. Jika Anda ingin bicara, bisa nanti setelah aku dan Vira selesai makan!" ucap Raka tegas.

__ADS_1


Vira lalu berdiri dari duduknya dan berdiri menghadap pria itu. Lalu mendekatinya.


"Mas, aku rasa kamu sudah mengerti dengan apa yang aku katakan tadi. Aku sudah tidak ingin mengulang semuanya. Bagiku sesuatu yang telah berlalu, biarlah berlalu. Aku tidak akan melangkah mundur. Hidup ini hanya sekali, kita melangkah maju."


Hidup terus berjalan, dan kita harus melihat ke depan dan bukan ke belakang. Hidup terus berlalu. Mungkin bukan seperti yang kamu inginkan, tetapi selalu seperti yang seharusnya. Lebih baik melangkah, meski salah, daripada tidak melangkah sama sekali karena dari kesalahan itulah kita bisa belajar sesuatu yang berharga.


Yudha hanya terdiam. Tidak bisa berkata lagi. Akhirnya tanpa kata dia pergi meninggalkan Vira dan Raka.


***


Dua hari telah berlalu. Di hari libur ini, Vira sengaja membersihkan taman di depan rumahnya untuk menghabiskan waktu. Saat sedang menyiram bunga, wanita itu dikagetkan dengan kedatangan Yudha dan Yuni.


"Selamat Pagi, Vira," ucap Yuni.


"Kak Yuni ..." ucap Vira memeluknya.


"Apa kabarnya kamu? Kehamilan kamu bagaimana, Dek?" tanya Yuni.


"Baik, Kak. Masuk dulu. Nanti kita ngobrol di dalam saja. Aku mau cuci tangan dulu," ujar Vira.


Vira mencuci tangannya dan mengajak Yuni dan Yudha masuk. Vira meminta bibi membuatkan minuman untuk mereka.


"Kak Yuni sendiri aja. Nazwa mana?" tanya Vira. Nazwa adalah anak Yuni dari mantan suaminya.

__ADS_1


"Nazwa sekarang tinggal dengan bapaknya. Kakak hanya ngekos dekat tempat kerja. Semenjak kalian berpisah, Yudha sudah menghentikan bantuannya. Jadi Kakak harus bekerja keras untuk biaya hidup."


Vira hanya diam. Dia tidak menyangka jika Yudha menghentikan bantuannya. Apa keuangannya begitu sulit? tanya Vira dalam hatinya.


"Vira, maaf jika kak Yuni baru datang saat ini. Kakak baru kemarin tahu tentang kehamilanmu dari Yudha dan Ibu. Kakak tidak dapat percaya jika ibu dan Yudha bisa meragukan kehamilanmu. Apa mereka tidak juga mengenal siapa kamu?"


Yuni memandangi Yudha tanpa kedip. Kemarin adiknya itu datang bersama ibu Desy mengatakan tentang kebohongan Weny. Yuni hanya tersenyum saat pria itu mengatakannya. Dia telah mengingatkan mereka, jika kehamilan Weny itu sangat diragukan.


Vira tersenyum getir, mengingat saat ibu mertuanya menuduh dirinya selingkuh hanya agar membuktikan dia bisa hamil. Sakitnya masih terasa hingga saat ini.


"Nggak apa, Kak. Ini anakku. Aku tidak butuh pengakuan siapapun. Dia bisa bahagia tanpa ayah dan neneknya. Apapun akan aku lakukan untuk anakku ini," ucap Vira sambil mengusap perutnya.


"Kakak sudah memarahi Yudha dan Ibu. Mewakili Ibu, kakak minta maaf. Mungkin kamu sulit memaafkan kesalahan ibu, tapi dengan mengangkat sepuluh jari ini, aku memohon maaf dan ampunan," ucap Yuni.


"Aku sudah memaafkan dan mengikhlaskan semua, Kak."


"Alhamdulillah jika kamu telah memaafkan kami. Kakak datang ke sini juga ada maksud tertentu selain meminta maaf," ujar Yuni.


"Apa yang kak Yuni inginkan, katakan saja," ujar Vira dengan lembutnya.


"Aku datang ke sini mewakili ibu dan Yudha, meminta kamu rujuk kembali dengan adikku Yudha," ucap Yuni dengan tegas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2